15 tahun kemudian rencana pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya dihidupkan lagi oleh Preiden Jokowi pada perioden pertama tapi royek tidak jadi dilaksanakan
Jakarta – Fusilatnews – Rencana Pembangunan Kereta Cepat Jakarta – Surabaya sebenarnya muncul pertama kali dan digagas oleh Ketua BPPT pada era Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto yaitu Almarhum Profesor JB Habibie saat itu Pemerintah Orde Baru saat itu berniat menggandeng TGV dari Prancis.
Tapi proyek tersebut tak pernah terlaksana karena Orde Baru keburu jatuh dan pertanggungjawaban Presiden Habibie di Tolak oleh Sidang Umum MPR 1999 saat itu
15 tahun kemudian rencana pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Surabaya dihidupkan lagi oleh Preiden Jokowi pada perioden pertama tapi royek tidak jadi dilaksanakan
Selanjutnya pada masa jabatan periode kedua, Presiden menggandeng Cina untuk melanjutkan kereta cepat Bandung-Jakarta sampai ke Yogyakarta dan Surabaya.
Pada awal pemerintahannya, Jokowi-Jusuf Kalla pemerintah mencanangkan dua proyek kereta cepat, yakni Jakarta – Surabaya dan Jakarta Bandung. Kalla sempat menyatakan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya kerja sama dengan Jepang itu akan dilaksanakan pada 2019.
Sedihnya sampai saat ini, proyek tidak jalan dan Presiden Jokowi menghidupkan kembali rencana tersebut dengan menggandeng Pemerintah China.
Perbedaan KA Cepat China dan KA Cepat Jepang
Kereta cepat China dan Jepang memiliki beberapa perbedaan yang signifikan. Perbedaan itu mulai dari sejarah pembuatan, teknologi, hingga kecepatan yang bisa dijangkau.
Mengutip berbagai sumber, ini lima perbedaan kereta cepat China dan Jepang:
- Sejarah
Jepang lebih dahulu memiliki kereta cepat dibanding China, bahkan Jepang disebut-sebut sebagai pelopor kereta cepat di dunia. Pada tahun 1964 Negeri Sakura sudah membangun kereta cepatnya.
Pada tahun 1965 kereta cepat di Jepang beroperasi dengan panjang rute 553 km. Sementara China baru mengoperasikan kereta cepatnya pada 2008 dengan panjang rute awal 1.077 km
. 2. Panjang Rute Mengingat wilayahnya yang sangat luas, China memiliki rute kereta cepat yang lebih panjang dari Jepang.
China memiliki total panjang rute lebih dari 42. 000 km. Sementara rute kereta cepat Jepang hanya sepanjang 3.000 km.
- Desain Wajah Bisa dibilang beberapa kereta cepat di Jepang memiliki desain yang sangat menonjol, ada juga yang mengatakannya ekstrem. Pasalnya, moncong kereta cepat Jepang lebih panjang.
Sementara moncong kereta cepat China lebih “kalem”.
- Teknologi
Baik kereta Jepang dan China sama-sama menggunakan basis teknologi maglev (magnetic levitation).
Namun kedua negara terus mengembangkan teknologi kereta cepat itu. Belum lama ini China telah meluncurkan kereta peluru berkecepatan tinggi teranyarnya, yang dirancang untuk dapat melaju di suhu yang sangat dingin dengan nama CR400AF-G.
Kereta ini dapat beroperasi dengan kecepatan tinggi hingga 350 kilometer per jam, dan mampu beroperasi di suhu minus 40 derajat Celcius, dengan dioperasikan menggunakan listrik.
Sementara Jepang sukses menemukan sistem kendali dan rem otomatis yang ditingkatkan sehingga kereta bisa berhenti lebih cepat jika terjadi keadaan darurat.
Jepang mampu menciptakan teknologi yang membuat kereta cepatnya mampu mengangkut penumpang dengan aman ketika terjadi gempa bumi.
Pada 2016, Presiden Jokowi mecanangkan pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya dengan menggandeng Jepang, yang dilanjutkan dengan kesepatakan antara Jokowi dan PM Jepang Shintaro Abe pada Januari 2017.
Proyek akhirnya tidak dilanjutkan, dan pada 2024, Jokowi menghidupkan kembali rencana lama tersebut, namun dengan menggandeng China.
Jokowi mengajak China mengembangkan kereta cepat Jakarta-Surabaya dengan membangun jaringan melanjutkan proyek kereta cepa Jakarta-Bandung yang sudah rampung.
Pada rencana kerja sama dengan Jepang, kereta cepat Jakarta-Bandung akan melaju dengan kecepatan 150-200 km perjam sehingga jarak Jakarta-Surabaya ditempuh 5 jam.
Pada rencana kerja sama dengan Cina, kereta akan melaju dengan kecepatan 200-250 km per jam sehingga bisa menempuh jarak Jakarta-Surabaya hanya 3,5 jam.
Ketiga: Biaya pembangunan
Pada proyek 2019, kereta cepat Jakarta-Bandung diperkirakan menelan biaya Rp60 triliun, dengan rincian biaya pembangunan berasal dari JICA (Jepang) dan biaya pembebasan lahan dari Pemerintah Indonesia.
Pada proyek 2024, pemerintah belum menghitung biayanya. Namun Direktur Center of Economi and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menegaskan untuk melanjutkan proyek Kereta Cepat Whoosh sampai ke Surabaya setidaknya membutuhkan ongkos 4,8 kali dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Bhima membuat perhitungan dengan mengasumsikan nilai biaya per kilometer proyek KCJB Rp 790,5 miliar.
Sehingga, dengan panjang 142,3 kilometer Jakarta-Bandung maka biayanya Rp 112,5 triliun dengan kurs Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat.
Dengan demikian dengan asumsi biaya 4,8 kali lipat maka biaya pembangunan kereta cepat Jakarta – surabaya membutuhkan Rp 112,5 Triliun dikali 4,8 maka diperkirakan Rp 560 triliun.
























