• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Apa Sebab Bisa Baca, Tapi Tak Tahu Apa-Artinya?

Potret Generasi yang Nyaris Buta Makna

Ali Syarief by Ali Syarief
April 30, 2025
in Feature, Pendidikan
0
Apa Sebab Bisa Baca, Tapi Tak Tahu Apa-Artinya?
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Di sebuah ruang kelas SD negeri di pinggiran Kabupaten Cianjur, seorang guru Bahasa Indonesia membacakan kisah “Burung Pipit dan Biji Jagung”. Murid-murid mengikuti lafalnya satu per satu, suara kecil mereka terdengar lancar. Tapi ketika ditanya, “Apa pelajaran dari cerita ini?”, banyak yang terdiam. Ada yang menebak, “Jagung bisa tumbuh.” Lainnya menjawab, “Burungnya lapar.” Tak satu pun menangkap inti cerita: tentang kerja keras dan ketekunan.

“Kita menghadapi kenyataan pahit: 75 persen anak Indonesia bisa membaca, tapi tidak paham apa yang dibaca,” kata Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dan pengamat pendidikan, dalam sebuah diskusi kebangsaan, April lalu.

Bukan sekadar peringatan kosong. Pernyataan Mu’ti diperkuat data dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018: Indonesia berada di peringkat 74 dari 79 negara dalam kemampuan literasi membaca. Tujuh dari sepuluh siswa tak mencapai standar minimal dalam memahami bacaan.

“Anak-anak kita dibentuk jadi penghafal, bukan pemikir,” tegas Mu’ti. “Mereka dicekoki, bukan diajak berdialog.”


Masalahnya bukan hanya pada anak, tapi sistem. Pendidikan Indonesia cenderung menekankan hafalan dan penilaian kognitif sempit. Dalam kurikulum lama, siswa dituntut menjawab ‘apa’ dan ‘kapan’, bukan ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.

Kondisi ini coba diubah melalui Kurikulum Merdeka. Namun di lapangan, banyak guru mengaku belum siap. “Kami belum pernah benar-benar dilatih membuat soal-soal yang mengasah pemahaman,” kata Sri Wahyuni, guru SD di Majalengka. Ia mengaku siswa-siswanya cenderung hanya menghafal bacaan. “Kalau ditanya pakai kata sendiri, mereka bingung.”

Di sisi lain, budaya membaca tak tumbuh dari rumah. Anak lebih mudah menemukan ponsel daripada buku cerita. Riset Perpusnas tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 17% anak usia sekolah yang membaca buku non-pelajaran di luar tugas sekolah.


Najeela Shihab, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, menilai literasi adalah korban dari sistem yang terlalu lama mengabaikan esensi pendidikan. “Anak-anak kita tidak terbiasa bertanya. Mereka tumbuh dalam ruang yang penuh perintah,” ujarnya saat dihubungi Tempo. Ia percaya guru juga terjebak. “Kalau kita terus menilai anak dari ujian pilihan ganda, jangan heran kalau mereka belajar hanya untuk lulus, bukan untuk memahami.”

Prof. Suyanto, mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, menyoroti hal serupa. Ia menyebut bahwa penguatan literasi harus menjadi gerakan lintas kementerian. “Literasi bukan cuma tugas Kemendikbud. Ini menyangkut kementerian agama, kementerian sosial, bahkan kominfo. Literasi harus jadi agenda nasional,” kata Suyanto.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan literasi fungsional berkorelasi dengan daya saing bangsa. “Kalau anak tidak paham informasi, bagaimana mungkin mereka kelak bisa bersaing di dunia kerja atau bahkan menjadi pemilih yang cerdas?”


Di tengah krisis ini, muncul inisiatif warga yang menolak menyerah. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, komunitas literasi Rumah Baca Ambo Nai didirikan oleh pemuda-pemudi desa yang prihatin. Mereka membuka taman bacaan dan mengadakan kelas diskusi mingguan. “Anak-anak diajak bukan cuma baca, tapi diskusi dan menulis ulang cerita dengan bahasa mereka,” kata pendirinya, Fauziah, lulusan IKIP Makassar.

Hasilnya mulai tampak. Dalam satu tahun, anak-anak yang semula enggan membaca kini mulai bisa menceritakan kembali isi buku yang mereka baca. “Kuncinya bukan hanya fasilitas, tapi suasana. Anak-anak senang kalau merasa dihargai pendapatnya,” kata Fauziah.


Krisis literasi ini adalah peringatan keras: bahwa bangsa bisa punya jutaan siswa yang bisa membaca, tapi tak paham makna. Jika terus dibiarkan, generasi ini akan tumbuh dalam kabut kebodohan yang berwajah modern—bersekolah, tapi tidak tercerahkan; lulusan, tapi tak bisa membedakan fakta dan opini.

“Kalau kita gagal mendidik generasi yang memahami apa yang mereka baca,” kata Abdul Mu’ti, “kita sedang mencetak rakyat yang mudah dibohongi.”

Dan itu bukan sekadar soal pendidikan. Itu soal masa depan republik.


🧠 Mini-Profil Abdul Mu’ti

Mendiknas – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah
Lahir di Kudus, 2 September 1968, Abdul Mu’ti adalah akademisi, cendekiawan Muslim, dan tokoh pendidikan nasional. Ia meraih gelar doktor dalam bidang pendidikan dari UIN Syarif Hidayatullah dan sempat menjadi dosen tamu di sejumlah kampus luar negeri, termasuk di Amerika Serikat. Dikenal vokal dan bernas dalam isu-isu strategis pendidikan dan kebangsaan, Mu’ti kerap mengkritik sistem pendidikan yang terlalu birokratis dan minim substansi.

“Kalau kita gagal mendidik generasi yang memahami apa yang mereka baca, kita sedang mencetak rakyat yang mudah dibohongi.”


📚 Mini-Profil Najeela Shihab

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan
Putri dari pakar tafsir Prof. Quraish Shihab ini lahir di Jakarta, 11 September 1976. Berlatar belakang psikologi pendidikan, Najeela memilih jalur aktivisme sosial dengan mendirikan komunitas pendidikan yang menekankan pada kemerdekaan belajar dan keadilan pendidikan. Lewat Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), ia berusaha membangun ekosistem belajar yang berpihak pada anak dan guru. Ia dikenal luas sebagai pembicara pendidikan yang inspiratif dan kritis terhadap pendekatan satu arah dalam belajar.

“Anak-anak kita tidak terbiasa bertanya. Mereka tumbuh dalam ruang yang penuh perintah.”

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kembangkan Baterai EV, Huayou China bakal Investaskan Dana Rp 336 Triliun

Next Post

75% Anak Bisa Membaca Tanpa Mengerti, Dipimpin Gibran yang Tak Suka Membaca – Bagaimana?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda
Feature

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku
Feature

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026
Feature

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026
Next Post
Makan Bergizi Gratis: Antara Cita-Cita dan Realita – “Panggung Wapres Ditimpuki Penonton”

75% Anak Bisa Membaca Tanpa Mengerti, Dipimpin Gibran yang Tak Suka Membaca - Bagaimana?

Presiden Bersama 200.000 Massa Akan Hadiri Hari Buruh  ( Mayday ) di Monas

Presiden Bersama 200.000 Massa Akan Hadiri Hari Buruh ( Mayday ) di Monas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral
Feature

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

by Karyudi Sutajah Putra
June 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Entah siapa yang memberikan hak kepada Idrus Marham, sehingga bekas...

Read more
Rakyat Melawan!

Rakyat Melawan!

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026

Melampaui Tesis Satjipto Rahardjo

June 15, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Bayang-Bayang Luhut ke Kursi Menteri Keuangan

Rumor Reshuffle Makin Kencang, Kursi Menkeu dan Gubernur BI Dikabarkan Jadi Sasaran Perombakan Prabowo

June 15, 2026
Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

June 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist