FusilatNews – Riyadh, 7 Mei 2025 – Langit mendadak berubah jingga. Dinding debu menyapu kota-kota di wilayah tengah Arab Saudi pada Senin, 5 Mei 2025. Angin kencang membawa badai pasir menutup pandangan, melumpuhkan aktivitas, dan memicu kepanikan. Salah satu yang menjadi sorotan: bagaimana nasib jemaah haji Indonesia yang sudah mulai berdatangan ke Tanah Suci?
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa atau gangguan serius yang menimpa jemaah haji asal Indonesia akibat badai pasir tersebut. Kementerian Agama RI menyatakan terus memantau kondisi cuaca dan keselamatan para jemaah melalui tim petugas haji di Arab Saudi.
Badai terbesar itu menerjang Provinsi Al Qassim, sebuah wilayah yang tidak jauh dari jalur transit udara maupun darat menuju Makkah dan Madinah. Angin berkecepatan hingga 100 kilometer per jam membawa partikel debu tebal yang menyelimuti permukaan kota dan jalanan. Otoritas setempat langsung mengeluarkan peringatan keras agar warga—termasuk para pendatang—tidak beraktivitas di luar ruangan.
“Penerbangan sebagian tertunda, jarak pandang sangat terbatas,” ujar seorang pejabat penerbangan sipil Arab Saudi seperti dikutip dari media lokal. Aktivitas harian terganggu. Sekolah ditutup. Layanan umum terhenti.
Di tengah kabar badai, sempat muncul isu adanya gempa bumi di Arab Saudi pada 6 Mei. Namun laporan resmi membantah hal itu. Tidak ada catatan aktivitas seismik di tanggal tersebut. Gempa terakhir terjadi dua bulan lalu di Tabuk, bermagnitudo 4,2, dan tidak berdampak luas.
Meski cuaca ekstrem ini bukan hal baru di kawasan Teluk, badai pasir kali ini mencatat intensitas tinggi dan cakupan wilayah yang luas, hingga mencapai negara-negara tetangga seperti Kuwait dan Yordania. Fenomena ini diperkirakan akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim yang memperparah kekeringan dan degradasi tanah di kawasan tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jemaah untuk mengurangi aktivitas di luar penginapan dan menggunakan masker pelindung. “Keselamatan jemaah adalah prioritas,” ujar Kepala Daerah Kerja Makkah dalam pernyataan tertulis.






















