Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Beringin biasanya tumbuh besar dengan akar tunggang yang menjalar ke mana-mana. Sebab itu, pohon yang menjadi lambang sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia” ini juga digunakan sebagai lambang Partai Golkar semenjak masih bernama Golongan Karya (Golkar) di era Orde Baru hingga kini di era reformasi.
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto juga sosok dengan tubuh tinggi besar laksana Bima atau Werkudara, salah satu tokoh pewayangan dari keluarga Pandawa.
Tapi siapa sangka di tangan Airlangga justru beringin (Golkar) mengalami pembonsaian dan Menteri Koordinator Perekonomian itu pun mengalami pengerdilan?
“Bonsai” berasal dari bahasa Jepang yang artinya tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Penanaman (sai) dilakukan di pot dangkal yang disebut “bon”, sehingga kemudian disebut bonsai.
Airlangga dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019 ditetapkan sebagai calon presiden untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Sayangnya, dari hari ke hari elektabilitas Airlangga tak kunjung terkerek, bahkan hingga saat ini ketika partai-partai lain sudah menetapkan capres.
PDI Perjuangan, misalnya, mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai capres pada 21 April lalu di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemudian ikut mendukung pencapresan Gubernur Jawa Tengah itu.
Sebelumnya, Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan, saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, sebagai capres pada 3 Oktober 2022. Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kemudian mendukungnya.
Sebelumnya lagi, Rapat Pimpinan Nasional (Rapinas) Partai Gerindra pada Agustus 2022 lalu menetapkan ketua umumnya, Prabowo Subianto sebagai capres untuk Pilpres 2024. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kemudian mendukungnya.
Mungkin karena merasa elektabilitasnya tidak memadahi maka Airlangga melakukan lobi-lobi politik ke sana kemari, zig-zag, bahkan laiknya bermain akrobat.
Airlangga pun bersafari ke Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh yang sudah jelas-jelas mengusung Anies Baswedan sebagai capres. Airlangga juga bersafari ke Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mendukung pencapresan Anies.
Airlangga juga bersafari ke Partai Gerindra dan bertemu dengan Prabowo Subianto yang sudah paten menjadi capres. Pun, bersafari ke mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang sudah jelas-jelas mendukung pencapresan Anies.
Airlangga juga bertemu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang jelas-jelas mau menjadi calon wakil presiden (cawapres) bagi Prabowo.
Di pihak lain, Airlangga juga hadir dalam pertemuan enam ketua umum partai koalisi pendukung pemerintah dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/5/2023). Keenam ketua umum partai yang hadir adalah Megawati Soekarnoputri (PDIP), Prabowo Subianto (Gerindra), Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), Zulkifli Hasan (Partai Amanat Nasional/PAN) dan Muhammad Mardiono (PPP). PDIP dan PPP merupakan parpol pengusung dan pendukung Ganjar sebagai capres untuk Pilpres 2024.
Lobi zig-zag Airlangga ini dilakukan untuk menawarkan diri sebagai cawapres bagi siapa pun capres: Ganjar, Prabowo atau Anies. Golkar adalah parpol dengan ideologi karya-kekaryaan sehingga dari waktu ke waktu selalu berada di dalam pemerintahan, siapa pun presidennya.
Namun, Airlangga agaknya sadar bahwa elektabilitasnya jongkok, sehingga ia tak segan-segan untuk “mengkhianati” keputusan Munas Golkar 2019 yang menetapkannya sebagai capres. Airlangga mau turun derajat menjadi cawapres karena ia realistis sekaligus pragmatis. Dan politik memang demikian.
Gayung Tak Bersambut
Tapi, tampaknya gayung tak bersambut. Golkar dan Airlangga bertepuk sebelah tangan. Golkar memang juara tiga dalam Pemilu 2019 setelah PDIP dan Gerindra. Tapi elektabilitas Airlangga yang tak kunjung terkatrol adalah realita yang menjadi pertimbangan utama partai-partai untuk tidak mudah menerima Airlangga sebagai cawapres.
Diketahui, elektabilitas personal adalah senjata pamungkas dalam pilpres. Bahkan parpol bisa mendapatkan “coat tail affect” atau efek ekor jas di pemilu dari elektabilitas capres di pilpres. Sebut saja SBY dan Demokrat di Pilpres 2004 dan 2009.
Pada 2024 nanti, pemilu legislatif dan pilpres akan dibersamakan sebagaimana tahun 2014 dan 2019, yakni pada 14 Februari.
Kini, terbukti Golkar telah mengalami pembonsaian dan Airlangga pun mengalami pengerdilan. Yang lebih menyakitkan adalah pernyataan Ketua DPP PKB Faisol Riza. Ketua Tim Pemenangan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin ini usai bertemu Ketua Tim Pemenangan Airlangga Hartarto, Nusron Wahid di Senayan, Jakarta, Rabu (10/5/2023), menawarkan kepada Airlangga untuk menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Muhaimin, karena PKB akan mengajukan ketua umumnya itu sebagai cawapres bagi Prabowo.
Faisol Riza menyatakan, posisi Airlangga sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Muhaimin akan strategis dan menarik sebagaimana Erick Thohir menjadi Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo-Ma”ruf Amin di Pilpes 2019 lalu yang kemudian mendapat “hadiah” kursi Menteri BUMN.
Bagaimana bisa seorang Airlangga yang pernah menjadi Menteri Perindustrian dan kini Menko Perekonomian diiming-imingi jabatan menteri? Benar-benar mengerdilkan!
PKB meskipun peroleham suaranya jauh lebih rendah daripada Golkar ternyata berani membonsai partai beringin dan mengerdilkan Airlangga yang fisiknya sebenarnya tinggi besar seperti Bima, jauh lebih besar daripada Cak Imin. Padahal dalam berbagai survei cawapres, elektabilitas Cak Imin ternyata juga 11-12 dengan Airlangga. Perolehan suara PKB pun di bawah Golkar dari pemilu ke pemilu.
Langkah PKB yang ikut-ikutan membonsai partai beringin dan mengerdilkan ketua umumnya, Airlangga Hartarto ini barangkali dipicu oleh langkah-langkah Airlangga sendiri yang kurang percaya diri, atau mungkin juga realistis dan sadar diri bahwa elektabilitasnya tidak mencukupi.
Kalau Airlangga dan Golkar sendiri tidak percaya diri, bagaimana orang dan partai lain mau percaya? Jangan salah, selama reformasi Golkar pernah menjuarai Pemilu 2004 dan selebihnya berada di tiga besar.
Pada Pemilu 2004, Golkar mendapatkan 21,57 persen suara atau 127 kursi DPR RI. Pada Pemilu 2009, Golkar mendapat 19,2 persen suara atau 107 kursi. Pada Pemilu 2014, Golkar meraih 16,3 persen suara atau 91 kursi. Pada Pemilu 2014, partai beringin ini meraih 14,75 persen suara atau 91 kursi. Pada Pemilu 2019, Golkar beroleh 14,8 persen suara atau 85 kursi.
Sayangnya, di Golkar tak ada tokoh kharismatik semacam Megawati di PDIP atau SBY di Demokrat, sehingga ketika mengusung capres dari internalnya sendiri atau dari hasil konvensi partai, selalu kalah di pilpres. Jusuf Kalla dua kali terpilih menjadi wapres (2004 dan 2014) bukan maju dari Golkar.
Alhasil, ketika Golkar mengalami pembonsaian dan Airlangga Hartarto mengalami pengerdilan, hal itu wajar karena Golkar dan Airlangga telah membonsai dan mengerdilkan diri-sendiri melalui sikapnya yang kurang percaya diri. Padahal Golkar juara tiga Pemilu 2019.
Kalau kurang percaya diri, bagaimana bisa rakyat pemilih mau memilih Golkar dan Airlangga Hartarto? Pasca-Pemilu 2024, kondisi Golkar diyakini akan lebih terbonsai lagi. Semoga ini tidak terjadi!
























