Tel Aviv, Israel – Sebuah papan reklame raksasa yang terpampang di salah satu jalan utama Tel Aviv menarik perhatian publik sejak awal pekan ini. Billboard tersebut menampilkan slogan mencolok: “The Abraham Alliance, New Middle East”, yang diterjemahkan sebagai “Aliansi Abraham, Timur Tengah Baru.”
Meski tidak disertai dengan logo resmi atau informasi pengiklan, pesan pada papan iklan itu memunculkan spekulasi luas terkait arah geopolitik baru di kawasan Timur Tengah, khususnya menyangkut kelanjutan Abraham Accords—kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara Arab yang dimulai pada tahun 2020.
Kemunculan frasa “Abraham Alliance” dinilai oleh beberapa pengamat sebagai sinyal koalisi baru yang melibatkan negara-negara yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Istilah ini juga menimbulkan dugaan akan adanya upaya memperkuat kerja sama keamanan dan ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan regional, terutama pascakonflik Gaza yang kembali menghangat sejak Oktober 2023.
Profesor politik Timur Tengah dari Universitas Tel Aviv, Dr. Yossi Ben-Ami, mengatakan bahwa billboard ini kemungkinan bagian dari kampanye opini publik yang bertujuan untuk membentuk narasi baru tentang Timur Tengah yang lebih terintegrasi. “Ini bukan sekadar iklan. Ini bisa jadi bagian dari soft power untuk mengajak masyarakat melihat Timur Tengah dari lensa kerja sama, bukan konflik,” ujarnya.
Namun di sisi lain, sejumlah aktivis dan kelompok pro-Palestina mengecam slogan tersebut sebagai bentuk propaganda yang menutupi ketidakadilan yang masih terjadi terhadap rakyat Palestina. Mereka menilai “Aliansi Abraham” lebih banyak menguntungkan elite politik dan industri senjata daripada rakyat di kawasan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel atau otoritas setempat terkait siapa yang memasang papan reklame tersebut dan apa maksud dari kampanye visual itu.
Kemunculan billboard ini menjadi menarik karena muncul di tengah dinamika politik yang rumit, baik di dalam negeri Israel maupun dalam hubungan lintas negara di Timur Tengah. Apakah ini akan menjadi awal dari fase baru diplomasi kawasan, atau hanya sekadar manuver komunikasi politik belaka, masih menjadi pertanyaan besar.


























