Oleh: Karyudi Sutajah Putra
Jakarta – Mencengangkan. Bobibos melampaui ekspektasi. Dalam uji resmi di Lemigas, angka oktan Bobibos tembus hingga 98,1, jauh di atas perkiraan awal yang hanya di kisaran RON 92. Artinya, kualitas Bobibos melampaui bahan bakar premium.
Bobibos, atau panjangnya Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, dikembangkan dari jerami melalui proses biokimia lima tahap menggunakan mesin ekstraksi buatan sendiri. Produk ini diklaim menghasilkan pembakaran lebih efisien dan nyaris tanpa emisi.
Bobibos resmi diluncurkan pada 2 November 2025. Penemu Bobibos, Muhammad Ikhlas Thamrin menyatakan visi utama Bobibos adalah menjadikan bahan bakar ramah lingkungan yang mudah diakses oleh siapa pun, tanpa terbatas pada segmen tertentu.
Pertanyaannya, maukah bos-bos mafia minyak menggunkan Bobibos, minimal tidak menjegalnya?
Pertanyaan tersebut patut dilontarkan. Sebab masalah yang kita hadapi selama ini adalah soal kemauan, bukan kemampuan.
Kemampuan kita sebenarnya tak jelek-jelek amat. Bahkan ada yang sejajar dan melampaui kemampuan bangsa-bangsa lain. Tapi untuk mendapatkan hak paten, tidaklah mudah. Kalau sudah ada hak paten, tak mudah pula untuk memproduksinya. Salah-salah malah bisa dikriminalisasi. Sudah banyak contohnya. Stem sel salah satunya.
Begitu pun terkait pencapaian. Tak semua pencapaian diapresiasi. Bahkan tidak jarang dijegal.
Dus, apa pun kemampuan kita, temuan atau pencapaian kita, kalau tidak menguntungkan, apalagi mengganggu bahkan mengancam kepentingan bos-bos mafia, entah mafia minyak, mafia pangan atau mafia lainnya, akan terkubur begitu saja.
Contohnya swasembada beras. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dicapai. Bahkan Indonesia pernah mencapainya. Tapi karena kepentingan bos-bos mafia pangan terganggu, maka dikondisikan sedemikian rupa agar kita tidak bisa mencapai swasembada beras. Kelangkaan pupuk salah satunya.
Ironis, memang. Indonesia adalah negara agraris. Tongkat kayu dan batu bahkan bisa tumbuh jadi tanaman. Bagaimana bisa beras harus impor? Kedelai harus impor? Gandum harus impor?
Begitu pun bahan-bahan pangan lainnya. Garam, misalnya. Indonesia adalah negara maritim. Indonesia bahkan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Bagaimana bisa sekadar garam saja harus impor? Ironis, bukan?
Sekali lagi, jika Indonesia swasembada pangan, maka itu akan mengancam periuk nasi mafia pangan. Mereka adalah pemburu rente impor bahan pangan.
Kini, ketika muncul Bobibos, kepentingan bos-bos mafia minyak pun terancam.
Akankah Bobibos ini jadi diproduksi massal? Akankah SPBU-SPBU Bobibos jadi dibangun di berbagai wilayah di Indonesia?
Semoga temuan brilian anak bangsa ini tidak menguap begitu saja gegara mafia.

























