Oleh: Ali Syarief
Setiap kali berlangsung Piala Dunia, ada satu pemandangan yang hampir selalu menarik perhatian dunia. Ketika pertandingan usai dan sebagian besar penonton bergegas meninggalkan stadion, sekelompok suporter Jepang justru tetap bertahan. Mereka memunguti sampah, mengumpulkan botol plastik, melipat kantong makanan, dan membersihkan area tempat mereka duduk.
Media internasional berkali-kali menampilkan pemandangan itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Banyak orang menganggapnya sebagai bentuk kedisiplinan yang unik. Namun sesungguhnya, apa yang dilakukan para suporter Jepang bukanlah tindakan heroik. Bagi mereka, itu hanyalah kebiasaan sehari-hari.
Untuk memahami fenomena tersebut, kita harus melihat lebih dalam ke akar budaya Jepang.
Di Jepang, kebersihan bukan sekadar urusan petugas kebersihan. Kebersihan adalah bagian dari pendidikan karakter. Sejak usia dini, anak-anak Jepang diajarkan untuk membersihkan lingkungan mereka sendiri. Di sebagian besar sekolah Jepang, tidak ada petugas kebersihan yang bertugas membersihkan ruang kelas setiap hari. Para siswa melakukannya sendiri.
Setelah pelajaran selesai, murid-murid menyapu lantai, mengelap meja, membersihkan toilet, hingga mengumpulkan sampah. Kegiatan ini dikenal sebagai soji, sebuah tradisi pendidikan yang bertujuan menanamkan tanggung jawab terhadap lingkungan dan rasa hormat terhadap ruang bersama.
Anak-anak Jepang tumbuh dengan pemahaman bahwa tempat yang mereka gunakan adalah tanggung jawab mereka sendiri. Mereka tidak diajarkan untuk bertanya, “Siapa yang akan membersihkan?” tetapi “Apa yang harus saya bersihkan?”
Prinsip ini kemudian terbawa hingga dewasa.
Di jalan-jalan kota Tokyo, Osaka, atau Kyoto, kita akan menemukan sesuatu yang mungkin terasa aneh bagi banyak wisatawan: tempat sampah umum sangat jarang. Namun jalanan tetap bersih.
Mengapa?
Karena masyarakat Jepang terbiasa membawa pulang sampah mereka sendiri. Mereka tidak menganggap membuang sampah sembarangan sebagai pilihan. Bahkan ketika tidak ada tempat sampah di sekitar, mereka akan menyimpan sampah tersebut sampai menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya.
Budaya ini berakar pada nilai yang dikenal sebagai meiwaku wo kakenai, yaitu prinsip untuk tidak merepotkan atau mengganggu orang lain. Membuang sampah sembarangan dianggap sebagai tindakan yang merepotkan masyarakat dan menciptakan beban bagi orang lain.
Dalam masyarakat Jepang, rasa malu sosial sering kali menjadi pengawas yang lebih kuat daripada aturan hukum.
Itulah sebabnya kebersihan di Jepang tidak hanya terlihat di stadion sepak bola. Kebersihan hadir di stasiun kereta, taman kota, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga lingkungan perumahan.
Banyak orang mengira Jepang bersih karena pemerintahnya hebat. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Jepang bersih karena masyarakatnya merasa memiliki ruang publik.
Mereka tidak melihat taman kota sebagai milik pemerintah, melainkan milik bersama. Mereka tidak melihat trotoar sebagai fasilitas negara semata, melainkan bagian dari lingkungan yang harus dijaga.
Perbedaan cara pandang ini sangat penting.
Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, masyarakat sering menuntut pemerintah menjaga kebersihan. Tuntutan itu tidak salah. Namun sering kali tanggung jawab pribadi terlupakan. Kita menunggu petugas datang membersihkan sampah yang sebenarnya kita buang sendiri.
Di Jepang, logikanya di balik. Masyarakat terlebih dahulu menjaga kebersihan, kemudian pemerintah mendukung dengan sistem yang baik.
Karena itulah, fenomena suporter Jepang membersihkan stadion sesungguhnya bukanlah berita besar bagi orang Jepang. Yang dianggap luar biasa justru reaksi dunia yang begitu kagum terhadap sesuatu yang bagi mereka merupakan perilaku normal.
Pelajaran terbesar yang bisa dipetik dari Jepang bukanlah cara memungut sampah di stadion. Pelajaran sesungguhnya adalah bagaimana membangun kesadaran bahwa ruang publik adalah milik bersama.
Sebuah bangsa tidak menjadi bersih karena banyak petugas kebersihan. Sebuah bangsa menjadi bersih ketika setiap warganya merasa bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan yang mereka gunakan.
Jepang tidak membangun budaya bersih dalam semalam. Ia dibangun melalui pendidikan, keteladanan, kebiasaan, dan disiplin yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika kita melihat suporter Jepang memunguti sampah setelah pertandingan sepak bola, sesungguhnya kita tidak sedang melihat aksi sukarela biasa.
Kita sedang melihat hasil dari pendidikan karakter yang telah berlangsung puluhan tahun.
Dan mungkin, itulah pertandingan yang sebenarnya telah dimenangkan Jepang jauh sebelum peluit kick-off dibunyikan.






















