Fusilatnews – Dari balik kaca kendaraan yang melaju di jalur lintas Sumatera, Bukit Barisan tampak hijau—tetapi bukan hijau yang dulu diajarkan di bangku sekolah dasar. Tidak lagi rimbun oleh hutan hujan tropis yang sambung-menyambung, melainkan hijau seragam kebun sawit yang membentang sejauh mata memandang. Inilah Bukit Barisan hari ini: berdiri tegak secara geografis, tetapi runtuh secara ekologis.
Bagi generasi yang tumbuh dengan buku pelajaran IPS dan Geografi, Bukit Barisan adalah tulang punggung alam Sumatera. Pegunungan panjang yang membelah pulau, rumah bagi hutan primer, satwa endemik, dan sumber air bagi jutaan manusia. Ia digambarkan sebagai benteng alami—bukan hanya lanskap, melainkan sistem kehidupan.
Namun, kenyataan di lapangan bergerak ke arah yang berbeda.
Dalam dua dekade terakhir, perubahan wajah Bukit Barisan berlangsung senyap tetapi masif. Kawasan yang dahulu merupakan hutan rakyat, hutan adat, dan ruang hidup komunal, perlahan beralih fungsi. Dari ekosistem menjadi areal konsesi. Dari milik bersama menjadi milik perseorangan atau korporasi. Proses ini sering kali dilegalkan melalui izin, tetapi meninggalkan jejak konflik di tingkat tapak.
Di banyak wilayah Sumatera, sawit menjelma menjadi penanda zaman. Ia hadir atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Jalan dibuka, hutan ditebang, dan narasi kesejahteraan dikumandangkan. Tetapi di balik itu, muncul pertanyaan yang terus berulang: siapa yang benar-benar menikmati hasilnya?
Bagi sebagian masyarakat lokal, perubahan itu justru berarti kehilangan. Lahan yang dulu menjadi sumber pangan, kayu, obat-obatan, dan air bersih, berubah menjadi area terbatas. Akses menyempit. Ketergantungan meningkat. Konflik lahan menjadi cerita sehari-hari—antara warga dengan perusahaan, atau bahkan antarwarga sendiri.
Secara ekologis, dampaknya tak kalah serius. Hilangnya tutupan hutan di kawasan Bukit Barisan memperbesar risiko banjir dan longsor. Satwa kehilangan habitat. Mata air mengering. Siklus alam terganggu. Yang tersisa hanyalah bentang alam yang tampak hijau, tetapi rapuh.
Ironisnya, semua ini terjadi di kawasan yang sejak lama dikenal sebagai kawasan strategis lingkungan. Negara hadir bukan sebagai penjaga terakhir hutan, melainkan sering kali sebagai pemberi legitimasi atas alih fungsi. Hukum bekerja di atas dokumen, sementara keadilan ekologis tertinggal di lapangan.
Bukit Barisan pun mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi dipahami sebagai ruang hidup lintas generasi, melainkan sebagai aset ekonomi jangka pendek. Yang dihitung adalah produktivitas, bukan keberlanjutan. Yang dikejar adalah ekspansi, bukan keseimbangan.
Padahal, bagi masyarakat Sumatera, Bukit Barisan bukan sekadar pegunungan. Ia adalah ingatan kolektif. Ia adalah pelajaran sekolah. Ia adalah identitas ruang yang membentuk cara hidup dan cara berpikir.
Kini, ingatan itu diuji.
Ketika anak-anak melintasi Bukit Barisan hari ini, mereka mungkin tidak lagi melihat hutan seperti yang tertulis di buku pelajaran. Yang mereka lihat adalah kebun-kebun luas dengan pagar kepemilikan. Dan kelak, ketika mereka bertanya ke mana perginya hutan itu, jawabannya barangkali sederhana, tetapi menyakitkan: hutan milik rakyat telah berubah fungsi dan kepemilikan—menjadi milik seseorang.
Bukit Barisan masih ada. Tetapi pertanyaannya bukan lagi di mana, melainkan untuk siapa.
Catatan :
Berikut adalah data kehutanan dan sawit terkini yang dapat memperkuat feature jurnalistik Anda tentang perubahan wajah Bukit Barisan:
🌳 1. Penurunan Tutupan Hutan di Sumatera
Menurut Kementerian Kehutanan RI, luas hutan di Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 95,5 juta hektar, atau hanya 51,1% dari total daratan, dengan deforestasi netto sebesar 175.437 hektar.
Di Sumatera secara khusus, deforestasi terus terjadi. Statistik terbaru menunjukkan 78.030 hektar deforestasi hutan netto di Sumatera pada 2024—sekitar 44% dari total deforestasi nasional. Provinsi seperti Riau, Aceh, Jambi, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi kontributor terbesar angka ini. Perpustakaan DPR RI
Laporan pemetaan independen menunjukkan bahwa dari 2001 hingga 2024, Sumatera telah kehilangan sekitar 4,4 juta hektar tutupan pohon, yang setara dengan area lebih besar dari negara seperti Swiss. Reuters
🌴 2. Peran Sawit dalam Alih Fungsi Lahan
Komunitas lingkungan seperti Walhi memperkirakan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu penyebab krusial hilangnya hutan, dengan sekitar 3,2 juta hektar lahan telah berubah akibat ekspansi sawit skala besar di berbagai wilayah. Lestari
Dalam satu analisis, data Kementerian Kehutanan 2024 menunjukkan bahwa dari 91.248 hektar deforestasi di Sumatera pada 2024, lebih dari sepertiganya sekitar 37.483 hektar dikonversi menjadi kebun sawit—menandakan peran besar komoditas ini dalam perubahan lanskap hutan. TIMES Indonesia
📈 3. Tren Jangka Panjang
Analisis ilmiah menunjukkan bahwa antara 2001–2019, Indonesia kehilangan lebih dari 9,7 juta hektar hutan, dan di Sumatera sendiri hilang lebih dari 4 juta hektar hutan—sekitar **25% dari total kawasan hutan pulau itu. Sebagian besar lahan yang hilang ini dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan pupuk industri kayu. PMC
💡 4. Dampak Lingkungan
Hilangnya hutan dan alih fungsi lahan yang masif telah dikaitkan dengan peningkatan kerawanan bencana di Sumatera, termasuk banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025—fenomena yang dipicu oleh kerusakan ekosistem di hulu sungai akibat deforestasi. TIMES Indonesia+1


























