FusilatNews- Bupati Kepulauan Meranti M. Adil mendapat sorotan. Hal itu lantaran menyebut Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebagai iblis dan setan dalam Rapat Koordinasi Nasional Optimalisasi Pendapatan Daerah, di Pekanbaru, Riau, pada Kamis (8/12/2022).
Bupati Meranti M Adil menyebut pegawai Kemenkeu berisi iblis dan setan pada Direktur Perimbangan Keuangan Kemenkeu Lucky Alfirman. Pertanyaan itu ia lemparkan saat koordinasi Pengelolaan Pendapatan Belanja Daerah di Pekanbaru, Kamis (9/12).
Adil awalnya kesal karena merasa tidak mendapat kejelasan terkait DBH yang mestinya diterima. Ia menilai Meranti layak mendapat DBH dengan hitungan US$ 100 per barel. Namun, menurutnya, pada 2022 ini DBH yang diterima hanya Rp114 miliar dengan hitungan US$60/barel. Ia mendesak Kemenkeu agar DBH yang diterima menggunakan hitungan US$100 per barel pada 2023 mendatang.
Namun, saat rapat bersama Kemenkeu, Adil mengaku tidak bisa menyampaikan keluhannya.
Adil juga mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk bisa bertemu dengan pejabat Kemenkeu yang menangani hal tersebut. Bahkan, dia sampai menyurati Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk melakukan audiensi secara langsung, namun dari pihak Kemenkeu menawarkan untuk melakukan pertemuan secara online.
Dalam pertemuan melalui Zoom, Adil menjelaskan pihak Kemenkeu tidak bisa menyampaikan secara rinci dan jelas. Namun setelah didesak, barulah dijelaskan bahwa perhitungan harga minyak menggunakan asumsi 100 dolar per barel.
“Kemarin waktu zoom dengan Kemenkeu tidak bisa menyampaikan dengan terang. Didesak, desak, desak barulah menyampaikan dengan terang bahwa 100 dollar/barel,” ucapnya.
“Sampai ke Bandung saya kejar Kemenkeu, juga tidak dihadiri oleh yang kompeten. Itu yang hadiri waktu itu entah staf atau apalah. Sampe pada waktu itu saya ngomong ‘Ini orang keuangan isinya ini iblis atau setan’,” katanya dilansir dari detikcom.
Adil yang sempat bersitegang dengan Gubernur Syamsuar mengaku protes itu bukan tanpa alasan. Sebab, Kepulauan Meranti adalah daerah termiskin di Riau saat ini.
“Ini untuk pak Lucky ketahui, kami di Riau ini 25,68 persen miskin plus ekstrem. Miskin terbanyak itu di Meranti, tetapi kok teganya minyak kami, duit kami tidak diberikan. Bagaimana cara penghitungannya yang pas, hampir 8000 barel/d mulai bulan Juni semenjak konflik Rusia,” katanya.
Bahkan Adil mengaku pendapatan DBH tahun ini hanya Rp 700 juta saja. Padahal, dia menilai hasil minyak yang digarap pemerintah pusat naik drastis.
“Tahun ini kami menerima cuma Rp 115 miliar, naiknya cuma Rp 700 juta saja. Ligting naik, asumsi 1000 barel/dollar lah kok naiknya cuma Rp 700 juta, ini untuk diketahui,” pungkasnya.
























