Oleh : Damai Hari Lubis
Dasar keyakinan publik ini, terkait siapa yang ideal menjadi Cawapres dari Prabowo. Begitu banyaknya kesan publik, terkait perihal adanya “obstruksi hukum oleh Jokowi melalui oknum-oknum papan atas di institusi atau lembaga penegakan hukum”, terhadap perkara yang melibatkan beberapa pejabat tinggi yang ada di Kabinet Indonesia Maju, diantaranya mereka para petinggi partai politik. Alhasil oleh karenanya, dari aspek analisa dan pengamatan politik, akan melahirkan kesulitan bagi Prabowo Subianto, yang bersiteguh untuk melanjutkan status quo atau “Gaya Kepemimpinan serta agenda Jokowi” diametral untuk dapat mengalahkan seorang Tokoh Pembaharu, Anies Baswedan, atau meraih kursi RI- 1.
Sosok Anies adalah pribadi yang bangsa ini berharap besar padanya, akan dapat membawa perubahan dari “kejenuhan serta kemuakan” yang dirasakan oleh sebagian besar mayoritas bangsa ini, sebagai produk dari tingkah polah, dari banyak aspek dan sisi tinjauan terhadap rezim kontemporer ini.
Jika pun Prabowo, berharap kesempatan meraih RI- 1, bukan sosok Muhaimin Iskandar sebagai pilihan Cawapres bagi dirinya, karena Muhaimin adalah salah seorang petinggi partai yang terindikasi mendapat “jasa obstruksi” hukum dari Jokowi, dalam “kasus Kardus Durian”.
Tidak juga Airlangga Hartarto, atau Zulkifli Hassan, yang menurut berita dari berbagai media sosial elektronik, publik punya keyakinan ada indikasi “mereka terpapar” korupsi. Selain temuan kasus terhadap Soeharso Monoarfa, yang kini gigi taringnya sudah tumpul, karena ketokohannya di Partai PPP, sudah lama tergerus, dan dampak kabar, bahwa Partai PPP, yang pernah Ia pimpin akan diduduki oleh Sandiaga Uno. Maka implikasinya tentu Jokowi akan mudah menjewer daun telinga Muhaimin dan beserta kawan-kawan, lalu “menyeretnya kepangkuan” Megawati.
Maka siasah Prabowo mesti brillian. Ia harus berusaha mengambil langkah teknik politik jitu dan akurat serta spektakuler, melalui Against Politic atau Kontra Politik kepada Jokowi sebagai orang kuat dalam Pilpres 2024.
Langkah kontra politik ini sebagai bentuk psychological pressure of choice, atau sebagai tekanan psikologi bagi pribadi Jokowi yang akan menjadi sebuah alternatif pilihan politik. Ini setidaknya bisa menjadi harapan Prabowo sebagai seorang Capres di 2024 untuk mendapatkan buah manis dalam bentuk konstituen atau suara perolehan yang siginifikan di Pemilu Pilpres dari kubu yang akan Jokowi dukung dan tentunya untuk mengalahkan rival terkuat kontestan pilpres 2024, yaitu dua sosok figur Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Sehingga Prabowo, setidaknya dapat lolos pada putaran kedua kontestan di Pilpres 2024.
Asumsi politik ini didasarkan kepada gejala-gejala, fenomena realitas, dari aspek sosial dan geopolitik dipantau dari berbagai dinamika politik tanah air yang cukup telanjang, khususnya untuk garis politik Jokowi yang melahirkan perubahan dukungan, dari yang sebelumnya secara publis men-support Capres Prabowo yang didukung oleh koalisi partai-partai, yakni, Gerindra, Golkar, PAN, PKB dan PPP (Koalisi gemuk), justru kini Jokowi berada disebelah Ganjar Pranowo selaku petugas partai yang telah dinobatkan sebagai Capres 2024 oleh Megawati selaku Ketua Umum PDIP. di Batu Tulis Bogor, tepat pada hari raya Iedul Fitri 1444. H./ Tertanggal, 22 April, 2023.
Maka asumsi gejala politik yang ada berikut segala kaitan dari sisi dan kepentingan Kelompok Muhajid 212 (Terbatas analisa sebagai Pengamat), melahirkan prediksi dalam bentuk perspektif politik, Prabowo harus menemukan inisiasi langkah politik secara super ekstra politik, brillian serta spektakuler demi mendapatkan perolehan suara yang signifikan, untuk dirinya di pilpres 2024. Maka salah satu langkah politik yang cukup ideal bagi Prabowo, jika kiranya dapat mencomot tokoh publik diantara seorang dari beberapa sosok populer bangsa ini, dan punya hubungan privasi secara direk kepada Presiden Jokowi, yakni Iriana Jokowi, atau Gibran Rakabuming atau pun Kaesang Pangarep untuk bakal Cawapres Prabowo Subianto di pilpres 2024.























