China mencatat penurunan populasi untuk pertama kalinya dalam 60 tahun. Dari data yang ada, diprediksi penurunan itu akan terus terjadi selama 30 tahun ke depan.
Salah satu yang menjadi penyebab menurunnya populasi di China adalah banyaknya generasi muda yang tidak memiliki rencana untuk memiliki anak. Padahal, pemerintah telah menawarkan berbagai insentif bagi kaum muda untuk berkeluarga dan memiliki lebih banyak anak.
Dikutip CNBC Dalam pemberitaan media resmi China, Global Times, Biro Statistik Nasional China mengumumkan tingkat kelahiran pada tahun 2020 tercatat 8,52 per 1.000 orang.
Selain itu, badan resmi pemerintah itu mencatat bahwa tingkat pertumbuhan alami populasi menyumbang 1,45 per 1.000, nilai terendah dalam 43 tahun.
Mengutip The Strait Times yang melansir Bloomberg, tak ada alasan langsung mengapa angka kelahiran turun.
Namun, angka-angka baru mengkonfirmasi pertumbuhan populasi di ekonomi nomor dua dunia itu melambat secara dramatis, bahkan diperkirakan akan semakin turun, sebagaimana ditegaskan sejumlah pejabat sejak Juli 2021.
Sementara itu, beberapa pakar demografi menyebut bahwa hal ini diakibatkan oleh rendahnya wanita yang menginginkan kehamilan.
Pada Oktober lalu, Liga Pemuda Komunis China mengeluarkan publikasi yang mencatat hampir setengah atau 50% dari wanita muda yang tinggal di perkotaan negeri itu enggan menikah.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan keengganan untuk menikah ini. Mulai dari tak punya waktu hingga biaya keuangan pernikahan dan beban ekonomi memiliki anak.
“Mereka yang disurvei mengatakan tidak punya waktu atau energi untuk menikah,” kata laporan tersebut.
Sepertiga responden juga mengatakan mereka tidak percaya pada pernikahan. Bahkan dalam persentase yang sama, mereka juga mengatakan tidak pernah jatuh cinta.
Dari seluruh alasan itu, ada juga satu alasan terkait kultur bekerja 9-9-6. Budaya ini adalah posisi bekerja di mana warga bekerja 9 pagi sampai 9 malam, enam hari seminggu.
Alasan yang Membuat Mereka Ogah Punya Anak
Dikutip dari laman DW, para generasi muda memiliki pandangan pesimistik tentang masa depan. Hal ini terlihat dari perubahan sikap mereka terhadap pernikahan dan keluarga.
“Kaum muda di China umumnya merasa masa depannya suram dan hidup akan penuh tekanan,” beber Emma Li, seorang wanita berusia 25 tahun yang tinggai di Shanghai, China, dikutip dari DW, Minggu (29/1/2023).
“Punya anak adalah sebuah pilihan yang akan menambah stres dalam hidup. Banyak dari kita yang memutuskan untuk menjadi ‘generasi terakhir’ dalam keluarga kita,” lanjutnya.
Emma Li juga mengungkapkan pendapatnya tentang berita statistik terkait penurunan populasi di negaranya. Menurutnya, itu tidak akan mengubah pandangannya tentang keluarga.
“Saya telah berdiskusi tentang pernikahan dan memiliki anak dengan banyak teman saya, dan banyak dari mereka tidak punya keinginan untuk mengikuti cara tradisional,” jelas Emma Li.
Apa yang Menghalangi Kaum Muda Berkeluarga?
Warga China yang lain mulai mengungkap hal-hal yang menghalangi mereka untuk bisa berkeluarga. Misalnya seperti gaya hidup yang penuh tekanan dan tuntutan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jam kerja yang panjang, pekerjaan yang tidak memuaskan, dan tekanan untuk bertahan hidup dengan upah rendah selama inflasi membuat kami tidak mungkin membesarkan anak,” kata Cynthia Liu, wanita berusia 27 tahun yang tinggal di Beijing, China.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menjelaskan, suatu negara idealnya memiliki angka Total Fertility Rate (TFR) pada angka 2.
“Kalau angka fertility rate kurang dari 2, penduduk itu akan cenderung minus growth, cenderung berkurang,” jelas Hasto kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/1/2023).
Hasto mengungkapkan, negara akan sustain atau bertahan, jika angka kelahiran pada perempuan melahirkan satu anak perempuan.
“Karena kalau anaknya dua, itu hampir bisa dipastikan satu perempuan melahirkan satu anak perempuan juga. Tapi kalau anaknya cuma satu, belum tentu melahirkan anak perempuan,” tuturnya.
“Padahal negara akan sustain jumlah penduduknya, kalau satu perempuan digantikan oleh satu perempuan,” kata Hasto lagi.
Indonesia sendiri saat ini angka fertility rate-nya telah mencapai 2,1. Masih banyak ketimpangan di banyak daerah, yang angka fertility rate-nya bahkan menyentuh angka 3.
Hasto memberikan contoh, misalnya saja di Papua yang angka fertility rate mendekati 3. Kemudian di Nusa Tenggara Timur angka fertility rate yakni pada rentang 2,7 hingga 2,8.
Sementara di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, angka fertility rate masing-masing 2,5 dan 2,6.
“Masih banyak (daerah) yang hamil secara terus menerus. Secara nasional (angka fertility rate) belum merata. Tapi rata-rata secara nasional sudah 2,1,” ujar Hasto.
Hasto sendiri tidak setuju dengan adanya istilah resesi seks. Hasto, lebih menerima adanya istilah child free atau keengganan pasangan yang sudah menikah untuk memiliki anak.
Oleh karena itu, menurut Hasto kemungkinan yang ada dan bisa terjadi adalah resesi untuk fertilitas.
Pun, resesi fertilitas juga sangat kecil kemungkinannya terjadi di Indonesia. Data BKKBN menunjukkan, dalam setahun terdapat 2 juta pasangan yang menikah di Indonesia.
Selain itu juga, jumlah bayi yang dilahirkan sebanyak 4,8 juta jiwa dalam satu tahun. “Jadi, 80% orang yang menikah di Indonesia itu adalah hamil pada tahun pertama. Karena semua yang menikah itu beramai-ramai ingin hamil di Indonesia,” jelas Hasto.
Sementara 20% lainnya, berdasarkan statistik BKKBN kata Hasto bukan tidak mau hamil, tapi karena beberapa pasangan tidak bisa hamil karena ada gangguan fertilitas. “Itu kenyataan di negara kita.”
“Negara kita jauh dari isu child free, resesi seks. Indonesia jauh. Mungkin bisa 50 tahun lagi atau lebih, setelah ada perubahan paradigma. Sampai hari ini belum ada perubahan,” jelas Hasto.
Hasto menegaskan bahwa, sebagian besar pernikahan yang terjadi Indonesia bertujuan untuk pro-kreasi, bukan untuk sekedar rekreasi dan security.
Istilah prokreasi yakni hubungan suami istri yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan sebagai generasi penerus.
Sementara rekreasi hanya semata untuk mendapatkan hubungan seks yang aman dan security hanya menikah untuk mendapatkan keamanan.
“Makanya budaya kita itu kalau Idul Fitri, manten baru belum hamil itu, waduh gak enak itu. Ditanya terus itu, udah isi belum. Dan itu terjadi secara statistik, 80% pasangan menikah hamil pada tahun pertama,” tuturnya.

























