Fusilatnews – Dalam ajaran Islam, fase hidup manusia itu jelas. Ada masa berjuang, ada masa memimpin, dan ada masa bersiap pulang. Ketika usia menua, jabatan selesai, dan tubuh memberi isyarat, Islam tidak menyuruh seseorang memperluas pengaruh—tetapi memperdalam amal.
Orientasinya satu: husnul khotimah.
Artinya sederhana tapi berat: menutup hidup dengan kebaikan. Memperbanyak amal saleh. Menyisakan jejak yang bermanfaat. Membangun jariyah yang mengalir bahkan setelah jasad dikubur. Dan—yang paling fundamental—mensholehkan anak-anaknya, bukan mengorbitkan mereka ke tampuk kekuasaan.
Namun yang kita saksikan pada Jokowi justru sebaliknya.
Alih-alih menyiapkan bekal akhirat, ia tampak sibuk mengatur panggung dunia. Alih-alih memperbanyak amal sunyi, ia memilih hiruk-pikuk politik. Alih-alih membimbing anak-anaknya menjadi pribadi yang berjarak dari kekuasaan, ia justru mati-matian membela mereka agar berkuasa.
Dalam Islam, ini bukan sekadar salah langkah.
Ini salah orientasi.
Nabi tidak pernah mewariskan kekuasaan kepada anaknya. Para khalifah besar tidak mengarahkan putra-putrinya untuk menggantikan tahta. Bahkan Umar bin Khattab—yang kekuasaannya jauh lebih besar dari Jokowi—menarik anaknya sendiri dari lingkaran istimewa negara.
Karena dalam pandangan Islam, kekuasaan adalah ujian, bukan warisan.
Dan anak adalah amanah, bukan proyek politik.
Maka ketika seorang ayah menggunakan seluruh sisa pengaruhnya untuk membuka jalan kekuasaan bagi anaknya, yang dipertaruhkan bukan sekadar etika publik—tetapi nilai keimanan itu sendiri.
Sebab Islam tidak mengajarkan:
“Pastikan anakmu berkuasa.”
Islam mengajarkan:
“Pastikan anakmu selamat.”
Selamat akhlaknya.
Selamat imannya.
Selamat dari fitnah jabatan.
Tetapi Jokowi memilih jalan yang paling berisiko: menyeret anak-anaknya ke pusat badai kekuasaan, lalu membela mereka dengan seluruh tenaga negara, jaringan, dan pengaruh yang ia miliki.
Di titik ini, sulit menolak kesimpulan pahit:
otaknya bekerja tanpa panduan nilai agama.
Bukan berarti ia tidak beragama secara administratif.
Tetapi secara orientasi hidup, ia tampak jauh dari spirit Islam itu sendiri.
Karena orang yang benar-benar memikirkan husnul khotimah akan bertanya:
“Apa yang tersisa dariku jika jabatan dicabut?”
Sedangkan Jokowi justru bertanya:
“Bagaimana caranya agar pengaruhku tetap hidup meski aku tak lagi berkuasa?”
Itu bukan logika orang yang sedang bersiap pulang.
Itu logika orang yang tak rela turun dari dunia.
Dalam Islam, ambisi dunia yang dibawa sampai usia senja bukan tanda kekuatan—melainkan tanda kegelisahan batin. Dan kegelisahan semacam itu biasanya lahir ketika iman gagal menjadi kompas, lalu digantikan oleh nafsu kuasa yang menyamar sebagai “demi anak”.
Padahal, membela anak agar berkuasa bukanlah amal jariyah.
Itu justru bisa menjadi amal yang memberatkan hisab.
Sejarah Islam penuh dengan peringatan tentang pemimpin yang gagal membaca akhir hidupnya. Dan Jokowi, sayangnya, tampak sedang berjalan ke arah itu: sibuk menata panggung dunia, sambil lupa bahwa panggung terakhir tidak memerlukan tepuk tangan politik—melainkan catatan amal.
Di sanalah nanti, semua pidato berhenti.
Semua kekuasaan runtuh.
Dan yang ditanya bukan: siapa anakmu—
tetapi: apa yang kau lakukan ketika kau punya kuasa?


























