• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

BERDIKARI ATAU SEKADAR SLOGAN: MENGUJI MAKNA “BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI”

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
February 5, 2026
in Feature, Komunitas
0
PETANI PADI: PROFESI MULIA YANG TERLUPA
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Ketika diberi amanah memimpin organisasi petani sekelas Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) selama dua periode kepemimpinan, Prabowo Subianto dikenal cukup konsisten mengumandangkan gagasan “berdiri di atas kaki sendiri”. Hampir di setiap kesempatan, ia menegaskan bahwa bangsa ini tidak boleh menggantungkan hidup dan masa depannya pada bangsa lain.

Jika dicermati dari sisi filosofis, berdiri di atas kaki sendiri bermakna kemandirian, otonomi, dan tanggung jawab atas diri sendiri. Ia mencerminkan kemampuan individu—dan bangsa—untuk mengandalkan kekuatannya sendiri, tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak lain. Sikap inilah yang sejatinya merupakan karakter dasar bangsa besar, dan patut dijadikan fondasi utama dalam membangun Indonesia.

Istilah berdiri di atas kaki sendiri, atau yang kerap disingkat berdikari, juga dapat dimaknai sebagai kemampuan hidup mandiri, mencukupi kebutuhan sendiri, serta tidak menggantungkan nasib pada bantuan pihak luar. Di dalamnya terkandung nilai tanggung jawab pribadi, inisiatif, dan kemauan bekerja keras dalam menghadapi tantangan hidup.

Secara lebih rinci, makna berdiri di atas kaki sendiri mencakup beberapa poin utama.
Pertama, mandiri secara ekonomi, yakni mampu menghidupi diri sendiri tanpa sikap meminta-minta.
Kedua, tanggung jawab pribadi, berani mengambil keputusan sekaligus menanggung risikonya.
Ketiga, tidak bergantung, tidak selalu mengandalkan orang lain dalam menentukan arah hidup.
Keempat, berdikari dalam pengertian Bung Karno, yakni kemampuan bangsa untuk berdiri mandiri, terutama di bidang ekonomi.
Kelima, kekuatan karakter, membangun kepercayaan diri dan ketangguhan mental sebagai bangsa.

Dari berbagai pemikiran tersebut, dapat ditegaskan bahwa berdiri di atas kaki sendiri tidak identik dengan menolak kerja sama atau menutup diri dari dunia luar. Maknanya justru terletak pada kemampuan mengandalkan kekuatan sendiri saat dibutuhkan, tanpa kehilangan jati diri dan kedaulatan. Inilah kebutuhan esensial bagi bangsa yang benar-benar merdeka.

Kini, setelah Prabowo Subianto mendapat mandat rakyat untuk memimpin Indonesia periode 2024–2029, gagasan berdikari kembali sering digaungkan. Presiden Prabowo ingin bangsa ini terbebas dari bayang-bayang pemikiran dan tekanan bangsa lain yang berpotensi melemahkan kekuatan nasional. Ia mendorong Indonesia untuk percaya pada kapasitasnya sendiri.

Dari kemampuan berdiri di atas kaki sendiri inilah lahir bangsa yang merdeka, lahir dan batin. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menentukan arah dan tujuannya sendiri—bebas menentukan nasibnya, tidak bergantung pada bangsa lain, serta memiliki kedaulatan penuh atas wilayah dan pemerintahannya.

Sejumlah pakar kebangsaan bahkan menegaskan bahwa bangsa merdeka adalah bangsa yang berdaulat penuh, bebas dari penjajahan, penindasan, dan intervensi asing dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Kemerdekaan mencakup kebebasan menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial, serta memiliki martabat setara sebagai subjek hukum internasional.

Secara lebih mendalam, makna bangsa merdeka mencakup beberapa unsur penting:
berdaulat secara penuh atas wilayahnya;
bebas dari kolonialisme dan intervensi asing;
mandiri dalam mengatur pemerintahan dan mengelola sumber daya alamnya.

Namun kemerdekaan tidak berhenti pada aspek fisik dan struktural. Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa merdeka juga berarti berpikir dan berkarya secara bebas dan bertanggung jawab. Berpikir merdeka adalah kemampuan menggunakan akal sehat secara mandiri, kritis, dan rasional, tanpa tekanan dogma, intimidasi, atau kepentingan tersembunyi.

Berpikir merdeka menuntut keberanian untuk bertanya, menganalisis, serta mengaktualisasikan diri secara bertanggung jawab—bukan sekadar patuh buta. Di dalamnya terkandung sikap kritis, kebebasan dari tekanan, dan pijakan etika agar kebebasan tidak berubah menjadi kebablasan.

Konsep inilah yang kemudian menjadi dasar “belajar merdeka”, yakni keyakinan bahwa manusia diberi kebebasan oleh Tuhan untuk berdaulat atas pikirannya sendiri. Dampaknya adalah lahirnya pemikiran yang inovatif, jujur, adil, serta mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.

Pada titik inilah muncul pertanyaan kritis: apa contoh konkret bangsa yang benar-benar merdeka dalam kehidupan sehari-hari? Ataukah gagasan kemerdekaan dan berdikari selama ini hanya berhenti sebagai omon-omon di podium kekuasaan?

Jawabannya sebetulnya sederhana namun menuntut konsistensi. Bangsa yang merdeka tercermin dari keberanian menggunakan produk dalam negeri, menghargai keputusan sendiri tanpa mudah didikte pihak luar, berpartisipasi aktif dalam demokrasi, serta menaati hukum dan aturan yang dibuatnya sendiri.

Sejatinya, kemampuan berdiri di atas kaki sendiri merupakan syarat mutlak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka tidak cukup hanya dirayakan dalam pidato dan slogan. Yang jauh lebih penting adalah penerapannya secara nyata di lapangan.

Catat: berdikari bukan jargon, melainkan kewajiban sejarah.

(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PANEN RAYA BUKAN SEKADAR SEREMONI: UJIAN KEBERPIHAKAN HKTI KEPADA PETANI

Next Post

Eksaminasi Yudisial sebagai Instrumen Pencarian Kebenaran Materiil dalam Proses Peradilan Pidana

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Perseteruan Raja Jawa vs Roy Suryo dan Ketidakakuran Kasunanan Surakarta vs Kasultanan Yogyakarta
Crime

Bila Ijazah Asli;Roy CS Terancam Penjara 9 Bulan – Bila Palsu; Jokowi Terancam 10 Tahun

February 13, 2026
Next Post
Penegak Hukum Didesak Tidak Tajam Ke Lawan Penguasa, Tumpul ke Sekutu Penguasa

Eksaminasi Yudisial sebagai Instrumen Pencarian Kebenaran Materiil dalam Proses Peradilan Pidana

Tuhan Tidak Pernah Lengah

Tuhan Tidak Pernah Lengah

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

Fenomena Langka Abad Ini: Gerhana Matahari Terpanjang Akan Mengubah Siang Menjadi Malam

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...