Oleh : Magdalena Bartoszek
Saya seorang Kristen. Tetapi Al-Qur’an bukan kitab yang asing bagi saya. Sejak masa remaja, saya tumbuh bersama teman-teman Muslim—berdiskusi, berdebat, saling menguji iman, dan pada akhirnya belajar bahwa kebenaran tidak pernah hidup dalam ruang yang sempit. Dari situlah saya mengenal satu hal: keadilan Tuhan tidak eksklusif, ia lintas iman.
Salah satu ayat favorit saya justru datang dari Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 42. Ayat ini singkat, tapi mengguncang siapa pun yang merasa hidupnya aman dari konsekuensi.
“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak.”
Ayat ini tidak berbicara tentang hukuman yang tergesa-gesa. Ia tidak menawarkan kepuasan instan bagi mereka yang lapar akan pembalasan. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan bagi para pelaku kezaliman: penundaan.
Dalam banyak tradisi iman—termasuk Kristen—penundaan sering disalahartikan sebagai pembiaran. Ketika seorang penguasa korup tetap berkuasa, ketika penjahat hidup mewah tanpa tersentuh hukum, ketika ketidakadilan seolah menjadi sistem, manusia bertanya: Di mana Tuhan?
Surah Ibrahim menjawabnya tanpa emosi, tanpa retorika: Tuhan sedang mengamati.
Penundaan bukan tanda kelemahan ilahi, melainkan bentuk keadilan yang paling teliti. Tuhan tidak bereaksi seperti manusia—emosional, tergesa, dan sering salah sasaran. Ia memberi waktu, bukan untuk membebaskan pelaku, tetapi untuk menumpuk bukti atas kesombongan mereka sendiri. Waktu justru menjadi saksi yang memberatkan.
Ayat ini juga menyentil satu ilusi terbesar manusia modern: ilusi lolos. Di era politik transaksional, hukum yang bisa dibeli, dan opini publik yang mudah dialihkan, banyak orang berkuasa percaya bahwa kejahatan bisa dihapus dengan narasi. Bahwa sejarah bisa ditulis ulang. Bahwa ingatan kolektif bisa dipadamkan.
Al-Qur’an, lewat ayat ini, menertawakan ilusi itu dengan dingin.
“Hari ketika mata mereka terbelalak.”
Bukan karena kebenaran datang tiba-tiba. Tapi karena selama ini mereka menolak melihatnya.
Sebagai seorang Kristen, saya menemukan resonansi yang kuat di sini. Dalam Injil pun, keadilan Tuhan tidak selalu hadir cepat, tapi selalu tepat. Yang berbeda hanya bahasa. Substansinya sama: tidak ada kejahatan yang benar-benar hilang. Ia hanya menunggu giliran untuk dihadapkan pada terang.
Mungkin inilah titik temu iman-iman besar: keyakinan bahwa sejarah bukan milik para zalim. Mereka mungkin menulis babnya dengan tinta kekuasaan, tapi epilog selalu ditulis oleh keadilan.
Dan keadilan, seperti Tuhan, tidak pernah lengah.
Ia hanya menunggu.


























