By Paman BED
Ketika Fokus Terbelah
Siang itu, konsentrasi seorang auditor sedikit terganggu.
Pikirannya terbelah dua.
Di hadapannya, proses Berita Acara Permintaan Keterangan (BAPK) terhadap seorang terduga pelaku penyimpangan ketentuan perusahaan belum juga rampung.
Setiap pertanyaan harus disusun dengan hati-hati.
Setiap jawaban harus dicatat dengan presisi.
Dalam dunia audit, detail sering menjadi pembeda antara kebenaran dan manipulasi.
Namun di tengah proses itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
Pesannya pendek, tetapi mendesak.
Ia diminta segera pulang. Asisten rumah tangganya tiba-tiba muntah darah dan membutuhkan pertolongan cepat.
Tanpa banyak pilihan, auditor itu memutuskan untuk menghentikan sementara proses pemeriksaan. Ia meminta maaf kepada pihak yang diperiksa dan berjanji akan melanjutkan BAPK keesokan hari.
Tanggung jawab profesional memang penting.
Namun nyawa manusia jauh lebih mendesak.
Ia segera pulang.
Kepulangan yang Membingungkan
Sesampainya di rumah, ART yang dimaksud ternyata sudah tidak ada.
Auditor menduga ia telah dibawa ke rumah sakit. Namun ART lain yang masih tinggal di rumah memberi jawaban yang mengejutkan.
Rekannya itu tidak pergi ke rumah sakit.
Ia pulang kampung.
Alasannya sederhana sekaligus membuat auditor tertegun: ayahnya meyakini muntah darah itu bukan penyakit biasa, melainkan gangguan yang bersifat supranatural.
Auditor terdiam beberapa saat.
Ia bingung. Ia juga kecewa.
Dalam pikirannya, jika seseorang muntah darah, langkah pertama tentu adalah membawa ke dokter, melakukan pemeriksaan medis, rontgen paru-paru, atau tes laboratorium.
Diagnosis rasional harus selalu didahulukan.
Namun keyakinan keluarga ART itu berbeda.
Kejadian yang Terasa Janggal
Sebenarnya, satu peristiwa aneh telah terjadi sehari sebelumnya.
Pagi hari, sebelum berangkat salat Subuh ke masjid, auditor melihat genangan cairan berwarna merah di carport rumahnya—tepat di depan rolling door garasi.
Sekilas cairan itu tampak seperti oli mobil.
Namun warnanya tidak hitam seperti oli pada umumnya.
Warnanya merah.
Merah seperti darah.
Yang membuatnya semakin janggal, genangan itu berada di sisi kanan dekat roda mobil, bukan di bawah mesin. Secara logika mekanis, jika oli bocor, genangan biasanya berada tepat di bawah mesin.
Ia sempat memeriksa sekilas.
Namun karena tidak menemukan penjelasan yang jelas, ia menganggapnya sebagai hal sepele.
Barangkali hanya cairan yang terbawa dari luar.
Keanehan yang Berulang
Keesokan harinya, sebelum azan Subuh berkumandang, genangan merah itu muncul lagi.
Namun kali ini bukan di luar.
Melainkan di dalam garasi.
Posisinya tepat di depan pintu yang mengarah ke dalam rumah.
Seolah-olah bergerak semakin mendekat ke ruang tinggal keluarga.
Auditor mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Tetapi ia tetap berusaha berpikir rasional.
Mungkin ada cairan dari kendaraan.
Mungkin ada penjelasan teknis yang belum ia temukan.
Namun siang harinya, kejadian muntah darah pada ART terjadi.
Tiga peristiwa berurutan.
Genangan merah.
Genangan merah lagi.
Lalu muntah darah.
Antara Logika dan Ketidaktahuan
Auditor tetap bersikeras: semua harus dijelaskan secara medis.
Ia meminta agar ART tersebut diperiksa oleh dokter. Dirontgen paru-parunya. Dicek kondisi organ dalamnya. Apa pun yang bisa mengungkap penyebabnya secara rasional.
Namun hasil pemeriksaan medis justru menyatakan sesuatu yang membingungkan.
ART itu sehat.
Paru-parunya bersih.
Tidak ada luka dalam.
Tidak ada temuan penyakit serius.
Sementara dari kampung datang kabar lain.
Keluarga mereka berkonsultasi dengan seseorang yang mereka percayai memiliki kemampuan spiritual. Menurutnya, kejadian itu disebut sebagai “salah sasaran.”
Auditor tidak mempercayai penjelasan tersebut.
Namun ia juga tidak memiliki jawaban lain.
Ketika Pengetahuan Menemui Batasnya
Di titik seperti ini, manusia sering dihadapkan pada kenyataan yang sederhana sekaligus sulit diterima:
Pengetahuan manusia memiliki batas.
Dalam profesinya sebagai auditor, ia terbiasa mencari bukti.
Setiap angka harus punya dokumen.
Setiap transaksi harus punya jejak.
Namun malam itu ia menyadari satu hal:
Tidak semua peristiwa di dunia selalu menyediakan bukti yang bisa diaudit manusia.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra: 85)
Ayat ini tidak mengajak manusia meninggalkan rasionalitas. Islam justru memuliakan ilmu dan akal.
Namun ia juga mengingatkan bahwa tidak semua realitas berada sepenuhnya dalam jangkauan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan untuk membenarkan setiap cerita mistik.
Namun ia mengingatkan bahwa dunia yang kita jalani tidak sepenuhnya hanya terdiri dari apa yang dapat kita lihat.
Ada wilayah yang tetap menjadi misteri.
Antara Ikhtiar dan Doa
Islam memberi pedoman yang jelas ketika manusia menghadapi peristiwa yang tidak ia pahami.
Langkah pertama tetap ikhtiar rasional.
Berobat.
Memeriksa medis.
Mencari penjelasan ilmiah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berobatlah kalian, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya, iman tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan usaha.
Namun setelah semua usaha dilakukan, manusia diajarkan untuk berserah diri kepada Allah.
Karena pada akhirnya, perlindungan paling kuat bukan pada logika manusia, tetapi pada kekuasaan Allah.
Al-Qur’an menegaskan:
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”
(QS. Al-An’am: 17)
Doa sebagai Benteng
Auditor itu akhirnya memilih satu sikap yang sederhana.
Ia berdoa.
Ia memohon perlindungan Allah bagi dirinya dan keluarganya.
Ia membaca ayat-ayat perlindungan dalam Al-Qur’an:
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.”
(QS. Al-Falaq: 1–2)
Dan juga:
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi.”
(QS. An-Nas: 1–4)
Dalam Islam, doa bukan sekadar ritual.
Ia adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah memiliki kekuasaan tanpa batas.
Misteri yang Tidak Selalu Terjawab
Sampai hari ini, auditor itu tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah genangan merah itu hanya kebetulan?
Apakah muntah darah itu fenomena medis yang belum terdeteksi?
Ataukah memang ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika manusia?
Tidak ada jawaban pasti.
Namun satu hal yang ia yakini:
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah: 20)
Dalam dunia audit, bukti adalah segalanya.
Namun dalam kehidupan, ada saat ketika manusia harus menerima satu kenyataan:
Tidak semua yang nyata selalu dapat dibuktikan.
Penutup: Integritas di Tengah Misteri
Kisah ini bukan untuk mengajak kita mempercayai setiap hal yang berbau mistik.
Justru sebaliknya.
Ia mengingatkan tiga hal penting.
Pertama, rasionalitas harus tetap menjadi pijakan utama.
Setiap penyakit harus diperiksa secara medis. Setiap peristiwa harus dianalisis secara logis.
Kedua, manusia perlu rendah hati terhadap keterbatasan pengetahuannya.
Tidak semua hal di dunia dapat segera dijelaskan oleh akal.
Ketiga, perlindungan spiritual tetap penting.
Doa, zikir, dan kedekatan kepada Allah adalah benteng yang menenangkan hati ketika manusia menghadapi hal-hal yang tidak ia pahami.
Dalam kehidupan, mungkin kita tidak selalu mendapatkan jawaban.
Namun selama kita berusaha dengan akal, menjaga integritas hidup, dan bersandar kepada Allah, kita tidak pernah benar-benar sendirian.
Tidak ada ruang ketakutan bagi seorang auditor—
Kecuali takut mengkhianati amanah yang diembannya.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari niat jahat manusia yang lalai, dari iri dengki, dari dendam yang tersembunyi, dan dari segala keburukan yang tidak terlihat oleh mata.
Aamiin.
By Paman BED


















