Jakarta.–Transparansi dan kejujuran adalah dua kualitas yang jarang ditemukan dalam dunia politik, namun Anies Baswedan, Gubernur Jakarta, telah membuktikan bahwa keduanya dapat diwujudkan dalam kepemimpinannya. Di bawah arahannya, Jakarta tidak hanya menjadi ibu kota yang lebih modern, tetapi juga lebih manusiawi. Anies berhasil membangun infrastruktur yang tidak hanya fisik, tetapi juga sosial, dengan proyek-proyek seperti Jakarta International Stadium (JIS), revitalisasi kawasan-kawasan kumuh, serta kebijakan-kebijakan ramah lingkungan yang memperhatikan kesejahteraan warganya. Keberhasilannya sangat jelas, terlihat dan dirasakan oleh banyak orang. Jakarta yang ia pimpin telah menjadi contoh keberhasilan kepemimpinan yang transparan, membanggakan, dan nyata hasilnya bagi bangsa Indonesia.
Namun, di tengah keberhasilan Anies, muncul sebuah keputusan yang menggelitik nalar: menggantikan Anies dengan Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Sebuah logika yang, bagi banyak orang, tampak berbalik dari akal sehat. Ridwan Kamil mungkin dikenal sebagai sosok yang populer, dengan gaya yang lebih santai dan media-savvy, namun ketika kita berbicara tentang prestasi konkret, terutama terkait dengan kepemimpinan di Jakarta, pertanyaan besar muncul: apa yang sebenarnya telah ia capai di Jawa Barat? Dan bagaimana hal itu bisa relevan dengan tantangan yang dihadapi Jakarta?
Kontradiksi antara Anies dan Ridwan Kamil menjadi semakin mencolok ketika kita melihat rekam jejak masing-masing. Anies, dengan segudang prestasi yang nyata, telah menunjukkan bahwa ia mengerti kompleksitas Jakarta—sebuah kota megapolitan dengan segala dinamika dan tantangannya. Ia berhasil menata ulang tata ruang, memperbaiki transportasi umum, dan meningkatkan kualitas hidup warganya. Sedangkan Ridwan Kamil, meskipun memiliki sejumlah proyek infrastruktur di Jawa Barat, sering kali disorot karena kebijakan yang belum sepenuhnya menyentuh akar masalah di provinsi tersebut. Program-program yang ia gagas terkesan lebih kosmetik dibandingkan dengan pendekatan substansial yang diambil oleh Anies di Jakarta.
Lebih dari itu, Ridwan Kamil belum pernah menghadapi tantangan sebesar dan sekompleks Jakarta. Urusan tata kelola perkotaan dengan skala dan intensitas seperti di Jakarta sangat berbeda dengan Jawa Barat. Ridwan Kamil mungkin memahami bagaimana membangun taman atau menciptakan ikon-ikon kota, tetapi apakah ia siap untuk menangani masalah-masalah mendalam seperti kemacetan, banjir, atau ketimpangan sosial yang menjadi tantangan utama di Jakarta?
Logika yang terbalik ini, di mana seorang pemimpin yang telah terbukti kemampuannya digantikan oleh seseorang yang prestasinya tidak jelas, menunjukkan sebuah pola pikir yang bisa disebut sebagai logika jahilyah. Ini adalah logika yang tidak mempertimbangkan realitas dan kebutuhan yang sebenarnya, tetapi lebih didorong oleh popularitas semu atau kalkulasi politik jangka pendek. Pemilihan Ridwan Kamil sebagai pengganti Anies di Jakarta bukan hanya merupakan sebuah kesalahan dalam memilih pemimpin, tetapi juga cerminan dari kegagalan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Jakarta dan warganya.
Dalam kesimpulannya, keputusan untuk menggantikan Anies Baswedan dengan Ridwan Kamil adalah sebuah langkah yang tidak hanya menantang logika, tetapi juga merugikan masa depan Jakarta. Anies adalah pemimpin yang telah menunjukkan hasil nyata, sementara Ridwan Kamil adalah sosok yang masih harus membuktikan dirinya, terutama dalam konteks Jakarta yang jauh lebih kompleks. Logika yang membalikkan kenyataan ini, mengabaikan bukti dan prestasi nyata demi sesuatu yang belum terbukti, adalah logika yang tidak sejalan dengan akal sehat. Ini adalah logika jahilyah, yang lebih mementingkan penampilan daripada substansi, dan popularitas daripada kemampuan nyata.
























