David korban penganiayaan Mario Dandy Satriyo mengalami Diffuse Axonal Injury (DAI)..
Jakarta – Fusilatnews – Anggota Bidang Cyber dan Media PP GP Ansor Ahmad mengungkapkan David korban penganiayaan Mario Dandy Satriyo mengalami Diffuse Axonal Injury (DAI).
Kasus penganiayaan terhadap David (17) yang merupakan anak salah satu petinggi GP Ansor menjadi heboh di media sosial dan sekarang sedang ditangani oleh kepolisian.
Menurut Dokter bedah tulang, Asa Ibrahim dalam penjelasan singkat di akun twitternya
@asaibrahim. Dia menjelaskan Diffuse Axonal Injury (DAI) termasuk cedera kepala yang parah.
Ini terjadi saat ada benturan benda tumpul yang sangat keras atau high energy injury pada kepala.
“Jadi sistem saraf kita itu punya unit fungsional terkecil yang namanya neuron. Bagiannya ada macam-macam. Pada DAI yang cedera adalah axon-nya, bagian dari sel saraf yang berfungsi menghubungkan sel saraf satu sama lain, ada lebih dari 16 miliar neuron di otak kita,” jelasnya.
Diffuse Axonal Injury (DAI) tidak terjadi jika tidak ada benturan yang luar biasa keras pada kepala yang menyebabkan puntiran, tarikan atau gerak akselerasi-deselerasi yang berat pada kepala, yang menyebabkan robekan pada axon dalam jumlah yang besar dan acak atau diffuse.
“Otak dan tubuh kita berfungsi saat ada koneksi antar neuron atau saraf yag bermiliar-miliar itu satu sama lain. Kesadaran, gerakan, berpikir, melihat, bicara, emosi, empati dan sebagainya semua karena ada hubungan antar saraf.
Kalau axon-nya rusak secara luas, bagaimana dampaknya?,” tulis Asa. “DAI memiliki dampak yang sangat variatif terhadap fungsi otak penderitanya. Semakin luas semakin parah. Semakin berat benturannya semakin parah. Banyak yang bisa hilang kesadaran, sulit berpikir, lumpuh, sulit bicara, emosi tidak stabil, tidak bisa melihat atau mendengar, sulit berpikir dan sebagainya,” sambung Asa.
Dia menjelaskan Diffuse Axonal Injury (DAI) berbeda dengan kasus orang patah tulang atau usus robek.
Namun, berbeda dengan kasus Diffuse Axonal Injury (DAI). Masalah utama pada kasus Diffuse Axonal Injury (DAI), terapinya adalah suportif atau mendukung saja.
“Dengan oksigen, obat-obatan, pokoknya gimana caranya enggak jadi tambah parah,” katanya.
Pada kasus akut atau awal kejadian sampai beberapa hari, target pengobatan yang paling utama adalah mempertahankan kondisi otak dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut (secondary brain injury).
Jadi cederanya bukan hanya saat benturan, tapi sangat mungkin setelahnya juga akibat hipoksia atau hipertensi cranial.
Jadi cederanya bukan hanya saat benturan, tapi sangat mungkin setelahnya juga akibat hipoksia atau hipertensi cranial.
“Jika sudah melalui fase akut/awal, penderita sudah membaik dan kesadarannya insyaallah bisa membaik, fokus utama adalah mengembalikan fungsinya dengan proses fisioterapi dan rehabilitasi.
Ini tergantung fungsi apa yang kena dan separah apa,” ungkapnya.
Dia melanjutkan terapi yang dilakukan mulai dari belajar lagi menggerakkan tubuh, bicara, berpikir, fungsi sehari-hari seperti belajar makan, pakai baju, buang air dan fungsi sehari-hari lainnya yang sangat mungkin terdampak.
Tidak lupa juga belajar untuk mengendalikan emosi dan bersikap (karena sangat sering kena juga),” jelasnya






















