Oleh: Johan Murod Babelionia SH SIP MM, Deklarator Dewan Pemuda Bangka Belitung.
Jakarta – Datuk dari segala datuk, yaitu Datuk Seri Emron Pangkapi membentuk tim ekspedisi yang terdiri dari para tokoh Presidium Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tokoh masyarakat Bangka Belitung, dan para pejabat PT Timah Tbk seperti M Rizki, Dicky Senorita, M Wirtsa Firdaus dan lain-lain. Ikut juga Irjen Pol (Purn) Rum Murkal, mantan Kapolda Kepulauan Bangka Belitung.
Tim ekspedisi mengarungi berbagai sungai di Pulau Bangka untuk diinventarisir guna dijadikan objek wisata arung sungai, wisata sejarah dan lain-lain karena dengan melakukan arung sungai maka sekalian napak tilas jejak sejarah Perang Depati Bahren dan Perang Depati Amir.
Sungai yang berhasil diarungi dalam waktu yang berbeda adalah Sungai Selan, Sungai Menduk, dan Sungai Batu Rusa. Di sisi Sungai Batu Rusa, kami menyebutnya “The River of Deer Stone”, kami ziarah ke makam Depati Bahren. Sedangkan Depati Amir, makam beliau di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena beliau setelah perang melawan Belanda hampir tiga tahun diasingkan di Kupang.
Ternyata dengan melakukan ekspedisi mengarungi beberapa sungai tersebut, termasuk Sungai Menduk yang hilirnya di Kota Kapur dan bermuara di Selat Bangka, membuat semangat kami bangkit kembali memperjuangkan Depati Amir menjadi Pahlawan Nasional. Alhamdulillah, setelah diperjuangkan 14 tahun lamanya sejak 2004, pada 18 November 2018 Depati Amir dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah RI.
Di kafe “Yooo Ngopi” semasa memperjuangkan Depati Amir menjadi Pahlawan Nasional, penulis dengan Ali Usman mengkaji buku sejarah yang ada tulisan berbahasa Jerman oleh mahasiswi yang menginap di rumah Zamhari. Mahasiswi asal Jerman dalam program pertukaran pemuda itu menterjemahkan sejarah Depati Bahren dan Depati Amir ke dalam bahasa Jerman.
Depati dalam masa senggang selalu mengarungi Sungai Batu Rusa dan melihat buaya, monyet, burung dan lain-lain. Buku sejarah tersebut hingga saat ini disimpan di Museum Leiden, Belanda.
Perjalanan penulis dengan M Wirtsa Firdaus menuju Desa Aek Anyer, 20 menit dari Kota Pangkalpinang ke markas pembinaan generasi muda yang leader-nya adalah Zamzani, pemuda progresif binaan alm Eko Maulana Ali, Bupati Bangka dua priode dan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung dua priode. Di sini, ada berbagai fasilitas seperti perpustakaan, studio musik tradisional gambus, pertukangan kayu, pelatihan pertanian, budidaya perikanan dan lain-lain.
Kehadiran penulis dengan M Wirtsa Firdaus melihat tongkat kayu Pelawan yang kayu Pelawan-nya kami ambil dari Gunung Menumbing, yang sebelumnya kalau penulis bikin tongkat kayu Pelawan harus dikirim ke Jepara, ternyata di Aek Anyer tukang bikin tongkat kayu Pelawan lebih hebat, sehingga program angkat derajat kayu Pelawan dari kayu bakar menjadi tongkat sovenir dan lain-lain akan menjadi kenyataan.
Zamzani presentasi programnya yang ingin menjadikan Sungai Batu Rusa yang mengaliri beberapa desa mulai dari Gunung Maras hingga masuk Sungai Pangkal Balam, Kota Pangkalpinang, yang tentu saja akan memajukan perdaban masyarakat Desa Batu Rusa dan masyarakat Aek Anyer dan akan memajukan pariwisata kawasan ini secara revolusioner.
Sesampainya di tepi Sungai Batu Rusa, Ketua Adat Desa Batu Rusa Datuk Iswanto sudah menunggu kami di rumah adat yang akan menjadi pusat kegiatan Desa Adat dan Desa Wisata Sungai Batu Rusa.
Datuk Iswanto pun menceritakan legenda Tiga Akek (Akek adalah orang sakti di Kepulauan Bangka Belitung). Legenda tentang keberadaan Sungai Batu Rusa berawal dari tiga Akek yang menebang rotan di Gunung Maras kemudian membawanya dengan menyeret rotan tersebut ke Pangkal Balam. Karena dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lama maka terbentuklah Sungai Batu Rusa yang panjangnya sekitar 60 kilometer dengan lebar 300 meter dan kedalaman bervariasi hingga 11 meter.
Cerita fakta sejarah Depati Amir di Sungai Batu Rusa dan legenda tiga Akek pengambil rotan serta keindahan Sungai Batu Rusa tentu sangat menarik untuk diarungi bagaikan mengarungi Sungai Amazon yang sebenarnya enam tahun lalu dalam ekspedisi tim Datuk Emron Pangkapi sudah tercetus ide tersebut, dan oleh pemuda progresif Zamzani binaan alm Eko Maulana Ali dan sekarang binaan M Wirtsa Firdaus, maka akan terealisasi. Terlebih lagi jika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mau survei ke Sungai Batu Rusa, maka dalam sekejap akan menjadi Desa Adat dan Desa Wisata sekitar Sungai Batu Rusa.
Ada makna di balik perjalanan penulis bahwa PT Timah Tbk melalui M Wirtsa Firdaus sangat peduli terhadap perkembangan budaya, adat dan peradaban serta pariwisata untuk kesejahteraan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung.
Kita berdoa semoga proyek pengembangan Desa Adat dan Desa Wisata Sungai Batu Rusa terlaksana dengan cepat. Insyaallah, amin.




















