• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dengan Soeharto Saja Berani, Apalagi Jokowi: Prabowo Jadi Brutus?

fusilat by fusilat
July 12, 2024
in Feature, Pojok KSP, Politik
0
Menyongsong Era Kepresidenan Baru: Apakah Akan Muncul Militerisme?
Share on FacebookShare on Twitter

Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, Fusilatnews – Presiden Joko Widodo, diakui atau tidak telah terbukti mendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Segala daya dikerahkan, segala cara ditempuh Jokowi, termasuk membagikan bantuan sosial (bansos) secara masif yang anggarannya mencapai 450 triliunan rupiah, sehingga akhirnya Prabowo yang berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, sebagai calon presiden-wakil presiden terpilih dan berhasil mengalahkan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud Md.

Implikasinya, pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan dilantik pada 20 Oktober nanti diasumsikan sebagai kelanjutan dari rezim Jokowi-Ma’ruf Amin.

Bahkan karena merasa berutang budi, Prabowo pun diprediksi akan menjadi “kacung” yang akan mengikuti apa pun kata Jokowi.

Bisa juga menjadi seperti Marcus Junius Brutus (85-42 SM) yang mengkhianati Kaisar Romawi Julius Caesar (100-44 SM). Benarkah?

Bisa benar bisa salah. Benar bila asumsinya demikian: Prabowo berutang budi kepada Jokowi, dan dalam kampanyenya ia berjanji akan melanjutkan program-program Jokowi, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, serta fakta bahwa Gibran adalah anak Jokowi.

Namun akan salah jika berkaca pada “track records” (rekam jejak) Prabowo, dan juga rekam jejak para pemimpin negeri ini yang suka berkhianat laiknya Brutus mengkhianati Julius Caesar yang telah menolong dan membesarkannya laiknya terhadap anak sendiri.

Pun, seperti Ken Arok (1182-1227) yang mengkhianati Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel, Kediri, Jawa Timur, yang telah memberinya jabatan. Ken Arok bahkan bukan hanya membunuh Tunggul Ametung dengan Keris Mpu Gandring, namun juga merebut Ken Dedes, permaisuri Ametung, dan kemudian mendirikan Kerajaan Singasari di Malang, Jawa Timur.

Lalu, bagaimana rekam jejak Prabowo? Salah satunya adalah dia seorang pemberani. Bahkan dengan Soeharto yang saat itu menjabat Presiden RI pun Prabowo berani.

Selain orang terkuat di Indonesia, saat itu Soeharto adalah bapak mertua dari Prabowo, karena putrinya, Titiek Soeharto, dinikahi mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.

Saat terjadi ontran-ontran Reformasi 1998, diisukan Prabowo berani menentang perintah Soeharto untuk meredam aksi-aksi demonstrasi mahasiswa.

Akhirnya penguasa rezim Orde Baru itu lengser keprabon pada 21 Mei 1998 dan digantikan Wakil Presiden BJ Habibie sebagai Presiden RI yang baru sesuai amanat konstitusi: UUD 1945.

Keberanian Prabowo melawan perintah Soeharto itulah yang kemudian diisukan sebagai penyebab perpisahahannya dengan Titiek Soeharto, karena di antara suami-istri itu tak ada masalah pribadi. Bahkan hingga saat ini.

Prabowo pun dituduh sebagai Brutus yang mengkhianati Kaisar Romawi, Julius Caesar karena berani melawan perintah Soeharto.

Jika dengan Soeharto saja berani, bagaimana mungkin Prabowo tidak akan berani dengan Jokowi? Itulah kekhawatiran yang ada di benak publik. Paling tidak penulis.

Jokowi pun bisa dikhianati oleh Prabowo, seperti Brutus mengkhianati Julius Caesar. Itu berdasarkan rekam jejak sosok yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan itu.

Jika dilihat dari rekam jejak elite-elite pemimpin republik ini yang suka berkhianat, dugaan Jokowi bakal dikhianati Prabowo juga tak bisa dikesampingkan.

Elite-elite pemimpin Indonesia sudah karib dengan pengkhianatan ala Brutus kepada Julius Caesar atau Ken Arok kepada Tunggul Ametung.

Lihat saja. Soeharto mengkhianati Soekarno, Presiden RI pertama, yang memberinya jabatan di militer. Saat diberikan Surat Perintah 11 Maret 1966 untuk memulihkan kondisi keamanan dan ketertiban negara akibat Pemberontakan Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI), Soeharto justru menyalahgunakan surat yang populer dengan sebutan Super Semar itu untuk melucuti kekuasaan Bung Karno.

Soeharto bahkan sempat memenjarakan Bung Karno di Wisma Yaso yang saat ini menjadi Museum Satria Mandala dan Pusat Sejarah TNI di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan.

Soeharto pun merasa dikhianati BJ Habibie, Presiden RI yang menggantikannya, dan juga Prabowo yang keduanya dinilai Pak Harto gagal menjaga dan melindungi kehormatannya. Sebab itulah, hingga akhir hayatnya Pak Harto menolak bertemu Habibie. Juga Prabowo.

Pak Harto juga merasa dikhianati oleh orang-orang terdekatnya yang justru pernah diberi jabatan empuk, namun kemudian mundur dari kabinet ketika Pak Harto dalam kondisi terdesak, seperti Akbar Tandjung dan Ginandjar Kartasasmita, dan juga Harnoko, Ketua DPR/MPR yang justru minta agar Pak Harto mundur dari jabatan Presiden RI.

Habibie kemudian digantikan KH Abdurrahman Wahid yang terpilih menjadi Presiden RI berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri yang terpilih sebagai Wakil Presiden RI dalam Sidang Umum MPR 1999.

Sebagai pemenang Pemilu 1998, Megawati yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan semestinya menjadi Presiden. Tapi ia dikalahkan oleh Gus Dur yang didukung Poros Tengah yang dimotori Amien Rais.

Megawati yang merupakan tokoh deklarasi Ciganjur bersama Gus Dur dan Sri Sultan Hamengkubuwono X pun merasa dikhianati oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) itu.

Gus Dur pun merasa dikhianati Megawati dan Amien Rais saat dilengserkan dalam Sidang Istimewa MPR, 23 Juli 2001. Bagaimana bisa Amien Rais yang menjadi Ketua MPR memotori para anggotanya agar melengserkan Gus Dur?

Bagaimana pula Megawati yang wakil presidennya setuju dengan pelengseran tersebut bahkan mau menggantikannya menjadi Presiden RI?

Megawati pun merasa dikhianati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 2004 mengalahkan dirinya. Padahal saat menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, saat ditanya Megawati mau maju sebagai capres atau tidak, SBY konon tidak menjawab. Tapi di kantornya, diam-diam SBY menyusun kekuatan dan kemudian mendeklarasikan Partai Demokrat. Akibatnya, hingga kini hubungan Megawati-SBY belum benar-benar pulih.

Belakangan, Jokowi pun mengkhianati Megawati, mentor politiknya. Pasalnya, Jokowi yang merupakan kader PDIP justru mendukung Prabowo-Gibran melawan Ganjar-Mahfud yang diusung PDIP di Pilpres 2024.

Akankah Jokowi benar-benar dikhianati Prabowo? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Yang jelas, dalam politik tak ada kawan atau lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Kepentingan kekuasaan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Lantaran Kontribusi Penanganan Krisis saat Pandemi Covid-19. Majelis Hakim Beri Potongan Hukuman jadi 10 Tahun Penjara

Next Post

Naikkan Ratio Utang dari 39 persen jadi 50 Persen Indonesia Siap “Dicekik” Utang

fusilat

fusilat

Related Posts

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik
Feature

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Next Post
Naikkan Ratio Utang dari 39 persen jadi 50 Persen Indonesia Siap “Dicekik” Utang

Naikkan Ratio Utang dari 39 persen jadi 50 Persen Indonesia Siap "Dicekik" Utang

Pembentukan Pansel KPK oleh Presiden Jokowi Menuai Banyak Reaksi

Terancam Dijerat dengan Pasal Perintangan Penyidikan, Kuasa Hukum Kusnadi Siap Lawan KPK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

Skenario “Dendam Pribadi” dalam Kasus Andrie Yunus: Sebuah Penghinaan terhadap Nalar Publik

April 16, 2026
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...