Direktur Wahana Lingkungah Hidup (Walhi) Bali Made Krisna mengingatkan kebijakan pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi sepanjang 96,21 Km yang akan menerabas 480,54 hektare sawah produktif dan 98 wilayah subak yang ada di sepanjang wilayah tersebut.
Badung – Fusilatnews – Maraknya pembangunan infrastruktur di Pulau Dewata mengancam degradasi bahkan berpotensi mengeliminasi atau sistem irigasi tradisional khas Bali. atau yang dikenal subak yang baru saja dibanggakan diperkenalkan oleh Presiden Jokowi di Konferensi Tingkat Tinggi World Water Forum atau WWF, Senin (20/5/2024).
Direktur Wahana Lingkungah Hidup (Walhi) Bali Made Krisna mengingatkan kebijakan pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi sepanjang 96,21 Km yang akan menerabas 480,54 hektare sawah produktif dan 98 wilayah subak yang ada di sepanjang wilayah tersebut.
Pembangunan pelabuhan terintegrasi Sangsit di Bali Utara juga akan menerabas sawah seluas 26.193 meter persegi yang tentu mengancam 4 subak di wilayah tersebut.
Ada juga,proyek Pusat Kebudayaan Bali di Bali Timur yang juga telah mengorbankan lahan persawahan hingga 9,38 hektar dan menyebabkan subak Gunaksa terdampak.
“Proyek-proyek tersebut justru mengancam water security and prosperity (keamanan dan kemakmuran air) yang tentunya akan berdampak pada peruntukan pertanian tanaman pangan hingga degradasi budaya dan hilangnya subak yang ada di tapak proyek tersebut,” tutur Krisna dalam keterangan tertulis, menanggapi perhelatan akbar Konferensi Tingkat Tinggi World Water Forum atau WWF, Ahad, 19 Mei 2024.
Subak dengan fungsi hidrologisnya merupakan tampungan alami bagi air. Setiap hektarnya mampu menampung air sebanyak 3000 ton bila air tingginya 7 cm. Apabila subak terus berkurang dan habis, maka secara langsung Bali akan mudah diterpa bencana banjir.
Krisna juga menyoroti masifnya alih fungsi lahan akibat pembangunan sarana pariwisata yang tentu sangat banyak mengkonsumsi air dalam aktivitas operasionalnya. Pembangunan hotel dan sarana pariwisata lainnya meningkat tajam bahkan hingga dua sampai tiga kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Data Badan Pusat Statistik menunjukan pada tahun 2000 jumlah hotel bintang sebanyak 113 dan pada 2023 sudah naik menjadi 541. Jumlah kamarnya otomatis juga melonjak. Jika pada 2000 berjumlah 19.529 kamar, kini meningkat tajam menjadi 54.184 kamar di 2023.
Menurut Krisna Angka tersebut, menunjukkan pertumbuhan yang amat signifikan. Beberapa pakar menyebutkan Bali telah overtourism bahkan overbuild.
“Banyak penelitian mengungkapkan bahwa akomodasi paraiwisata adalah satu industri yang rakus akan air, beberapa penelitian menyebutkan jika satu kamar hotel membutuhkan 800 liter/kamar/hari, ini jauh lebih banyak ketimbang kebutuhan rumah tangga,” kata dia.
Krisna menilai pembangunan infrastruktur yang menyebabkan alih fungsi lahan dan mengurangi jumlah subak merupakan hal nyata yang membuat Bali mengalami krisis air. Terlebih ada banyak temuan bahwa akomodasi pariwisata lebih banyak menggunakan air bawah tanah (ABT) dan tidak mengalokasikan kawasan hijau sesuai kriteria yakni sebanyak 30 persen dari luas wilayah.
“Untuk itu, kami mendesak pemangku kebijakan untuk menghentikan segala bentuk pembangunan yang ekstraktif dan memperparah keadaan lingkungan yang mengancam ketersediaan air dan yang mengancam subak,” kata dia.
Presiden Jokowi akan menghadiri seremonial pembukaan WWF pada Senin 20 Mei 2024 bertempat di Bali Internasional Convention Center (BICC). Agenda tersebut juga dirangkai dengan pertemuan tingkat tinggi, jamuan makan siang bersama para pimpinan negara, rapat bilateral, serta kunjungan menuju Taman Hutan Rakyat Mangrove.
WWF Bali pada 18–25 Mei 2024 ini fokus membahas empat hal, yakni konservasi air (water conservation), air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation), ketahanan pangan dan energi (food and energy security), serta mitigasi bencana alam (mitigation of natural disasters).
Sebanyak 244 sesi pembahasan terkait air dalam WWF diharapkan dapat memberikan hasil konkret mengenai pengelolaan air secara global.
Pada hari Ahad Presiden Joko Widodo telah bertolak menuju Provinsi Bali untuk menghadiri kegiatan berskala internasional tersebut. Biro Pers Sekretariat Presiden di Jakarta menginformasikan Presiden berangkat pada pukul 13.40 WIB menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1.
Dilansir dari Antara, agenda Konferensi Tingkat Tinggi WWF Ke-10 diawali dengan jamuan santap malam bagi para pemimpin dan delegasi di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), Kabupaten Badung.
Sementara itu pada Senin ini, selaku tuan rumah pada Pertemuan Tingkat Tinggi Forum Air Dunia (World Water Forum) Ke-10 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan empat inisiatif baru yang digagas Indonesia
“Melalui forum ini, Indonesia mengangkat empat inisiatif baru, yaitu penetapan world lake day,” kata Presiden Jokowi dalam pidato pembuka Pertemuan Tingkat Tinggi KTT WWF Ke-10, seperti disaksikan dalam akun YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta Senin (20/5/2024)
Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Forum Air Dunia (World Water Forum) Ke-10 Presiden Joko Widodo memperkenalkan sistem Subak sebagai salah satu kearifan lokal dalam pengelolaan air di masyarakat Bali, Indonesia.
Hal itu disampaikan Jokowi di hadapan puluhan delegasi yang menghadiri pembukaan World Water Forum di Bali International Convention Center (BICC) di Nusa Dua Bali.
“Sistem Subak di Bali telah dipraktikkan sejak abad 11 lalu, dan telah diakui sebagai warisan budaya dunia,” kata Jokowi dalam pidatonya di pembukaan WWF ke-10 pada Senin (20/5/2024)
Sistem pengairan subak merupakan metode teknologi dari budaya asli petani Bali. Fasilitas yang utama dari irigasi subak untuk setiap petani anggota subak adalah berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan (satu tempat atau alat untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan).
Ketika di suatu lokasi bidang sawah terdapat dua atau lebih cakangan yang saling berdekatan, maka cakangan-cakangan tersebut adalah sama (kemudahan dan kelancaran air mengalir masuk ke sawah masing-masing petani sama). Tetapi, perbedaan lebar lubang cakangan masih dapat ditoleransi yang disesuaikan dengan perbedaan luas bidang sawah garapan petani.






















