• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home daerah

Di Balik Kisah Kusta: Tubuh yang Mati Rasa dan Stigma yang Menyiksa

fusilat by fusilat
May 13, 2026
in daerah, News
0
Di Balik Kisah Kusta: Tubuh yang Mati Rasa dan Stigma yang Menyiksa
Share on FacebookShare on Twitter

MAKASSAR —FusilatNews.– Suasana ruang diskusi di HWDI Sulawesi Selatan, Senin (5/5/2026), mendadak hening ketika pembahasan beralih pada pengalaman orang yang pernah mengalami kusta. Topik itu tidak lagi sekadar soal penyakit kulit, melainkan tentang tubuh yang perlahan kehilangan rasa, stigma sosial, hingga ketakutan yang diwariskan turun-temurun di masyarakat.

Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Nasional Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Indonesia, Yuliati, memaparkan data kusta mulai dari tingkat global hingga lokal. Berdasarkan paparan Dr. Ina Agustina, sepanjang 2024 ditemukan 14.698 kasus baru kusta di Indonesia. Secara global, Indonesia masih menempati urutan ketiga penyumbang kasus kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil.

“Indonesia masih peringkat ketiga dengan menyumbang sebanyak 8 persen,” kata Yuli.

Di Sulawesi Selatan sendiri tercatat 834 kasus baru, sementara di Kota Makassar ditemukan sekitar 136 kasus baru. Yuli menjelaskan perbedaan antara kasus terdaftar dan kasus baru. Menurutnya, kasus terdaftar adalah pasien yang masih menjalani pengobatan, sedangkan kasus baru merupakan pasien yang baru ditemukan.

Ketua Nasional Perhimpunan Mandiri Kusta Indonesia, Al Qadri atau yang akrab disapa Opa, mengatakan kusta sebenarnya bukan penyakit yang rumit apabila ditangani sejak dini. Namun, dampaknya bisa sangat berat ketika terlambat diobati.

“Sebetulnya penyakit kusta ini sangat simpel. Tapi akibatnya sangat luar biasa ketika terlambat diobati,” ujarnya.

Opa menjelaskan, gejala awal kusta biasanya hanya berupa bercak pada kulit yang disertai mati rasa. Karena tidak menimbulkan rasa gatal atau sakit, banyak penderita justru mengabaikannya.

Menurutnya, deformitas seperti jari buntung, luka pada kaki, atau tangan yang kaku bukan disebabkan langsung oleh kusta, melainkan akibat kerusakan saraf. Ketika saraf kehilangan fungsi rasa, penderita tidak menyadari saat terkena benda panas atau tajam sehingga luka terus terjadi dan berkembang menjadi infeksi berat.

Dalam diskusi itu, Ketua HWDI Sulawesi Selatan, Maria Un atau Mia, menyoroti bahwa dampak kusta selama ini lebih sering dipahami sebatas disabilitas fisik. Padahal, banyak penyintas juga mengalami gangguan sensorik seperti penurunan pendengaran dan penglihatan.

“Sejak program LEAP, baru kami tahu bahwa ternyata disabilitas akibat kusta itu bukan cuma fisik, tapi juga sensori,” ujar Mia.

Ia mencontohkan pengalaman seorang penyintas bernama Ardi yang mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan setelah terserang kusta. Menurut Mia, persoalan tersebut belum sepenuhnya terakomodasi dalam kebijakan disabilitas di Indonesia, termasuk dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Selain persoalan medis, stigma sosial disebut masih menjadi tantangan terbesar bagi para penyintas. Opa mengaku memahami ketakutan masyarakat ketika melihat kondisi penyintas dengan luka terbuka atau deformitas berat. Namun, ia menegaskan bahwa para penyintas tetap harus diperlakukan secara manusiawi.

“Siapa sih yang tidak takut melihat kondisi begitu? Tapi jangan dihinakan orangnya. Tetap dimanusiakan,” katanya.

Ia juga menyoroti penggunaan istilah seperti “kandala” dalam bahasa Makassar dan “colakeng” dalam bahasa Bugis yang masih digunakan masyarakat untuk menyebut penderita kusta. Menurutnya, istilah tersebut merupakan bentuk stigma yang melukai martabat penyintas.

Pembahasan mengenai penularan kusta menjadi salah satu sesi terpanjang dalam diskusi tersebut. Opa menjelaskan bahwa kusta menular melalui udara dari penderita yang kumannya masih aktif. Namun, tidak semua orang yang terpapar akan jatuh sakit.

“Kalau ada orang kusta aktif di ruangan ini, semua kita sebenarnya terpapar. Tapi dari seratus orang, hanya sekitar lima yang bisa sakit,” jelasnya.

Ketua ITMI Sulsel, Hamzah, yang juga seorang difabel netra, menambahkan bahwa istilah “terpapar” lebih tepat dibanding “tertular” karena belum tentu semua orang yang terkena kuman akan mengalami penyakit. Ia menyebut daya tahan tubuh menjadi faktor penting dalam menentukan apakah seseorang akan sakit atau tidak.

Dalam forum itu juga dibahas soal pengobatan kusta. Opa mengatakan terapi standar WHO atau MDT kerap menimbulkan efek samping berat seperti kulit menghitam, pusing, dan lemas sehingga banyak pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan.

Komunitas penyintas kemudian mendorong pemerintah membuka akses terhadap obat alternatif seperti ROM dan sejumlah obat lain yang dianggap lebih efektif menangani reaksi kusta. Namun, obat-obatan tersebut dinilai sulit diakses dan harganya mahal karena sebagian besar masih impor.

Diskusi menjadi semakin emosional ketika membahas kematian penyintas akibat reaksi kusta. Opa menyebut dalam empat tahun terakhir terdapat 16 penyintas meninggal di Sulawesi Selatan, sebagian besar masih berusia muda.

“Kami tidak pernah bilang mereka meninggal karena kusta. Mereka meninggal dalam kondisi reaksi yang tidak ditangani dengan baik,” ujarnya.

Menurut Opa, reaksi kusta bisa dipicu berbagai faktor seperti stres, penyakit penyerta, gigi berlubang, hingga kelelahan fisik. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan kuman, tetapi juga harus mencari penyebab pemicu reaksinya.

Di akhir diskusi, Opa turut mengkritik klaim eliminasi kusta yang pernah diumumkan pemerintah. Menurutnya, istilah eliminasi lebih bersifat administratif dan belum mencerminkan kondisi di lapangan karena kasus baru masih terus ditemukan di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Menjelang forum berakhir, suasana kembali sunyi. Tidak ada tepuk tangan panjang ataupun kesimpulan resmi. Namun, satu pesan terasa kuat di antara peserta: kusta bukan sekadar persoalan penyakit, melainkan tentang martabat manusia dan perjuangan melawan stigma yang belum benar-benar usai.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

NARASI POLITIK DAN JEBAKAN MAKNA: PELAJARAN DARI POLEMIK JUSUF KALLA

Next Post

Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

fusilat

fusilat

Related Posts

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai
News

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026
Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran
Komunitas

Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

June 28, 2026
Feature

Sayembara Rp250 Juta KDM: Solusi Cepat Kasus Darurat atau Sekadar Panggung Politik?

June 28, 2026
Next Post
Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama
Economy

Indonesia Targetkan PLTN Operasi Tahun 2032, Rusia Siap Kerja Sama

by Karyudi Sutajah Putra
June 24, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.-- Indonesia menargetkan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial perdananya tahun 2032. Rusia siap bekerja sama. Duta...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

Mengapa Penangkapan Roy Suryo dan Tifa Seperti Teroris? Ini Kata IPW!

June 22, 2026
Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

Aroma Persaingan AHY-Gibran 2029 Mulai Terasa

June 22, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Mengobati Demam atau Menyembuhkan Penyakit? Refleksi tentang Satgas Mitigasi PHK dan Akar Persoalan Ekonomi Indonesia

June 28, 2026
Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

Pertamina Diminta Antisipasi Praktik Korupsi “Rilesta” demi Menjaga Distribusi BBM Tepat Sasaran

June 28, 2026

Berani Memutuskan atau Takut Dipenjara? (Di Mana Batas Diskresi dan Korupsi?)

June 28, 2026

Sayembara Rp250 Juta KDM: Solusi Cepat Kasus Darurat atau Sekadar Panggung Politik?

June 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

Jokowi Meneruskan Membangun Raja Jawa

June 28, 2026
Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

Duel PSI vs PDIP: Pertarungan Politik 2029 Resmi Dimulai

June 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist