Di tanah Papua yang hijau dan basah, dulu ada tradisi Pesta Babi. Suku Marind, Yei, Awyu, dan kerabatnya menyembelih babi sebagai tanda syukur, ikatan adat, dan perlawanan kolektif. Darah babi menyatukan orang, dagingnya dibagi rata — bukan disantap sendirian di balik meja rapat Jakarta atau kantor konglomerat yang dingin.
Sekarang? Kita punya versi nasional yang lebih glamor: Pesta Babi ala Oligarki. Hutan diratakan dari ujung Papua sampai Kalimantan. Di Papua, jutaan hektar digilas untuk food estate, tebu bioetanol, dan konon ketahanan pangan. Di Kalimantan, yang sudah jadi juara bertahan deforestasi bertahun-tahun, laju kerusakan terus menggila. Tahun 2025 saja, Kalimantan kehilangan lebih dari 158 ribu hektar hutan — penyumbang terbesar nasional yang totalnya melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya. Sawit, tambang, pulp, dan HTI berebutan mengubah hutan primer dan gambut menjadi ladang duit.
Satu pesta, dua pulau, satu nafsu.
Di Kalimantan, orang Dayak yang dulu jadi tuan di tanah leluhur kini jadi penonton atau buruh di kebun sawit milik orang luar. Sungai keruh, orangutan kehilangan rumah, asap kebakaran musiman menjadi tradisi tahunan yang bikin tetangga negara sesak napas. Semua atas nama pembangunan, investasi, dan ekspor CPO yang bikin segelintir keluarga oligarki semakin gemuk dompetnya. Sama persis seperti di Papua: konsesi dikeluarkan, militer lalu “mengamankan”, dan kritik dibungkam dengan label anti-pembangunan.
Lucu sekali. Mereka yang pesta pora ini — yang mendapat ratusan ribu hektar lewat “Proyek Strategis Nasional”, yang duitnya dari APBN, green fund, pinjaman luar negeri, dan keuntungan ekspor — tersinggung berat jika disebut babi.
“Jangan gitu dong,” kata mereka sambil mengelap iler. “Kami sedang bangun Indonesia Emas. Kami sedang wujudkan ketahanan energi dan pangan.”
Ya, Indonesia Emas yang warnanya semakin suram dengan hutan gundul dari Kalimantan Barat sampai Timur, dari hulu Kapuas sampai dataran Merauke. Hutan yang dulu menyimpan karbon dan keanekaragaman flora dan fauna kini jadi monokultur sawit yang menguntungkan hanya buat segelintir orang. Sementara masyarakat adat yang protes, diintimidasi, dibeli, atau dikriminalisasi. Film dokumenter yang merekam? Nobar dibubarkan, dan narasi dibalik.
Oligarki ini spesialis mengubah yang sakral jadi komoditas. Tradisi Pesta Babi yang dulu penuh makna, kini jadi metafor sarkastik untuk kerakusan tak terbatas. Hutan Kalimantan dan Papua yang dulu sebagai paru-paru dunia diubah menjadi ladang ekspor. Dan duit negara yang seharusnya untuk rakyat diubah menjadi gentong babi politik — dibagi-bagi buat mesin politik, bansos dan proyek jelang pemilu supaya suara tetap aman.
Dan mereka nggak mau disebut babi!
Wajar. Babi asli setidaknya jujur. Dikasih gentong, dia makan terang-terangan. Begitu kekenyangan, dia tidur. Tidak pura-pura menyelamatkan bangsa sambil menebang pohon terakhir, tidak ceramah keberlanjutan sambil membakar hutan gambut, tidak mengklaim “ini demi anak cucu” sambil memastikan binatang-binatang endemik kehilangan habitat dan anak cucu orang Dayak serta Papua cuma mewarisi debu, banjir, dan utang.
Pesta Babi versi sekarang memang lebih meriah. Lampu sorot terang benderang, musik nasionalis dan patriotis menggelegar dengan amplifier, para pemain memakai jas dan dasi mahal, PowerPoint penuh grafik indah. Namun baunya tetap sama: anyir, busuk, dan semakin sulit ditutupi meski sudah disemprot parfum bermerk “pembangunan berkelanjutan”.
Suatu hari nanti, ketika Kalimantan dan Papua sudah gundul, mereka mungkin adakan pesta penutup. Kali ini yang disembelih adalah reputasi mereka sendiri. Yang datang merayakan bukan orang adat, tapi sejarah — yang selalu punya selera sarkastik paling tajam.
Selamat berpesta, Tuan-tuan Oligarki.
Semoga tulang belulang hutan yang kalian habiskan tidak nyangkut di tenggorokan generasi mendatang.
Malika Dwi Ana





















