• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

fusilat by fusilat
May 13, 2026
in Feature, Politik
0
Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi
Share on FacebookShare on Twitter

Di tanah Papua yang hijau dan basah, dulu ada tradisi Pesta Babi. Suku Marind, Yei, Awyu, dan kerabatnya menyembelih babi sebagai tanda syukur, ikatan adat, dan perlawanan kolektif. Darah babi menyatukan orang, dagingnya dibagi rata — bukan disantap sendirian di balik meja rapat Jakarta atau kantor konglomerat yang dingin.

Sekarang? Kita punya versi nasional yang lebih glamor: Pesta Babi ala Oligarki. Hutan diratakan dari ujung Papua sampai Kalimantan. Di Papua, jutaan hektar digilas untuk food estate, tebu bioetanol, dan konon ketahanan pangan. Di Kalimantan, yang sudah jadi juara bertahan deforestasi bertahun-tahun, laju kerusakan terus menggila. Tahun 2025 saja, Kalimantan kehilangan lebih dari 158 ribu hektar hutan — penyumbang terbesar nasional yang totalnya melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya. Sawit, tambang, pulp, dan HTI berebutan mengubah hutan primer dan gambut menjadi ladang duit.

Satu pesta, dua pulau, satu nafsu.

Di Kalimantan, orang Dayak yang dulu jadi tuan di tanah leluhur kini jadi penonton atau buruh di kebun sawit milik orang luar. Sungai keruh, orangutan kehilangan rumah, asap kebakaran musiman menjadi tradisi tahunan yang bikin tetangga negara sesak napas. Semua atas nama pembangunan, investasi, dan ekspor CPO yang bikin segelintir keluarga oligarki semakin gemuk dompetnya. Sama persis seperti di Papua: konsesi dikeluarkan, militer lalu “mengamankan”, dan kritik dibungkam dengan label anti-pembangunan.

Lucu sekali. Mereka yang pesta pora ini — yang mendapat ratusan ribu hektar lewat “Proyek Strategis Nasional”, yang duitnya dari APBN, green fund, pinjaman luar negeri, dan keuntungan ekspor — tersinggung berat jika disebut babi.

“Jangan gitu dong,” kata mereka sambil mengelap iler. “Kami sedang bangun Indonesia Emas. Kami sedang wujudkan ketahanan energi dan pangan.”

Ya, Indonesia Emas yang warnanya semakin suram dengan hutan gundul dari Kalimantan Barat sampai Timur, dari hulu Kapuas sampai dataran Merauke. Hutan yang dulu menyimpan karbon dan keanekaragaman flora dan fauna kini jadi monokultur sawit yang menguntungkan hanya buat segelintir orang. Sementara masyarakat adat yang protes, diintimidasi, dibeli, atau dikriminalisasi. Film dokumenter yang merekam? Nobar dibubarkan, dan narasi dibalik.

Oligarki ini spesialis mengubah yang sakral jadi komoditas. Tradisi Pesta Babi yang dulu penuh makna, kini jadi metafor sarkastik untuk kerakusan tak terbatas. Hutan Kalimantan dan Papua yang dulu sebagai paru-paru dunia diubah menjadi ladang ekspor. Dan duit negara yang seharusnya untuk rakyat diubah menjadi gentong babi politik — dibagi-bagi buat mesin politik, bansos dan proyek jelang pemilu supaya suara tetap aman.

Dan mereka nggak mau disebut babi!

Wajar. Babi asli setidaknya jujur. Dikasih gentong, dia makan terang-terangan. Begitu kekenyangan, dia tidur. Tidak pura-pura menyelamatkan bangsa sambil menebang pohon terakhir, tidak ceramah keberlanjutan sambil membakar hutan gambut, tidak mengklaim “ini demi anak cucu” sambil memastikan binatang-binatang endemik kehilangan habitat dan anak cucu orang Dayak serta Papua cuma mewarisi debu, banjir, dan utang.

Pesta Babi versi sekarang memang lebih meriah. Lampu sorot terang benderang, musik nasionalis dan patriotis menggelegar dengan amplifier, para pemain memakai jas dan dasi mahal, PowerPoint penuh grafik indah. Namun baunya tetap sama: anyir, busuk, dan semakin sulit ditutupi meski sudah disemprot parfum bermerk “pembangunan berkelanjutan”.

Suatu hari nanti, ketika Kalimantan dan Papua sudah gundul, mereka mungkin adakan pesta penutup. Kali ini yang disembelih adalah reputasi mereka sendiri. Yang datang merayakan bukan orang adat, tapi sejarah — yang selalu punya selera sarkastik paling tajam.

Selamat berpesta, Tuan-tuan Oligarki.
Semoga tulang belulang hutan yang kalian habiskan tidak nyangkut di tenggorokan generasi mendatang.

Malika Dwi Ana

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Di Balik Kisah Kusta: Tubuh yang Mati Rasa dan Stigma yang Menyiksa

Next Post

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

fusilat

fusilat

Related Posts

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR
Birokrasi

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Feature

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026
Feature

​Ketika Negara Membuka Hulu Kerusakan ​(Refleksi tentang Moral Bangsa, Kebijakan Publik, dan Arah Peradaban Indonesia)

May 13, 2026
Next Post
Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

​Ketika Negara Membuka Hulu Kerusakan ​(Refleksi tentang Moral Bangsa, Kebijakan Publik, dan Arah Peradaban Indonesia)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR
Birokrasi

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Tenaga Ahli Anggota DPR 2004-2009 dan 2009-2014 Jakarta - Mungkin karena MPR identik dengan konspirasi politik,...

Read more
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Nasaruddin Umar dan Klaim “Menag Terhebat”: Sebuah Kekonyolan Konstitusional

Kementerian Agama Sarang Penyamun

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026

​Ketika Negara Membuka Hulu Kerusakan ​(Refleksi tentang Moral Bangsa, Kebijakan Publik, dan Arah Peradaban Indonesia)

May 13, 2026
Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

May 13, 2026
Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

Pesta Babi, Saat Oligarki Ngga Mau Disebut Babi

May 13, 2026
Di Balik Kisah Kusta: Tubuh yang Mati Rasa dan Stigma yang Menyiksa

Di Balik Kisah Kusta: Tubuh yang Mati Rasa dan Stigma yang Menyiksa

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026

NEGARA, SEPIRING NASI, DAN RASA CURIGA

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...