Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Joko Widodo memang hebat dalam tanda kutip. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun diam-diam berguru kepada Presiden ke-7 RI itu. Betapa tidak?
Diketahui, Donald Trump baru saja mengumumkan tarif timbal-balik yang dikenakan kepada ratusan negara lain, Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis (3/4/2025) pagi waktu Indonesia. Indonesia turut masuk sebagai negara yang terkena tarif timbal-balik dengan besaran 32%.
Trump butuh alasan darurat untuk mengubah konstitusi negaranya sehingga dirinya bisa menjabat tiga periode untuk membawa AS melewati badai krisis.
Mungkin diam-diam Trump berguru kepada Jokowi. Atau paling tidak ia terinspirasi oleh langkah wong Solo itu yang pernah mencoba mengubah konstitusi, khususnya Pasal 7 UUD 1945, sehingga jika berhasil dirinya bisa menjabat hingga tiga periode.
Jokowi pun mengondisikan supaya seolah-olah Indonesia darurat. Banyak pembangunan infrastruktur terancam mangkrak kalau dia hanya menjabat dua periode. Termasuk Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang kini sudah mulai mangkrak.
Beruntung, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang memiliki kursi terbesar di Senayan, menolak “hidden agenda” Jokowi itu. Keduanya kemudian pecah kongsi. Kalau tidak, mungkin Jokowi kini masih duduk di kursi RI-1.
Namun, Jokowi tak mati akal. Ia diduga mengintervensi Mahkamah Konstitusi (MK) sehingga lembaga yang saat itu diketuai adik iparnya, Anwar Usman, meloloskan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden di Pemilihan Presiden 2024 berpasangan dengan Prabowo, dan anak sulung Jokowi itu pun terpilih bersama bekas Komandan Jenderal Kopassus itu.
Akankah Trump yang berasal dari Partai Republik itu gagal memperpanjang masa jabatannya seperti Jokowi?
Partai Demokrat di Parlemen AS sudah mulai pasang kuda-kuda untuk melawan ide gila Trump tersebut. Kita tunggu saja hasil finalnya.
Trump memang punya karakter seperti Jokowi yang ambisius. Keduanya sama-sama megalomania. Bedanya, Jokowi tampil kalem dan munafik, sedangkan Trump tampil arogan dan blak-blakan.
Kini, Indonesia mengalami krisis ekonomi akibat warisan kebijakan-kebijakan Jokowi yang asal populis. Terutama utang luar negeri yang mencapai ribuan triliun rupiah dan jatuh tempo. Akibatnya, Presiden Prabowo Subianto melakukan efisiensi anggaran hingga 300-an triliun rupiah. Efek dominonya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana.
APBN pun defisit. Dua bulan pertama tahun 2025 ini saja, defisit APBN mencapai 30-an triliun rupiah.
Jika benar, layakkah Trump berguru kepada Jokowi yang sudah jelas-jelas gagal menambah periode jabatannya?
Layakkah pula Trump berguru kepada Jokowi yang sudah jelas-jelas banyak program pembangunannya yang mangkrak?
Bagi seorang megalomania, mungkin layak-layak saja. Bahkan Trump perlu berguru kepada Jokowi bagaimana membangun politik dinasti. Mungkin saja!























