Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.
JAKARTA – Safari politik Puan Maharani, Ketua DPP PDI Perjuangan yang juga Ketua DPR RI ke Prabowo Subianto di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra itu di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/9/2022), menimbulkan implikasi atau efek domino yang cukup panjang.
Selain memporak-porandakan “mimpi” Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menjadi calon wakil presiden, juga memupus harapan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menjadi cawapres, serta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi cawapres atau bahkan calon presiden. Ganjar Pranowo dan Sandiaga Uno pun terancam “jomblo” alias sendirian atau tidak punya pasangan karena tidak akan ada partai politik yang mencalonkan.
PKB sudah terlanjur berkoalisi dengan Gerindra dengan nama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR), dengan harapan Cak Imin menjadi cawapres bagi Prabowo. Atau sekurang-kurangnya siapa capres/cawapres dari KIR ditentukan oleh keduanya. Kini, setelah Puan bertemu Prabowo, mimpi Cak Imin itu terancam ambyar!
Bisa jadi Puan menjadi cawapres Prabowo atau bahkan capres Prabowo, sehingga Cak Imin tereliminasi dari bursa cawapres KIR. Apalagi elektabilitas Cak Imin tak seberapa.
Empat Mata
Sebenarnya inti dari safari politik Puan ke Prabowo adalah pembicaraan empat mata keduanya, bukan menunggang kuda spesial atau makan siang bersama dengan menu istimewa. Dalam pertemuan empat mata dengan Prabowo itu, Puan menyampaikan pesan rahasia dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang juga ibundanya, kepada Prabowo Subianto yang juga Menteri Pertahanan.
Lantas, apa pesan rahasia Megawati Itu? Namanya rahasia, maka hanya Tuhan, Megawati, Puan dan Prabowo yang tahu.
Namun politikus senior Gerindra Desmond Junaidi Mahesa menerjemahkan kedatangan Puan menemui Prabowo untuk meminta kesediaan mantan Komandan Jenderal Kopassus itu sebagai cawapres bagi Puan. Dasarnya adalah pernyataan Puan di Lampung, Kamis (25/8/2022), tentang akan ada presiden perempuan lagi di Indonesia pada 2024. Jika benar Puan meminta Prabowo menjadi cawapresnya, Desmond menilai Puan sedang bermimpi di siang bolong.
Memang, sejauh ini Prabowo masih memimpin elektabilitas capres untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, diikuti Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di urutan kedua dan ketiga. Sedangkan Puan elektabilitasnya masih jongkok, berkisar 2 persen, sehingga masuk akal jika Desmond beranggapan tidak mungkin Prabowo mau menjadi cawapresnya Puan.
Namun, tak ada yang tak mungkin di dunia politik. Apalagi jika itu demi bangsa dan negara. Hal ini pun dikatakan Prabowo saat bertemu Puan, sehingga kemungkinan ia menjadi cawapresnya Puan pun masih terbuka. Apalagi elektabilitas PDIP sejauh ini masih yang teratas.
Presidential Threshold
Partai Gerindra sudah memutuskan akan mengusung ketua umumnya, Prabowo Subianto sebagai capres untuk Pilpres 2024. Dengan demikian, Sandiaga Uno yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, yang sudah menyatakan diri siap maju di Pilpres 2024 tereliminasi dari bursa capres partainya. Nyaris tak mungkin Gerindra menduetkan Prabowo-Sandi, yang berasal dari satu partai, sebagai pasangan capres/cawapres 2024. Kenapa?
Pertama, Gerindra tidak bisa sendirian mengajukan capres/cawapres di Pilpres 2024 karena terhalang “presidential threshold” atau ambang batas pencalonan presiden 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional, sebagaimana disyaratkan Pasal 222 Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
Kedua, pasangan Prabowo-Sandi tidak akan memperluas “captive market” (pangsa pasar) pemilih, karena keduanya berasal dari parpol yang sama. Apalagi kalangan Islam diprediksi tidak akan lagi memilih Prabowo/Sandi seperti pada 2019 setelah keduanya masuk kabinet Presiden Jokowi. Jika nekad, maka kekalahan keduanya pada Pilpres 2019 dapat terulang kembali di 2024. Deja vu!
Apalagi di kalangan internal partainya sendiri, Sandiaga sudah disindir, pantaskah kader yang tidak ada kontribusi ke partai kemudian menjadi capres?
Akan tetapi Sandiaga Uno tidak jomblo seorang diri. Ada sosok lain yang juga terancam jomblo. Siapa? Ialah Ganjar Pranowo, kader PDIP. Pasalnya, partai berlambang banteng itu nyaris dapat dipastikan akan mengusung Puan Maharani sebagai capres/cawapres di Pilpres 2024.
Elektabilitas Ganjar memang cukup tinggi, selalu masuk tiga besar dalam survei berbagai lembaga, bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Bahkan di kalangan milenial, elektabilitas Ganjar paling berkibar.
Tapi apalah artinya elektabilitas tinggi jika tidak ada parpol yang mengusungnya? Sebab, pilpres di Indonesia tidak boleh diikuti oleh calon independen. Capres/cawapres harus diusung parpol atau gabungan parpol.
Ganjar memang masuk ke radar Partai Nasdem yang bersama Anies Baswedan dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa kemudian didapuk sebagai capres 2024 dari parpol yang dipimpin Surya Paloh itu. Tapi penempatan Ganjar di sana diyakini cuma sebagai “pemain cadangan” atau “pemain figuran” bahkan sekadar pemanis atau asesoris semata bersama Andika Perkasa, karena Nasdem diyakini bakal mencalonkan Anies Baswedan.
Apalagi setelah Puan bertemu Surya Paloh, dan Ketua Umum Nasdem itu membuka peluang partainya berkoalisi dengan PDIP, sekaligus memuji-muji Puan. Alhasil, Ganjar pun terancam jomblo laiknya Sandiaga Uno.
Apakah Cak Imin tidak akan jomblo? Bisa saja. Tapi setidaknya ia tidak akan sendiri-sendiri amat, karena mantan Menteri Tenaga Kerja itu ketua umum parpol, sehingga masih sangat berperan dalam penentuan capres/cawapres, bahkan bisa jadi ia sendiri yang menjadi cawapres.
Apakah Anies Baswedan yang bukan ketua umum parpol, bahkan tidak punya parpol tidak akan jomblo? Bisa saja. Tapi kemungkinannya relatif kecil, karena ada Nasdem yang akan mencalonkan dia.
Jika bukan Nasdem, parpol-parpol berbasis massa Islam pun sangat berkepentingan dengan Anies sebagai representasi capres/cawapres dari kalangan Muslim, yang akan berperang tanding dengan capres/cawapres dari kalangan nasionalis seperti Prabowo, Puan atau Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Kecuali jika parpol atau gabungan parpol pengusung Anies mau “memungut” Ganjar atau Sandi, maka salah seorang di antara keduanya tidak akan menjadi jomblo. Itulah!
























