By. Yudha Pedyanto
Pada tahun 2084, di versi futuristik kota Paris yang bernama Neo-Paris, sebuah perusahaan bernama Memorize menemukan sebuah implan otak yang bernama Sensen. Jika implan ini ditanamkan di kepala Anda (if you could afford one), maka ingatan Anda bisa diubah jadi data digital yang bisa diedit, dimanipulasi bahkan dipindahkan dengan mudah. Semudah Anda melakukan edit dan share gambar digital di sosmed.
Kemudian munculah modus kriminal baru bernama penyelundup memori (memory smugglers). Menggunakan alat portable khusus bernama memory remix, mereka merekayasa memori korbannya untuk mengendalikan perilaku mereka demi mencapai tujuan-tujuan tertentu (yang seringkali politis). Kisah ini mungkin fiksi semata, tapi kemampuan pihak lain untuk merekayasa memori Anda adalah fakta. Never trust your memory. You are not your memory.
Bagaimana mungkin perubahan memori menyebabkan perubahan perilaku? Pada tanggal 24 November 1993, pasangan suami istri Kim dan Krickitt Carpenter mengalami kecelakaan mobil parah. Sang istri, Krickitt Carpenter kepalanya terbentur dengan sangat kerasnya sehingga koma selama empat bulan lamanya. Setelah sadar ia kehilangan memori jangka pendeknya. Ia tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi dua tahun sebelumnya; termasuk jatuh cinta dan menikah dengan suaminya. Ternyata cinta sejati tak bertahan selamanya, ia hanya bertahan selama memori tentangnya ada.
Bagaimana caranya Kim dan Krickitt Carpenter menyelamatkan pernikahan mereka? Kim sang suami tentu masih mencintai istrinya. Tapi bagi Krickitt sang istri, Kim adalah orang asing. Kim baginya tidak lebih seperti sembarang laki-laki asing yang ia temui secara acak di jalan. Krickitt pun telah berusaha menumbuhkan rasa cintanya, tapi sekeras apa pun ia mencoba, rasa cinta tersebut tetap tak mau kembali. Akhirnya Krickitt belajar tidak mempercayai memorinya sendiri (Kim bukan suaminya), serta belajar mempercayai memori orang-orang terdekatnya (Kim adalah suaminya). Don’t trust your memory. You are not your memory. Dan pernikahan mereka pun akhirnya terselamatkan. Kisah cinta mereka ditulis ulang dengan memori dan cinta buatan yang baru.
Tidak hanya cinta; pikiran, perasaan, tindakan serta ekspresi apa pun yang muncul dari Anda, sangat ditentukan oleh memori Anda. Jika memori tersebut berubah, maka demikian juga dengan pikiran, perasaan dan tindakan Anda. Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, tindakan seseorang ditentukan oleh pemikirannya, sedangkan pemikirannya ditentukan oleh fakta yang terindera dan memori yang tersimpan tentang fakta tersebut. An-Nabhani menyebut informasi (memori) yang tersimpan tadi dengan istilah Ma’lumat Sabiqah.
Jagalah baik-baik memori atau Ma’lumat Sabiqah Anda. Karena banyak yang mengincarnya. Katakanlah jika ada pemimpin zhalim yang mengincar dukungan orang banyak, termasuk Anda. Apa yang harus dia lakukan? Pertama-tama pemimpin tersebut harus merubah tindakan Anda agar mau mendukungnya. Agar tindakan dapat berubah, maka pemikiran atau persepsi Anda juga harus diubah. Nah untuk mengubah pemikiran dan persepsi tadi satu-satunya adalah dengan mengubah Ma’lumat Sabiqah Anda. Karena fakta yang ada jelas tidak mungkin diubah, apalagi jika pemimpin zhalim tadi faktanya memang benar-benar bodoh dan tak kompeten.
Bisakah pemimpin zhalim tadi memanipulasi memori Anda? Bisa. Tapi tentu tidak dengan cara membenturkan kepala Anda seperti yang dialami Krickitt. Atau mengirim para memory smugglers untuk melakukan rekayasa memori menggunakan alat futuristik seperti dalam kisah fiksi tadi. Para memory smugglers di dunia nyata melakukannya dengan cara-cara konvensional; menyebarkan informasi yang dimanipulasi melalui media, sistem pendidikan serta semua saluran apa pun yang mereka kuasai, selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, selama yang mereka mampu. Hasilnya seperti yang dicapai Nazi; kebohongan yang disampaikan berulang-ulang akan menjadi kebenaran.
Sebenarnya yang jauh lebih mengerikan adalah; skala penyusupan dan manipulasi informasi tidak hanya terjadi pada memori individu-individu, tapi memori kolektif semua orang. Bayangkan jika memori kolektif penduduk sebuah negeri ternyata kebohongan belaka. Seperti mitos dewa dewi penguasa langit, atau mitos bumi sebagai pusat tata surya, atau mitos nasionalisme. Never trust your collective memory. You are not your collective memory.
“Nasionalisme pada dasarnya adalah sebuah fiksi yang membangun partisi antar manusia; menjadi kita dan mereka, bangsa kami dan bukan bangsa kami.”
~Francis Fukuyama
Sejak kecil kita sudah berulang-ulang ditanamkan rasa cinta dan bangga terhadap tanah air. Bertanah air yang satu, bertumpah darah yang satu, serta berbahasa yang satu. Awalnya rasa cinta dan bangga tersebut tidak ada. Tapi seperti Krickitt, rasa cinta buatan tersebut secara pelan-pelan dipupuk dan ditumbuhkan. Lewat lagu-lagu kebangsaan, keagungan simbol-simbol negara, pendidikan patriotisme, pertandingan olah raga (ingat Sea Games?), prestasi lomba saintek internasional, pamer keunikan budaya, atau sekedar bangga aktor Indonesia jadi pemeran pembantu di film-film Hollywood. Seperti Joe Taslim bermain di Fast and Furious 6 bersama Vin Diesel, atau Iko Uwais bermain di Mile 22 bersama Mark Wahlberg.
Karena sedemikian masifnya propaganda nasionalisme tadi, seakan-akan ia sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dari diri kita. Padahal ia hanyalah sesuatu yang direkayasa secara eksternal dan artifisial, lalu diinjeksikan ke alam berfikir internal kita secara terus-menerus, sampai jadi memori kolektif yang tertanam kuat. Akhirnya “kita” dan “artifical memory” tadi melebur jadi satu. Dalam neuroscience gejala ini disebut cognitive fusion. Dimana Anda sulit memisahkan antara “saya” dan “dogma buatan” tadi. Jika sudah akut salah satu tandanya suka teriak histeris “Saya Indonesia! NKRI harga mati!” dan suka menuduh orang lain pengkhianat serta menghardik “Pergi dari bumi Indonesia!”
Jika Anda masih belum percaya memori kolektif nasionalisme hanyalah rekayasa informasi yang diselundupkan para “memory smugglers” ke kepala Anda, mari kita bermain-main jadi memory detective sebentar. Dan bersama-sama melakukan memory forensic dimana alam berfikir Anda jadi crime scene atau TKP-nya. Harapannya dengan memperlajari modus para “memory smugglers” tadi, Anda tidak hanya bisa melakukan sterilisasi memori Anda yang sudah tercemar, tapi kedepannya insya Allah Anda mampu mengantisipasi serangan-serangan mereka dengan lebih baik.
Salah satu metode forensic dalam mengungkap kebenaran adalah dengan menemukan kejanggalan; sesuatu yang tidak alamiah. Dalam hal ini sesuatu yang tidak alamiah tersebut adalah kita dipaksakan menjadi satu entitas dengan melabrak dan mengobrak-abrik apa pun yang sudah ada sebelumnya. Coba bayangkan penduduk Riau dan Malaysia yang etnisnya sama-sama Melayu justru jadi bangsa yang berbeda. Penduduk Kalimantan Utara dan Brunei yang secara etnis dan geografis identik juga dipaksakan jadi bangsa yang berbeda.
Sedangkan Papua dan Aceh yang tidak hanya etnisnya berbeda, tapi secara geografis terpisahkan sekian banyak pulau dan lautan, justru dipaksakan jadi bangsa yang sama. Anehnya lagi, pulau Papua yang secara etnis dan geografis menyatu pun masih dibagi dua; sebelah Barat masuk Indonesia, sebelah Timur masuk Papua New Guinea. Timor Timur pada tahun 1974 dengan alasan yang mengada-ada dipaksakan gabung dengan Indonesia. Lalu pada tahun 1999 juga dengan alasan yang mengada-ada dipaksakan pisah dari Indonesia.
Demikian pula dengan Timur Tengah; mengapa ada negara bernama Irak, Syria, Jordan dan Lebanon? Sebelum tahun 1916 nama-nama negara tadi sebelumnya tidak dikenal. Semua yang tinggal di sana mengatakan saya adalah warga negara Islam; khilafah Turki Ustmani. Tapi setelah 1916, tepatnya setelah Inggris dan Perancis membagi-bagi wilayah jajahannya; mereka yang di sebelah Timur mengatakan saya adalah warga negara Irak, yang di sebelah Barat mengatakan saya adalah warga negara Jordan, yang di sebelah Utara mengatakan saya adalah warga negara Syria atau Lebanon. Batas-batas imajiner dan fanatisme semunya seolah muncul begitu saja seperti pertunjukan sulap.
Atas dasar apa mereka membuat sekat-sekat imajiner serta melabrak semua identitas kolektif tadi? Jawabannya singkatnya; karena mengikuti titah penjajah. Brunei dan Kalimantan Utara yang secara geografis dan etnis identik, harus terpisah karena Karena Kalimantan Utara bekas jajahan Belanda, sedangkan Brunei bekas jajahan Inggris. Demikian pula Provinsi Papua dan Papua New Guinea yang secara geografis dan etnis identik, harus terpisah menjadi dua negara berbeda. Karena Papua bagian barat bekas jajahan Belanda, sedangkan Papua New Guinea bekas jajahan Portugis. Sedangkan Aceh dan Papua yang secara entis dan geografis berbeda sangat jauh, jadi satu negara yang sama karena sama-sama dijajah Belanda.
Jika masih belum percaya semuanya sekedar mematuhi titah penjajah, bayangkan skenario berikut. Misal penjajah X dan Y membagi sebuah wilayah menjadi A dan C. Maka akan muncul slogan nasionalisme A dan C, pekik patriotisme A dan C, rasa cinta dan bangga A dan C, bendera dan simbol negara A dan C, lagu kebangsaan negara A dan C, sumpah pemuda negara A dan C, tim sepak bola A dan C, supporter sepak bola A dan C, dan ormas fanatik sok nasionalis A dan C. Lalu muncullah pertandingan bola heboh A lawan C, rebutan zona ekonomi heboh A lawan C, bahkan mungkin perang A lawan C.
Sekarang bayangkan jika sebagian wilayah A mengadakan referendum lalu memutuskan menjadi negara sendiri (ingat lepasnya Timtim?), sebut saja negara B. Maka akan muncul slogan nasionalisme A, B dan C; pekik patriotisme A, B dan C; rasa cinta dan bangga A, B dan C; bendera dan simbol negara A, B dan C; lagu kebangsaan negara A, B dan C; sumpah pemuda negara A, B dan C; tim sepak bola A, B dan C; supporter sepak bola A, B dan C; dan ormas fanatik sok nasionalis A, B dan C. Lalu muncullah pertandingan bola heboh antara A, B dan C; rebutan zona ekonomi heboh antara A, B dan C; bahkan mungkin perang antara A, B dan C.
Sekarang bayangkan sekenario yang lain, jika seandainya penjajah X dan Y sepakat dan memutuskan A dan B tetap jadi satu wilayah katakanlah namanya Z. Maka akan muncul slogan nasionalisme Z, pekik patriotisme Z, rasa cinta dan bangga Z, bendera dan simbol negara Z, lagu kebangsaan negara Z, sumpah pemuda negara Z, tim sepak bola Z, dan supporter sepak bola Z, dan ormas fanatik sok nasionalis Z. Bisa dipastikan tidak terjadi pertandingan bola heboh antara A, B dan C; tidak terjadi pula rebutan zona ekonomi antara A, B dan C; tidak terjadi pula perang antara A, B dan C. Lalu dimana A, B dan C dengan segala kehebohan dan gelora naifnya tadi? Hilang lenyap seperti ilusi di pentas sulap.
Sekarang mari kita bayangkan skenario yang lebih liar, jika seandainya penjajah X dan Y sepakat dan memutuskan membagi-bagi jadi seratus wilayah, maka akan muncul seratus slogan nasionalisme berbeda, seratus pekik patriotisme berbeda, seratus rasa cinta dan bangga yang berbeda, seratus bendera dan simbol berbeda, seratus lagu kebangsaan berbeda, seratus sumpah pemuda berbeda, seratus tim sepak bola berbeda, seratus supporter sepak bola berbeda, serta seratus ormas fanatik sok nasionalis berbeda (satu saja bikin gaduh bukan main). Lalu muncullah seratus pertandingan bola heboh, seratus konflik zona ekonomi heboh, bahkan mungkin seratus perang heboh. Silahkan lipat gandakan angkanya dan teruskan sendiri kegilaan ini.
“Nation states are dinosaurs waiting to die.”
~Kenichi Ohmae
Saya tidak tahu dengan Anda, menurut saya paham nasionalisme mendegredasikan manusia menjadi makhluk tak berprinsip, labil-irasional, serta reaktif-impulsif, nyaris seperti binatang. Konsep ini terlihat makin vulgar manipulasinya ketika kita diminta mati-matian membela kedaulatan wilayah negeri, tapi pada saat yang sama harus merelakan arus modal dan kekayaan alam yang dibawa lari ke luar negeri. Singkatnya wilayah boleh terpecah-belah jadi kecil-kecil dan lokal, tapi kekayaan alam dan pasarnya tetap harus bisa diakses oleh kapitalisme global. Kita sudah menderita lama dijajah, setelah penjajah pergi pun kita masih pakai mindset terjajah, tapi setiap tahun dengan PD-nya teriak “Merdeka!” sambil lomba panjat pinang atau makan kerupuk.
Penjajah memang harus dilawan, tapi setelah mereka hengkang, mengapa mereka masih diberi kesempatan untuk menditke prinsip dan way of life kita? Ketika pertama kali mereka menjajah mungkin kita tak punya banyak pilihan. Tapi ketika mereka sudah pergi, bukankah harusnya kita bebas menentukan cara berfikir dan cara hidup kita sendiri? Prinsip dan logika harusnya tidak pernah berubah. Kecuali memang sejak awal kita sudah tidak memilikinya. Termasuk jati diri kita seharunya tidak labil dan mudah berubah-ubah. Kecuali memang sejak awal kita sudah tidak memilikinya.
Jika sebelumnya kita sudah membangun jati diri yang kokoh dengan logika; bahwasannya sebelum kehidupan pasti ada Pencipta, setelah kehidupan pasti kembali kepada Pencipta, dan cara terbaik menjalani kehidupan adalah dengan mengikuti “instruction manual” Pencipta, maka prinsip dan logic ini akan menjadi pemandu yang kokoh dan konsisten. Tak lekang oleh zaman, tak lapuk oleh waktu, tak labil-reaktif-impulsif oleh penjajah. Tak hanya teori, prinsip ini pernah terbentang selama 13 abad lamanya dalam sejarah; dalam wujud sebuah negara yang dibangun bukan atas dasar emosi dan reaksi situasional, tapi dibangun atas dasar nalar dan kesadaran universal. Negara tersebut adalah Khilafah Islamiyah.
Demikianlah sekilas laporan memory forensic saya, langsung dari crime scene alam berfikir Anda. Ingat baik-baik, Anda bukanlah memori Anda. Never trust your memory. Karena boleh jadi banyak memory smugglers yang selama ini berhasil menyelundupkan berbagai rekayasa informasi ke alam berfikir Anda. Akibatnya tanpa sadar Anda bersikap dan bertindak berdasarkan memori buatan tadi. Nasionalisme hanyalah salah satu contohnya. Tapi jangan khawatir, karena seperti Krickitt, Anda selalu bisa memilah, memilih dan membuat memori baru yang lebih akurat dan produktif. Jaga baik-baik alam berfikir Anda, karena di sanalah wilayah yang pertama kali harus Anda jaga dan bela, sebelum Anda menjaga dan membela wilayah lainnya.























