Jakarta – FusilatNews.–Economist Intelligence Unit (EIU) kembali merilis Global Liveability Index 2026, yang membandingkan kualitas hidup di 173 kota di seluruh dunia. Laporan ini mengukur tingkat kelayakan huni berdasarkan lima indikator utama, yakni stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur.
Dalam pemeringkatan tahun ini, Copenhagen, Denmark, masih menjadi kota paling layak huni di dunia. Posisi tersebut mempertahankan dominasinya setelah berhasil menggeser Vienna pada edisi sebelumnya. Kota ini memperoleh nilai tinggi berkat stabilitas keamanan, sistem pendidikan yang unggul, infrastruktur modern, serta kualitas layanan publik yang konsisten.
Di belakang Copenhagen berturut-turut berada Vienna (Austria), Zurich (Swiss), Melbourne (Australia), Geneva (Swiss), Sydney (Australia), Osaka (Jepang), Auckland (Selandia Baru), Adelaide (Australia), dan Vancouver (Kanada). Kota-kota tersebut dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keamanan, layanan kesehatan, pendidikan, dan kualitas lingkungan perkotaan.
Sebaliknya, kota-kota yang berada di posisi terbawah umumnya masih menghadapi konflik berkepanjangan, ketidakstabilan politik, lemahnya pelayanan publik, hingga buruknya infrastruktur. Damascus (Suriah) tetap menjadi kota dengan tingkat kelayakan hunian terendah, disusul oleh Tripoli (Libya), Karachi (Pakistan), Dhaka (Bangladesh), dan sejumlah kota lain yang masih dibayangi oleh persoalan keamanan maupun krisis ekonomi.
Bagi Indonesia, Jakarta masih berada di kelompok menengah dalam pemeringkatan global. Posisi tersebut menunjukkan bahwa ibu kota masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan, mulai dari kemacetan, kualitas udara, pemerataan layanan kesehatan, hingga penyediaan ruang publik yang lebih ramah bagi masyarakat.
Laporan EIU juga menegaskan bahwa kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi atau kemegahan gedung pencakar langit. Faktor keamanan, kenyamanan hidup, akses pendidikan, layanan kesehatan, transportasi publik, dan keberlanjutan lingkungan justru menjadi penentu utama dalam membangun kota yang layak dihuni.
Di tengah kompetisi global untuk menarik investasi, talenta, dan wisatawan, indeks ini menjadi pengingat bahwa pembangunan perkotaan pada akhirnya harus berorientasi pada kualitas hidup manusia, bukan semata-mata pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.





















