Bandung – Akhirnya pemerintah mengakui sesuatu yang sejak awal telah dipahami masyarakat Jawa Barat: sebuah bandara dibangun bukan semata-mata untuk berdiri megah, melainkan untuk dipakai.
Keputusan membuka kembali Bandara Husein Sastranegara adalah koreksi atas kebijakan yang selama ini dipandang memaksa logika mengikuti ambisi. Ketika hampir seluruh penerbangan dipindahkan ke Kertajati, pemerintah berharap penumpang akan ikut berpindah. Yang terjadi justru sebaliknya. Banyak warga memilih tetap berangkat melalui Jakarta daripada menempuh perjalanan panjang menuju Majalengka.
Bandung kehilangan denyutnya sebagai kota tujuan penerbangan. Dunia usaha kehilangan efisiensi. Industri pariwisata kehilangan kemudahan. Warga kehilangan kenyamanan yang selama puluhan tahun mereka nikmati.
Kini keadaan itu mulai diperbaiki.
Tidak berlebihan jika kabar pembukaan kembali Husein disambut dengan rasa lega. Bukan karena masyarakat menolak keberadaan Kertajati, melainkan karena kebutuhan transportasi tidak dapat dipenuhi hanya dengan logika proyek besar. Infrastruktur harus mengikuti pola aktivitas masyarakat, bukan memaksa masyarakat mengubah seluruh pola hidupnya demi membenarkan sebuah kebijakan.
Bandung adalah kota metropolitan dengan jutaan penduduk. Kota ini merupakan pusat pendidikan, industri kreatif, perdagangan, teknologi, dan pariwisata. Mobilitasnya tinggi. Kecepatan menjadi kebutuhan, bukan kemewahan.
Di sinilah Husein memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak bandara lain: letaknya berada di jantung kota. Dari pusat Bandung, penumpang hanya membutuhkan waktu belasan menit untuk mencapai terminal. Bagi pelaku bisnis, dosen, mahasiswa, wisatawan, hingga keluarga, efisiensi waktu seperti ini memiliki nilai ekonomi yang nyata.
Selama Husein ditutup untuk penerbangan komersial, biaya yang sesungguhnya bukan hanya ongkos perjalanan menuju Kertajati. Yang lebih mahal adalah waktu yang hilang, produktivitas yang menurun, serta peluang ekonomi yang terlewatkan.
Pembukaan kembali Husein merupakan pengakuan bahwa kebijakan publik harus tunduk pada kenyataan di lapangan. Tidak semua proyek dapat berhasil hanya karena telah dibangun. Tidak semua keputusan layak dipertahankan hanya demi menjaga gengsi birokrasi.
Kini tantangan berikutnya adalah keberanian menghidupkan bandara itu secara sungguh-sungguh. Pemerintah bersama maskapai harus segera membuka rute-rute utama seperti Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Makassar, Batam, Balikpapan, serta mengembalikan penerbangan internasional menuju Singapura dan Kuala Lumpur. Tanpa jaringan penerbangan yang memadai, pembukaan Husein hanya akan menjadi seremoni.
Bandung telah menunggu terlalu lama.
Bandung tidak pernah meminta bandara terbesar. Bandung hanya meminta bandara yang mudah dijangkau dan benar-benar melayani masyarakat.
Keputusan ini sekaligus menjadi pelajaran penting bagi perencanaan pembangunan nasional. Infrastruktur yang berhasil bukanlah yang paling mahal atau paling megah, melainkan yang paling bermanfaat bagi rakyat.
Ketika pemerintah akhirnya memilih mendengarkan kenyataan daripada mempertahankan ego kebijakan, sesungguhnya bukan hanya pesawat yang kembali terbang.
Kepercayaan publik pun perlahan ikut lepas landas.























