• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

Ali Syarief by Ali Syarief
July 24, 2026
in Feature, Spiritual
0
Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri
Share on FacebookShare on Twitter

“Maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)

Barangkali tidak ada pertanyaan yang lebih filosofis daripada pertanyaan Al-Qur’an itu.

Bukan ke mana kaki melangkah. Bukan ke kota mana manusia bermukim. Bukan pula profesi apa yang ditekuni. Melainkan: ke mana sebenarnya seluruh hidup ini sedang diarahkan?

Sebab setiap manusia, sadar atau tidak, sedang berjalan menuju sesuatu. Ada yang berjalan mengejar kekuasaan, seolah jabatan adalah puncak kehidupan. Ada yang mengejar kekayaan, seakan angka-angka dalam rekening mampu mengalahkan kematian. Ada yang mengejar kemasyhuran, berharap namanya hidup lebih lama daripada dirinya sendiri.

Namun sejarah memiliki cara yang sangat sunyi untuk menertawakan semua ambisi itu.

Kerajaan-kerajaan runtuh.

Peradaban-peradaban lenyap.

Patung-patung para penguasa berubah menjadi puing.

Nama-nama yang dahulu dielu-elukan perlahan tenggelam menjadi catatan kaki sejarah.

Yang abadi bukanlah manusia.

Yang abadi hanyalah kebenaran.

Mungkin karena itulah Islam tidak memulai ajarannya dengan hukum, melainkan dengan tauhid.

Karena sebelum manusia mengetahui apa yang harus dilakukan, ia harus terlebih dahulu mengetahui untuk siapa hidupnya dijalani.


Banyak orang mengira Islam dimulai dari syariat.

Padahal syariat hanyalah cabang.

Akarnya adalah cara memandang realitas.

Islam bukan sekadar seperangkat aturan yang mengatur bagaimana manusia makan, berpakaian, menikah, berdagang, atau beribadah. Islam adalah sebuah cara memahami keberadaan (way of being), sebuah paradigma tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam semesta, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

Dalam bahasa Arab, kata Islam berasal dari akar kata salima, yang berarti selamat, utuh, damai. Maka berislam pada hakikatnya adalah proses mengembalikan diri kepada keutuhan yang telah lama tercerai-berai oleh ego, ketakutan, dan keserakahan.

Ia bukan sekadar perpindahan agama.

Ia adalah perpindahan cara memandang kehidupan.


Filsuf besar Islam, Ibn Rushd, pernah berpendapat bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang tidak mungkin bertentangan dengan wahyu. Bila keduanya tampak bertentangan, maka yang keliru bukanlah wahyu, melainkan cara manusia memahaminya.

Pandangan itu sangat menarik.

Karena Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan logis.

“Tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17).

“Tidakkah mereka memperhatikan langit?”

“Tidakkah mereka menggunakan akal?”

“Tidakkah mereka berpikir?”

Perhatikan, Al-Qur’an lebih sering mengajukan pertanyaan daripada memberikan dogma.

Seolah-olah Tuhan sedang berkata:

“Aku tidak meminta engkau mematikan akalmu ketika beriman. Aku justru mengundangmu menggunakan akalmu hingga engkau menemukan-Ku.”

Karena iman yang lahir dari perenungan selalu lebih kokoh daripada keyakinan yang lahir dari kebiasaan.


Namun akal memiliki batas.

Ia dapat menjelaskan bagaimana bintang terbentuk.

Ia mampu menghitung usia galaksi.

Ia bisa membelah atom.

Tetapi akal tidak pernah mampu menjawab pertanyaan yang paling sunyi:

Mengapa manusia tetap merasa hampa setelah semua keinginannya terpenuhi?

Di sinilah hati mengambil alih.

Imam Al-Ghazali pernah mengalami krisis intelektual yang luar biasa. Setelah menguasai hampir seluruh cabang ilmu pada zamannya, ia justru merasakan kehampaan yang tidak mampu diisi oleh pengetahuan semata.

Lalu ia menulis sebuah kesimpulan yang sangat indah:

“Ilmu yang tidak mengubah hati hanyalah beban.”

Betapa dalam kalimat itu.

Karena sesungguhnya manusia tidak hanya lapar akan informasi.

Ia lapar akan makna.

Dan makna tidak pernah lahir hanya dari logika.

Makna lahir ketika logika bertemu kesadaran.


Maka tauhid bukan sekadar mengakui bahwa Tuhan itu satu.

Tauhid adalah menyatukan seluruh orientasi hidup.

Ia membebaskan manusia dari segala bentuk penyembahan selain Allah.

Sebab manusia selalu menyembah sesuatu.

Kalau bukan Tuhan, ia akan menyembah uang.

Kalau bukan uang, ia akan menyembah kekuasaan.

Kalau bukan kekuasaan, ia akan menyembah ketenaran.

Kalau bukan ketenaran, ia akan menyembah dirinya sendiri.

Di zaman modern, berhala tidak lagi dibuat dari batu.

Ia dibuat dari ambisi.

Dari algoritma media sosial.

Dari angka-angka popularitas.

Dari rasa ingin selalu dipuji.

Padahal semuanya fana.

Tauhid datang bukan untuk mempersempit kebebasan manusia.

Tauhid justru memerdekakannya.

Karena orang yang hanya tunduk kepada Allah tidak lagi menjadi budak siapa pun.


Lalu mengapa Islam menghadirkan salat?

Karena manusia adalah makhluk yang mudah lupa.

Kesibukan perlahan menghapus kesadaran.

Rutinitas mengikis makna.

Maka lima kali sehari manusia dipanggil kembali.

Bukan karena Allah membutuhkan pujian.

Tetapi karena manusia membutuhkan pengingat.

Puasa mengajarkan bahwa kebebasan bukanlah mengikuti setiap keinginan.

Kebebasan adalah kemampuan mengendalikan keinginan.

Zakat mengingatkan bahwa kepemilikan hanyalah ilusi.

Hari ini kita menyebut sesuatu “milik saya”.

Besok ia diwariskan kepada orang lain.

Lusa, nama kita sendiri mungkin telah dilupakan.

Yang benar-benar kita miliki hanyalah apa yang sempat kita jadikan kebaikan.


Filsuf besar Persia, Mulla Shadra, berbicara tentang gerak substansial (al-harakah al-jawhariyyah): bahwa hakikat manusia bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus bergerak menuju kesempurnaan.

Gagasan ini begitu selaras dengan Islam.

Karena menjadi Muslim bukanlah status.

Ia adalah proses.

Seseorang mungkin telah mengucapkan syahadat puluhan tahun.

Namun pertanyaan sesungguhnya tetap sama:

Apakah jiwanya juga sedang bergerak mendekati Allah?

Sebab Islam bukanlah garis akhir.

Islam adalah perjalanan tanpa henti menuju kedewasaan ruhani.


Di sinilah akhlak menemukan kedudukannya.

Nabi Muhammad ﷺ tidak datang hanya membawa hukum.

Beliau datang untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Maka ukuran keberhasilan agama bukan pertama-tama banyaknya hafalan.

Bukan panjangnya jenggot.

Bukan lebarnya jilbab.

Bukan kerasnya slogan.

Tetapi sejauh mana agama menjadikan seseorang lebih jujur.

Lebih rendah hati.

Lebih adil.

Lebih penyayang.

Lebih dapat dipercaya.

Karena pohon tidak dikenal dari akarnya.

Ia dikenal dari buahnya.

Demikian pula iman.

Ia dikenali dari akhlaknya.


Pada akhirnya, berislam adalah perjalanan pulang.

Pulang dari kebisingan menuju keheningan.

Pulang dari ego menuju kerendahan hati.

Pulang dari kecemasan menuju ketenteraman.

Pulang dari penyembahan kepada dunia menuju penghambaan kepada Allah.

Mungkin karena itu Allah berfirman:

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28).

Perhatikanlah.

Ayat itu tidak memanggil manusia dengan gelarnya.

Bukan dengan hartanya.

Bukan dengan pangkatnya.

Bukan dengan ketenarannya.

Yang dipanggil adalah jiwa.

Karena pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup bukanlah tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang siapa diri kita ketika kembali kepada-Nya.

Maka esensi berislam bukanlah semata-mata menjalankan ritual, melainkan menata seluruh keberadaan agar kembali kepada fitrah. Menjadikan akal sebagai cahaya yang menuntun pencarian, hati sebagai ruang tempat cahaya itu bersemayam, dan akhlak sebagai buah yang dapat dinikmati oleh sesama.

Ketika akal menemukan Tuhan, ia berhenti menyombongkan dirinya.

Ketika hati mengenal Tuhan, ia berhenti mencari tuhan-tuhan yang lain.

Dan ketika keduanya berpadu dalam keikhlasan, lahirlah manusia yang utuh—manusia yang tidak hanya mengenal Allah dengan lisannya, tetapi menghadirkan-Nya dalam setiap pikiran, setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap hembusan kasih kepada makhluk-Nya.

Mungkin di situlah makna terdalam dari Islam: bukan sekadar agama yang dianut, melainkan jalan pulang menuju hakikat diri. Sebab manusia yang paling dekat dengan Tuhan bukanlah yang paling banyak berbicara tentang-Nya, melainkan yang paling memantulkan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan: kasih sayang, keadilan, kejujuran, amanah, dan kebijaksanaan.

Karena pada akhirnya, berislam adalah belajar menjadi manusia—manusia yang utuh, yang merdeka dari segala selain Allah, dan yang pulang membawa hati yang bening.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mizan: Ketika Siklus Alam Menjadi Inspirasi Siklus Kekayaan (Refleksi Surah Ar-Rahman tentang Keseimbangan Kehidupan Sosial dan Ekonomi)

Next Post

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu
Feature

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

July 24, 2026
Feature

Mizan: Ketika Siklus Alam Menjadi Inspirasi Siklus Kekayaan (Refleksi Surah Ar-Rahman tentang Keseimbangan Kehidupan Sosial dan Ekonomi)

July 24, 2026
Feature

Integrasi Etika Kerja Islam dalam Meningkatkan Kesiapan Karier Berorientasi Masa Depan bagi Lulusan Baru (Fresh Graduates)

July 24, 2026
Next Post
Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

July 24, 2026
Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

July 24, 2026

Mizan: Ketika Siklus Alam Menjadi Inspirasi Siklus Kekayaan (Refleksi Surah Ar-Rahman tentang Keseimbangan Kehidupan Sosial dan Ekonomi)

July 24, 2026

Integrasi Etika Kerja Islam dalam Meningkatkan Kesiapan Karier Berorientasi Masa Depan bagi Lulusan Baru (Fresh Graduates)

July 24, 2026
Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar Hari Ini di PN Jakarta Timur, Agenda Pembacaan Dakwaan

Eksepsi Dikabulkan, Dakwaan Gugur: Jaksa Sedang Bermain Apa?

July 23, 2026

Ketika AI Menulis, Siapa yang Sebenarnya Berpikir?

July 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

Hidayah Itu Hanya Sampai kepada Orang yang Berilmu

July 24, 2026
Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

Esensi Berislam: Ketika Akal Menemukan Tuhan, Hati Menemukan Diri

July 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...