“Maka ke manakah kamu akan pergi?” (QS. At-Takwir: 26)
Barangkali tidak ada pertanyaan yang lebih filosofis daripada pertanyaan Al-Qur’an itu.
Bukan ke mana kaki melangkah. Bukan ke kota mana manusia bermukim. Bukan pula profesi apa yang ditekuni. Melainkan: ke mana sebenarnya seluruh hidup ini sedang diarahkan?
Sebab setiap manusia, sadar atau tidak, sedang berjalan menuju sesuatu. Ada yang berjalan mengejar kekuasaan, seolah jabatan adalah puncak kehidupan. Ada yang mengejar kekayaan, seakan angka-angka dalam rekening mampu mengalahkan kematian. Ada yang mengejar kemasyhuran, berharap namanya hidup lebih lama daripada dirinya sendiri.
Namun sejarah memiliki cara yang sangat sunyi untuk menertawakan semua ambisi itu.
Kerajaan-kerajaan runtuh.
Peradaban-peradaban lenyap.
Patung-patung para penguasa berubah menjadi puing.
Nama-nama yang dahulu dielu-elukan perlahan tenggelam menjadi catatan kaki sejarah.
Yang abadi bukanlah manusia.
Yang abadi hanyalah kebenaran.
Mungkin karena itulah Islam tidak memulai ajarannya dengan hukum, melainkan dengan tauhid.
Karena sebelum manusia mengetahui apa yang harus dilakukan, ia harus terlebih dahulu mengetahui untuk siapa hidupnya dijalani.
Banyak orang mengira Islam dimulai dari syariat.
Padahal syariat hanyalah cabang.
Akarnya adalah cara memandang realitas.
Islam bukan sekadar seperangkat aturan yang mengatur bagaimana manusia makan, berpakaian, menikah, berdagang, atau beribadah. Islam adalah sebuah cara memahami keberadaan (way of being), sebuah paradigma tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam semesta, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.
Dalam bahasa Arab, kata Islam berasal dari akar kata salima, yang berarti selamat, utuh, damai. Maka berislam pada hakikatnya adalah proses mengembalikan diri kepada keutuhan yang telah lama tercerai-berai oleh ego, ketakutan, dan keserakahan.
Ia bukan sekadar perpindahan agama.
Ia adalah perpindahan cara memandang kehidupan.
Filsuf besar Islam, Ibn Rushd, pernah berpendapat bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang tidak mungkin bertentangan dengan wahyu. Bila keduanya tampak bertentangan, maka yang keliru bukanlah wahyu, melainkan cara manusia memahaminya.
Pandangan itu sangat menarik.
Karena Al-Qur’an sendiri berkali-kali mengajukan pertanyaan-pertanyaan logis.
“Tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana diciptakan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17).
“Tidakkah mereka memperhatikan langit?”
“Tidakkah mereka menggunakan akal?”
“Tidakkah mereka berpikir?”
Perhatikan, Al-Qur’an lebih sering mengajukan pertanyaan daripada memberikan dogma.
Seolah-olah Tuhan sedang berkata:
“Aku tidak meminta engkau mematikan akalmu ketika beriman. Aku justru mengundangmu menggunakan akalmu hingga engkau menemukan-Ku.”
Karena iman yang lahir dari perenungan selalu lebih kokoh daripada keyakinan yang lahir dari kebiasaan.
Namun akal memiliki batas.
Ia dapat menjelaskan bagaimana bintang terbentuk.
Ia mampu menghitung usia galaksi.
Ia bisa membelah atom.
Tetapi akal tidak pernah mampu menjawab pertanyaan yang paling sunyi:
Mengapa manusia tetap merasa hampa setelah semua keinginannya terpenuhi?
Di sinilah hati mengambil alih.
Imam Al-Ghazali pernah mengalami krisis intelektual yang luar biasa. Setelah menguasai hampir seluruh cabang ilmu pada zamannya, ia justru merasakan kehampaan yang tidak mampu diisi oleh pengetahuan semata.
Lalu ia menulis sebuah kesimpulan yang sangat indah:
“Ilmu yang tidak mengubah hati hanyalah beban.”
Betapa dalam kalimat itu.
Karena sesungguhnya manusia tidak hanya lapar akan informasi.
Ia lapar akan makna.
Dan makna tidak pernah lahir hanya dari logika.
Makna lahir ketika logika bertemu kesadaran.
Maka tauhid bukan sekadar mengakui bahwa Tuhan itu satu.
Tauhid adalah menyatukan seluruh orientasi hidup.
Ia membebaskan manusia dari segala bentuk penyembahan selain Allah.
Sebab manusia selalu menyembah sesuatu.
Kalau bukan Tuhan, ia akan menyembah uang.
Kalau bukan uang, ia akan menyembah kekuasaan.
Kalau bukan kekuasaan, ia akan menyembah ketenaran.
Kalau bukan ketenaran, ia akan menyembah dirinya sendiri.
Di zaman modern, berhala tidak lagi dibuat dari batu.
Ia dibuat dari ambisi.
Dari algoritma media sosial.
Dari angka-angka popularitas.
Dari rasa ingin selalu dipuji.
Padahal semuanya fana.
Tauhid datang bukan untuk mempersempit kebebasan manusia.
Tauhid justru memerdekakannya.
Karena orang yang hanya tunduk kepada Allah tidak lagi menjadi budak siapa pun.
Lalu mengapa Islam menghadirkan salat?
Karena manusia adalah makhluk yang mudah lupa.
Kesibukan perlahan menghapus kesadaran.
Rutinitas mengikis makna.
Maka lima kali sehari manusia dipanggil kembali.
Bukan karena Allah membutuhkan pujian.
Tetapi karena manusia membutuhkan pengingat.
Puasa mengajarkan bahwa kebebasan bukanlah mengikuti setiap keinginan.
Kebebasan adalah kemampuan mengendalikan keinginan.
Zakat mengingatkan bahwa kepemilikan hanyalah ilusi.
Hari ini kita menyebut sesuatu “milik saya”.
Besok ia diwariskan kepada orang lain.
Lusa, nama kita sendiri mungkin telah dilupakan.
Yang benar-benar kita miliki hanyalah apa yang sempat kita jadikan kebaikan.
Filsuf besar Persia, Mulla Shadra, berbicara tentang gerak substansial (al-harakah al-jawhariyyah): bahwa hakikat manusia bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus bergerak menuju kesempurnaan.
Gagasan ini begitu selaras dengan Islam.
Karena menjadi Muslim bukanlah status.
Ia adalah proses.
Seseorang mungkin telah mengucapkan syahadat puluhan tahun.
Namun pertanyaan sesungguhnya tetap sama:
Apakah jiwanya juga sedang bergerak mendekati Allah?
Sebab Islam bukanlah garis akhir.
Islam adalah perjalanan tanpa henti menuju kedewasaan ruhani.
Di sinilah akhlak menemukan kedudukannya.
Nabi Muhammad ﷺ tidak datang hanya membawa hukum.
Beliau datang untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Maka ukuran keberhasilan agama bukan pertama-tama banyaknya hafalan.
Bukan panjangnya jenggot.
Bukan lebarnya jilbab.
Bukan kerasnya slogan.
Tetapi sejauh mana agama menjadikan seseorang lebih jujur.
Lebih rendah hati.
Lebih adil.
Lebih penyayang.
Lebih dapat dipercaya.
Karena pohon tidak dikenal dari akarnya.
Ia dikenal dari buahnya.
Demikian pula iman.
Ia dikenali dari akhlaknya.
Pada akhirnya, berislam adalah perjalanan pulang.
Pulang dari kebisingan menuju keheningan.
Pulang dari ego menuju kerendahan hati.
Pulang dari kecemasan menuju ketenteraman.
Pulang dari penyembahan kepada dunia menuju penghambaan kepada Allah.
Mungkin karena itu Allah berfirman:
“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28).
Perhatikanlah.
Ayat itu tidak memanggil manusia dengan gelarnya.
Bukan dengan hartanya.
Bukan dengan pangkatnya.
Bukan dengan ketenarannya.
Yang dipanggil adalah jiwa.
Karena pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup bukanlah tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang siapa diri kita ketika kembali kepada-Nya.
Maka esensi berislam bukanlah semata-mata menjalankan ritual, melainkan menata seluruh keberadaan agar kembali kepada fitrah. Menjadikan akal sebagai cahaya yang menuntun pencarian, hati sebagai ruang tempat cahaya itu bersemayam, dan akhlak sebagai buah yang dapat dinikmati oleh sesama.
Ketika akal menemukan Tuhan, ia berhenti menyombongkan dirinya.
Ketika hati mengenal Tuhan, ia berhenti mencari tuhan-tuhan yang lain.
Dan ketika keduanya berpadu dalam keikhlasan, lahirlah manusia yang utuh—manusia yang tidak hanya mengenal Allah dengan lisannya, tetapi menghadirkan-Nya dalam setiap pikiran, setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap hembusan kasih kepada makhluk-Nya.
Mungkin di situlah makna terdalam dari Islam: bukan sekadar agama yang dianut, melainkan jalan pulang menuju hakikat diri. Sebab manusia yang paling dekat dengan Tuhan bukanlah yang paling banyak berbicara tentang-Nya, melainkan yang paling memantulkan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan: kasih sayang, keadilan, kejujuran, amanah, dan kebijaksanaan.
Karena pada akhirnya, berislam adalah belajar menjadi manusia—manusia yang utuh, yang merdeka dari segala selain Allah, dan yang pulang membawa hati yang bening.




















