Oleh: Ali Syarief
Banyak orang mengira bahwa hidayah adalah sesuatu yang turun begitu saja dari langit, tanpa syarat, tanpa proses, tanpa ikhtiar. Seolah-olah Tuhan memilih secara acak siapa yang akan memperoleh petunjuk dan siapa yang tidak. Padahal, jika kita membaca Al-Qur’an secara utuh dan mengamati hukum-hukum kehidupan, tampak bahwa hidayah hampir selalu menemukan jalannya melalui ilmu.
Hidayah bukan sekadar cahaya. Ia adalah kemampuan melihat apa yang sebelumnya tidak terlihat. Dan kemampuan melihat hanya dimiliki oleh orang yang memiliki pengetahuan.
Bayangkan seorang ahli meteorologi. Ketika langit masih tampak cerah bagi kebanyakan orang, ia sudah mengetahui bahwa beberapa jam lagi akan turun badai. Ia tidak sedang meramal. Ia hanya mampu membaca tanda-tanda yang tidak dipahami oleh orang awam.
Ilmunya membuatnya melihat sesuatu yang tidak kasatmata.
Pengetahuan tentang arah angin, tekanan udara, kelembapan, dan citra satelit menjadikannya mampu memberi peringatan. Informasi itu kemudian menjadi dasar bagi pilot untuk menyusun flight plan yang aman. Kapten kapal menentukan jalur pelayaran. Nelayan memutuskan kapan harus berangkat. Petani memilih waktu terbaik untuk menanam atau menunda panen.
Orang lain menikmati manfaatnya, tetapi kemampuan membaca tanda hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki ilmu.
Begitu pula hidayah.
Allah menciptakan alam semesta dengan penuh tanda (ayat). Matahari, bulan, pergantian malam dan siang, sejarah umat terdahulu, bahkan pengalaman hidup manusia sendiri adalah bahasa Tuhan yang terus berbicara. Namun, tidak semua orang mampu membacanya.
Bukan karena tanda itu tersembunyi, melainkan karena mereka tidak memiliki perangkat untuk memahaminya.
Seorang dokter melihat gejala penyakit dari perubahan yang tampak sepele. Seorang insinyur melihat potensi runtuhnya sebuah jembatan dari retakan kecil. Seorang ekonom membaca ancaman krisis dari angka-angka yang bagi orang lain hanyalah statistik.
Ilmu membuat seseorang mampu menangkap makna di balik fakta.
Begitu pula seorang mukmin. Semakin luas ilmunya, semakin mudah ia membaca isyarat Allah dalam kehidupan.
Karena itulah Al-Qur’an berkali-kali bertanya,
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Pertanyaan itu bukan sekadar membandingkan tingkat kecerdasan, melainkan menunjukkan bahwa kemampuan menerima petunjuk bergantung pada kemampuan memahami.
Bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah perintah salat, puasa, atau zakat.
Perintah pertama adalah:
“Iqra’.”
Bacalah.
Membaca bukan hanya huruf, tetapi membaca realitas. Membaca alam. Membaca sejarah. Membaca manusia. Membaca diri sendiri. Membaca hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan di alam semesta.
Tanpa membaca, hidayah tidak mempunyai pintu untuk masuk.
Ilmu ibarat antena.
Gelombang radio memenuhi udara setiap saat, tetapi hanya radio yang memiliki perangkat penerima yang dapat mengubah gelombang itu menjadi suara.
Demikian pula petunjuk Allah selalu hadir melalui ayat-ayat-Nya yang terbentang di alam dan dalam kehidupan. Namun hanya hati yang diperkaya ilmu yang mampu menangkap frekuensinya.
Karena itu, kebodohan sering kali bukan sekadar ketiadaan pengetahuan. Ia adalah penyebab seseorang gagal membaca tanda-tanda Allah.
Inilah mengapa fanatisme lahir dari ketidaktahuan. Mengapa kesombongan tumbuh dari minimnya pemahaman. Mengapa fitnah berkembang ketika orang berhenti belajar.
Semakin sedikit ilmu, semakin sempit cara melihat dunia.
Sebaliknya, semakin dalam ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Sebab ia menyadari betapa luas ciptaan Allah dan betapa sedikit yang telah diketahuinya.
Maka doa seorang pencari ilmu bukan hanya meminta pengetahuan, tetapi juga memohon hidayah.
Dan hidayah itu sendiri datang melalui ilmu yang diamalkan.
Allah tidak sedang menyembunyikan petunjuk-Nya dari manusia. Yang sering terjadi justru manusialah yang tidak menyiapkan dirinya untuk memahami petunjuk itu.
Sebagaimana seorang pilot mempercayai laporan cuaca karena disusun oleh orang yang berilmu, demikian pula seorang mukmin belajar mempercayai hukum-hukum Allah karena ia memahami hikmah yang melatarinya.
Pada akhirnya, hidayah bukanlah keajaiban yang memutus hukum sebab-akibat.
Hidayah adalah buah dari kesediaan manusia untuk terus belajar, berpikir, merenung, dan membaca tanda-tanda Tuhan yang tersebar di seluruh alam.
Sebab cahaya hanya berguna bagi mata yang terbuka.
Dan mata hanya benar-benar terbuka ketika diterangi oleh ilmu.
























