Jakarta – Bukan Prabowo Subianto namanya kalau tidak provokatif. Ia menyebut wartawan, pengamat dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai “Londo Ireng” (Belanda berkulit hitam).
Oleh Prabowo, “Londo Ireng” tersebut dijadikan kambing hitam atau “Wedhus Ireng” atas kegagalannya memimpin Indonesia.
Dalam pemberantasan korupsi, Prabowo dinilai gagal. Sebab kasus korupsi di Indonesia masih marak. Bahkan dengan jumlah kerugian mencapai ratusan triliun rupiah.
Ironisnya, korupsi itu banyak melibatkan pejabat yang merupakan orang-orang kepercayaan Prabowo. Sebut saja mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, dan mantan Jaksa Agung Muda Timdak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Dalam memberantas kemiskinan, Prabowo juga gagal. Ia mengakui sendiri bahwa angka kemiskinan, termasuk kemiskinan ekstrem, masih tinggi di Indonesia.
Dalam menciptakan lapangan kerja, Prabowo juga belum berhasil. Jangankan menciptakan 19 juta lapangan kerja seperti yang dijanjikan Gibran Rakabuming Raka saat berkampanye. Saat ini yang terjadi justru sebaliknya: banyak pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ironisnya, saat dikritik, Prabowo justru tidak suka. Ia menyebut para pengkritiknya sebagai antek-antek asing-lah, Londo Ireng-lah. Para pengkritik justru dijadikan kambing hitam.
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan (jurnalis), pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa?” kata Presiden RI itu dalam pidatonya pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7/2026), seperti dilansir banyak media.
Di zaman penjajahan dulu, Londo Ireng adalah sebutan bagi pribumi yang dianggap berkhianat dengan membantu atau bekerja untuk pemerintah kolonial Belanda.
Prabowo menilai, sejak zaman penjajahan dulu, sudah ada orang-orang Indonesia yang tidak patriotik dan justru mengabdi kepada bangsa lain. Prabowo sering menyebut orang semacam ini sebagai antek-antek asing.
Kalau parameter Londo Ireng atau antek-antek asing adalah suka mengkritik pemerintah, maka mayoritas rakyat Indonesia adalah Londo Ireng dan antek-antek asing semua. Sebab bukan hanya wartawan, pengamat atau LSM yang suka mengkritik pemerintah. Rakyat kebanyakan pun suka.
Parameter patriotisme juga bukan pro atau kontra pemerintah. Mengkritik pemerintah itu justru merupakan manifestasi dari rasa cinta Tanah Air, cerminan nasionalisme dan patriotisme.
Apalagi wartawan. Salah satu tugas wartawan adalah melakukan kontrol sosial. Kalau wartawan melempem atau membeo ke pemerintah, sebaiknya menjadi petugas hubungan masyarakat (humas) pemerintah saja.
Kebebasan berpendapat juga dijamin konstitusi. Indonesia adalah negara demokrasi, Bung!
Mengapa pula Prabowo mempertanyakan siapa yang menggaji LSM? Memangnya pemerintah mau menggaji?
Kalau pemerintah tidak dikontrol wartawan, pengamat dan LSM maka akan mudah melakukan abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan, bahkan barbar.
Penyalahgunaan kekuasaan itu antara lain korupsi. Lord Acton (1834-1902) berpesan, “The power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.”
DPR Membebek dan Membeo
Apakah Prabowo akan menyebut patriotik hanya kepada mereka yang pandai menjilat, membebek dan membeo? Sementara yang kritis dia sebut sebagai Londo Ireng atau antek-antek asing. Betapa naifnya Prabowo.
Kritik dari wartawan, pengamat dan LSM kini justru makin menemukan momentum dan relevansinya ketika DPR RI hanya menjadi lembaga tukang stempel saja bagi pemerintah seperti di era Orde Baru. Ketika DPR telah gagal melaksanakan fungsi “check and balances”. DPR kini hanya bisa membebek dan membeo.
Pun partai politik-partai politik. Lihat saja. Dalam HUT ke-28 yang dihadiri Prabowo, PKB mengusung tema Prabowonomic. Para kader PKB dalam acara itu juga mengenakan kaus seragam bertuliskan “Prabowonomic”. Untuk apa kalau bukan menjilat?
Menteri boleh tidak berprestasi. Asal pandai menjilat. Menteri boleh bergaya hidup mewah. Asal pandai menjilat.
Kalau bisa menjilat, semua akan aman-aman saja. Bahkan akan ditambah jabatannya. Soal prestasi, itu nomor sekian. Yang penting loyal.























