FusilatNews – Di ruang bersalin, hampir semua cerita dimulai dengan cara yang sama. Bayi menangis. Ibu tersenyum lelah. Lalu datang kalimat yang terdengar sederhana: sekarang susui bayinya.
Seolah-olah setelah proses melahirkan yang panjang, tubuh perempuan secara otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Seolah alam sudah menyiapkan semuanya. Seolah payudara adalah keran yang tinggal dibuka.
Tetapi bagi banyak perempuan, di situlah justru babak sulit dimulai.
Hari-hari pertama setelah melahirkan sering kali lebih mirip ruang ujian daripada ruang kebahagiaan. Bayi terus menangis. Puting terasa nyeri. Tubuh belum pulih. Tidur hanya hitungan menit. Lalu datang pertanyaan yang pelan-pelan berubah menjadi rasa takut: jangan-jangan ASI saya tidak cukup.
Dunia medis selama bertahun-tahun cenderung melihat masalah itu dengan sederhana. Kasus produksi ASI yang benar-benar rendah dianggap tidak terlalu banyak. Maka resepnya hampir selalu sama: lebih sering menyusui, lebih sering memompa, lebih sering menempelkan bayi ke payudara. Semakin banyak permintaan, semakin banyak pasokan.
Secara teori masuk akal.
Tetapi teori sering bekerja terlalu rapi. Kehidupan nyata tidak.
Masalah menyusui ternyata bukan sekadar urusan tubuh perempuan yang menghasilkan susu. Ia bertemu dengan kelelahan, tekanan sosial, kecemasan, aturan kerja, bahkan industri bernilai miliaran dolar. Di sinilah cerita menjadi lebih rumit.
Di negara-negara kaya, paradoks justru muncul. Banyak ibu memulai menyusui, tetapi cukup banyak pula yang berhenti lebih cepat dari rencana awalnya. Salah satu alasan yang paling sering muncul bukan karena penyakit atau gangguan medis, melainkan keyakinan bahwa ASI mereka tidak cukup. Dunia kesehatan bahkan mengenal istilah khusus: perceived insufficient milk supply—perasaan bahwa produksi ASI kurang, meskipun belum tentu demikian.
Perasaan itu tidak muncul dari ruang kosong.
Di Amerika, Inggris, dan beberapa negara maju lain, ibu baru sering kembali menghadapi ritme hidup yang bergerak terlalu cepat. Cuti melahirkan yang terbatas, tekanan pekerjaan, minimnya ruang laktasi, hingga kelelahan mental ikut menjadi bagian dari masalah. Di Inggris, tingkat menyusui enam bulan setelah kelahiran bahkan termasuk yang rendah dibandingkan dengan banyak negara lain.
Ironisnya, negara yang lebih makmur tidak otomatis lebih ramah terhadap ibu menyusui. UNICEF pernah menemukan bahwa lebih dari satu dari lima bayi di negara berpendapatan tinggi bahkan tidak pernah memperoleh ASI sama sekali. Angka itu jauh berbeda dibandingkan dengan banyak negara berkembang.
Indonesia juga tidak kebal.
Kita sering mendengar slogan “ASI eksklusif”, spanduk di puskesmas, atau kampanye kesehatan yang menempatkan ASI sebagai standar emas. Tetapi kenyataan di lapangan sering lebih berliku. Dukungan konseling menyusui belum merata, ibu bekerja masih kesulitan memperoleh ruang dan waktu memadai, sementara tekanan ekonomi membuat banyak perempuan harus segera kembali bekerja. Dalam beberapa tahun terakhir, indikator menyusui di Indonesia bahkan menunjukkan penurunan.
Di sisi lain ada industri susu formula yang terus tumbuh dan semakin agresif. Bahasa iklannya dibuat halus: meningkatkan kecerdasan, mendukung tumbuh kembang, memperkuat imunitas. Pesannya jarang terdengar seperti perintah. Tetapi efeknya bisa diam-diam meruntuhkan kepercayaan diri seorang ibu. WHO dan UNICEF berkali-kali mengingatkan bahwa pemasaran pengganti ASI yang tidak tepat dapat memengaruhi keyakinan orang tua terhadap kemampuan menyusui.
Yang paling menyakitkan mungkin bukan kurangnya ASI itu sendiri.
Yang paling menyakitkan adalah rasa bersalah.
Karena pada akhirnya banyak perempuan merasa tubuh mereka sedang diadili. Ketika bayi terus menangis, yang dipersalahkan adalah dirinya. Ketika ASI sedikit, yang merasa gagal adalah dirinya. Ketika harus memberi susu tambahan, yang merasa kalah juga dirinya.
Padahal menjadi ibu bukan perlombaan biologis.
Kita terlalu lama membangun mitos bahwa menyusui adalah kemampuan alami yang otomatis hadir begitu bayi lahir. Padahal sesuatu yang alami tidak selalu berarti mudah. Alam menghadirkan hujan, tetapi petani tetap harus bekerja keras agar padi tumbuh.
Begitu pula ibu.
Mungkin sudah waktunya berhenti bertanya, mengapa ibu ini tidak bisa menyusui dengan sempurna?
Dan mulai bertanya sesuatu yang lebih manusiawi:
Siapa yang sudah membantu ibu ini berjuang?

























