• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Prabowo: Dari Wibawa Menuju Olok-Olok

Ali Syarief by Ali Syarief
May 18, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Ada perbedaan mendasar antara seorang komandan dan seorang kepala negara. Komandan hidup dalam dunia instruksi: perintah harus jelas, cepat, tegas, dan dilaksanakan. Tidak banyak ruang untuk keraguan, apalagi perdebatan panjang. Sementara seorang presiden hidup dalam ruang yang jauh lebih rumit. Ia memimpin manusia dengan beragam kepentingan, emosi, latar belakang, dan aspirasi. Di sana, bahasa bukan sekadar alat komando, melainkan jembatan untuk menyatukan.

Di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berubah, sebagian publik mulai menilai gaya komunikasi Prabowo masih memperlihatkan watak seorang komandan. Bukan semata-mata dari isi pidato, tetapi juga dari nada suara, pilihan diksi, hingga cara pesan disampaikan. Gaya yang muncul sering kali terkesan datang dari posisi yang merasa harus didengar, bukan dari posisi yang berusaha mendengar.

Padahal seorang presiden bukan hanya pemegang kekuasaan formal negara. Ia juga menjadi simbol keteduhan, penyeimbang kegaduhan, dan penyambung jarak antara negara dengan rakyatnya. Bahasa seorang kepala negara semestinya memiliki dimensi yang lebih luas: bukan hanya menyampaikan kehendak, tetapi juga membaca suasana batin masyarakat.

Masalahnya, dalam politik modern, persoalan tidak berhenti pada apa yang diucapkan. Persoalan sesungguhnya justru terletak pada kemampuan membaca situasi. Politik bukan panggung monolog. Politik adalah ruang dialog yang menuntut sensitivitas tinggi terhadap perubahan suasana publik.

Ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi, keresahan sosial, atau rasa frustrasi terhadap berbagai keadaan, publik tidak sedang membutuhkan pertunjukan kekuatan. Mereka mencari empati. Mereka menunggu pengakuan bahwa kesulitan yang mereka alami benar-benar dipahami.

Di sinilah kritik mulai bermunculan. Sebagian kalangan menilai sejumlah pernyataan yang disampaikan sering kali tidak bertemu dengan kenyataan yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Ada jarak antara narasi yang dibangun dengan realitas yang dihadapi rakyat. Dan dalam politik, jarak kecil yang dibiarkan terus membesar bisa berubah menjadi jurang kepercayaan.

Sejarah politik berkali-kali memperlihatkan satu pelajaran sederhana: rakyat bisa memaafkan kekurangan, tetapi sulit menerima kesan bahwa mereka tidak dipahami. Ketika masyarakat merasa suaranya tidak didengar, respons yang muncul biasanya tidak langsung berupa kemarahan besar. Ia dimulai dari kejenuhan.

Kejenuhan itu mula-mula hadir dalam bentuk keluhan. Lalu berubah menjadi sindiran. Setelah itu lahir olok-olok, meme, lelucon, dan berbagai bentuk ekspresi lain yang menunjukkan menurunnya rasa hormat psikologis. Pada tahap tertentu, publik tidak lagi memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang memiliki wibawa, melainkan sekadar objek yang bebas diparodikan.

Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan persoalan apakah rakyat menjadi lebih berani atau lebih kurang ajar. Yang terjadi sering kali lebih sederhana: rasa kagum mulai menurun dan jarak emosional antara pemimpin dan rakyat semakin melebar.

Sebab kekuasaan sejatinya memiliki batas. Jabatan memiliki akhir. Pengaruh memiliki masa. Tetapi ucapan, gaya, dan cara seorang pemimpin berbicara dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada masa kekuasaannya sendiri.

Barangkali persoalannya bukan karena Prabowo terlalu banyak bicara. Persoalannya mungkin karena publik mulai merasa bahwa yang terdengar bukan suara seorang presiden yang sedang merangkul sebuah bangsa, melainkan gema seorang komandan yang masih berbicara kepada pasukannya.

Dan ketika rakyat mulai merasa lelah mendengar, di situlah alarm politik sesungguhnya mulai berbunyi.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui
Feature

Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

May 18, 2026
Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak
Feature

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

May 17, 2026
Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa
Feature

Jangan Ikuti Usul Menag RI: Lakukan Kurban Seperti Biasa

May 17, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Prabowo: Dari Wibawa Menuju Olok-Olok

May 18, 2026
Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

May 18, 2026
Arab Saudi Beri Kuota 1 Juta Jemaah Haji Indonesia Tahun Ini, Simak Ketentuannya

Hasil Hisab Tim Kemenag: Idul Adha 1447 H Diperkirakan Jatuh pada 27 Mei 2026

May 17, 2026
Konsumsi Beras di Jepang Turun 6 Persen, Sentuh Titik Terendah dalam Tujuh Tahun

Konsumsi Beras di Jepang Turun 6 Persen, Sentuh Titik Terendah dalam Tujuh Tahun

May 17, 2026
BREAKING NEWS  Rupiah Tembus Rp17.600, Jatuh Terpuruk Paling Rendah, The Economist Soroti Risiko Ekonomi di Era Prabowo

BREAKING NEWS Rupiah Tembus Rp17.600, Jatuh Terpuruk Paling Rendah, The Economist Soroti Risiko Ekonomi di Era Prabowo

May 17, 2026
Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

Tip Agar Tidak Cepat Menjadi Tua: Jangan Berhenti Bergerak

May 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Prabowo: Dari Wibawa Menuju Olok-Olok

May 18, 2026
Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

Fenomena ASI Mulai Berkurang Pada Ibu-Ibu Menyusui

May 18, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist