By Ommi Lily
Di sebuah negeri yang katanya menjunjung tinggi pendidikan, moral, dan masa depan generasi, kita menemukan sebuah keajaiban logika yang sulit dijelaskan dengan teori ekonomi mana pun. Mungkin ini bukan soal angka. Ini soal keberanian menertawakan realitas.
Coba kita lihat daftar kecil ini. Ahli gizi digaji 5 juta. Kepala dapur 7 juta. Akuntan 5 juta. Pengantar ompreng 3 juta. Tukang cuci piring 2,7 juta. Semua layak, semua bekerja, semua berhak hidup pantas.
Lalu kita menoleh ke ruang kelas.
Guru honorer yang mengajar bertahun tahun, membentuk karakter, menanam pengetahuan, menghadapi murid, orang tua, administrasi, rapat, kurikulum yang berganti seperti musim. Gajinya 300 ribu per bulan. Bahkan ada yang lebih sunyi lagi, hanya menerima 90 ribu per bulan. Ya, 90 ribu. Uang yang bahkan kalah cepat habis dibanding kuota internet untuk mengisi raport digital.
Di dapur, piring kotor tidak boleh menumpuk.
Di sekolah, masa depan anak bangsa boleh menumpuk tanpa perhatian.
Di dapur, ompreng terlambat diantar bisa ditegur.
Di sekolah, guru terlambat digaji dianggap biasa.
Di dapur, bahan makanan harus bergizi.
Di sekolah, guru yang mengajarkan gizi hidup pas pasan.
Sungguh keseimbangan semesta yang unik. Yang mencuci piring mendapat 2,7 juta agar piring bersih. Yang mencuci pikiran anak bangsa mendapat 300 ribu agar cita cita tetap kotor oleh ketidakadilan.
Ini bukan soal iri. Ini soal cermin.
Negeri ini tampaknya lebih takut piring kotor daripada pikiran kosong.
Lebih khawatir ompreng terlambat daripada ilmu terlantar.
Lalu kita bertanya pelan, sambil tersenyum pahit.
Menurut sobat, apakah ini sudah tepat?
Atau jangan jangan, kita memang sedang hidup dalam satire yang terlalu nyata untuk disebut lelucon.
Ommi Lily
By Ommi Lily




















