• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Gelombang Global Sekularisasi dan Tantangan Baru Pendidikan Islam

Ali Syarief by Ali Syarief
January 12, 2026
in Feature, Komunitas
0
Gelombang Global Sekularisasi dan Tantangan Baru Pendidikan Islam
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Dalam dua dekade terakhir, dunia menghadapi tren global yang kurang kondusif terhadap agama. Fenomena ini bukan sekadar asumsi normatif, melainkan didukung oleh data empirik dari berbagai lembaga riset internasional. Pew Research Center dan World Values Survey—dua institusi yang selama bertahun-tahun memotret dinamika religiositas global—menunjukkan kecenderungan menurunnya afiliasi terhadap agama formal, khususnya di negara-negara maju. Temuan ini juga diperkuat oleh kajian mutakhir Ronald Inglehart dan Pippa Norris dalam studi mereka tentang existential security theory, yang menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kesejahteraan dan rasa aman eksistensial suatu masyarakat, semakin berkurang ketergantungannya pada institusi agama.

Secara global, dua agama besar mengalami tren penurunan jumlah penganut aktif: Kristen dan Hindu. Sebaliknya, satu-satunya agama yang terus tumbuh secara kuantitatif adalah Islam. Namun, pertumbuhan ini bukan terutama disebabkan oleh peningkatan konversi atau revivalisme keagamaan, melainkan oleh faktor demografis: tingkat fertilitas yang relatif tinggi di negara-negara mayoritas Muslim.

Pertanyaan kuncinya: apakah agama Islam mendorong tingginya angka kelahiran? Data menunjukkan sebaliknya. Di negara-negara Muslim dengan GDP per kapita tinggi—seperti Turki, Iran, atau negara Teluk—tingkat fertilitas justru rendah. Sebaliknya, fertilitas tinggi ditemukan di negara-negara Muslim dengan tingkat kesejahteraan rendah. Artinya, faktor utama bukan doktrin agama, melainkan kondisi ekonomi. Ketika kesejahteraan meningkat, ketergantungan pada institusi agama cenderung menurun. Inilah paradoks besar yang akan dihadapi dunia Islam dalam beberapa dekade ke depan: umat Islam bertambah secara jumlah, tetapi intensitas keberagamaan institusional berpotensi melemah seiring naiknya kesejahteraan.

Indonesia tidak berada di luar arus besar ini.

Pada era awal kemerdekaan, tingkat fertilitas perempuan Indonesia berada di kisaran hampir enam anak per perempuan. Kini angka itu turun drastis ke sekitar 2,1—mendekati batas replacement rate. Pada saat yang sama, GDP per kapita Indonesia melonjak dari sekitar 400–500 dolar pada era Soekarno menjadi hampir 4.700 dolar hari ini. Kombinasi dua faktor ini—turunnya fertilitas dan naiknya kesejahteraan—adalah indikator kuat bahwa Indonesia juga sedang bergerak menuju fase masyarakat dengan tingkat ketergantungan keagamaan yang lebih cair.

Namun di sisi lain, justru terjadi ekspansi besar-besaran lembaga pendidikan keagamaan.

Sejak 2010, jumlah pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan Islam meningkat signifikan. Data Kementerian Agama menunjukkan:

  • Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN): ±59 institusi
  • Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS): ±847 institusi
  • Total kampus keagamaan Islam: lebih dari 900

Sebagai perbandingan, total perguruan tinggi di Indonesia sekitar 3.200. Artinya, hampir sepertiga perguruan tinggi Indonesia berbasis keagamaan. Dari sisi jumlah lembaga, ini bahkan melampaui jumlah kampus di Amerika Serikat maupun Tiongkok jika dibandingkan dengan rasio populasi.

Di satu sisi, ini mencerminkan geliat besar pendidikan Islam. Di sisi lain, ini menyimpan persoalan serius: orientasi kuantitas jauh melampaui kualitas.

Di tengah tren global menurunnya afiliasi keagamaan formal dan turunnya angka kelahiran, suplai lembaga pendidikan Islam terus bertambah. Padahal, suplai calon peserta didik justru cenderung stagnan atau menurun. Jika tidak diantisipasi, banyak lembaga akan menghadapi krisis keberlanjutan, rendahnya kualitas akademik, dan ketimpangan kompetensi lulusan.

Ironisnya, pada sektor lain, justru terjadi “panen” peluang ekonomi keagamaan. Data Pew Research menunjukkan pertumbuhan signifikan pada sektor zakat, infaq, sedekah, haji, dan umrah, seiring naiknya kelas menengah Muslim. Artinya, dimensi ritual-ekonomi agama tumbuh, sementara dimensi institusional pendidikan berisiko kelebihan pasokan.

Inilah tantangan strategis Kementerian Agama dan ekosistem pendidikan Islam hari ini. Bukan lagi sekadar memperbanyak lembaga, melainkan:

  1. Mengonsolidasikan kualitas pendidikan keagamaan
  2. Menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan zaman
  3. Mengurangi ekspansi institusi tanpa daya saing akademik
  4. Mempersiapkan transformasi peran lembaga keagamaan di era masyarakat sejahtera

Jika tidak, pendidikan Islam akan menghadapi badai ganda: penurunan demografi peserta didik dan penurunan minat terhadap religiositas formal.

Gelombang global sekularisasi bukan ancaman teologis, melainkan tantangan tata kelola. Ia menuntut kesiapan institusi agama untuk bertransformasi: dari sekadar penyedia identitas religius, menjadi pusat keunggulan moral, intelektual, dan profesional.

Karena pada akhirnya, masa depan agama tidak ditentukan oleh berapa banyak lembaganya, melainkan oleh seberapa relevan dan bermutu perannya di tengah perubahan dunia.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PERNYATAAN SIKAP KETUA UMUM TPUA – Eggi Sudjana

Next Post

Kejahatan Yaqut Kepada Umat Islam: Quota Haji Baru Dicuri – Dimana Posisi Jokowi?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.
Feature

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif
Feature

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?
Feature

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026
Next Post
Kemenag Ungkap Alasan Tak Undang Muhammadiyah di Sidang Isbat

Kejahatan Yaqut Kepada Umat Islam: Quota Haji Baru Dicuri - Dimana Posisi Jokowi?

Ketua PWI Bekasi Ade Muksin Diduga Menipu Warga Malaysia dengan Modus KTA PPWI

Ketua PWI Bekasi Ade Muksin Diduga Menipu Warga Malaysia dengan Modus KTA PPWI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”
Crime

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

by Karyudi Sutajah Putra
April 15, 2026
0

Jakarta--FusilatNews - Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Universitas Indonesia (UI) serta ekspresi misoginis dan seksis yang mengarah pada normalisasi...

Read more
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Jawaban Nasdem Terkait Tudingan Uang Rp 30 M  Disita KPK, Akan Digunakan Untuk Keluarga Nyaleg

Tertipu, Ahmad Sahroni Berkasus dengan KPK?

April 11, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026
Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

Netanyahu, Trump, dan Iran: Tiga Pemain Dalam Satu Papan Catur Berdarah.

April 16, 2026
Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

Dua Partai di Amerika Sepakat Pangkas Pajak, Partai Indonesia Sepakatnya Memungut Lebih Banyak

April 16, 2026
Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

Paradox Partai-Partai dalam Sistem Presidensial Indonesia – Antara Kedaulatan Individu dan Oligarki Kolektif

April 15, 2026
Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

Pariwisata Inklusif: Kebijakan Nyata atau Sekadar Ilusi?

April 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

Pulau Dijual Terang-terangan, Negara Baru Bereaksi Setelah Viral

April 16, 2026
Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

Skandal Pemerasan di Yogyakarta: PPWI Laporkan Oknum Imigrasi atas Dugaan Pemerasan Rp450 Juta terhadap Investor Asing

April 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist