Tokyo, Jepang — Otoritas Jepang mengeluarkan peringatan heatstroke di sejumlah wilayah pada Rabu (18/6), menyusul lonjakan suhu ekstrem yang memicu puluhan kasus kegawatdaruratan medis di ibu kota Tokyo.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat suhu tertinggi untuk bulan Juni di 14 kota, dengan suhu di pusat Tokyo mencapai 34,4 derajat Celsius. Situasi ini kembali menyoroti dampak perubahan iklim, setelah musim panas tahun lalu tercatat sebagai salah satu yang terpanas dalam sejarah Jepang.
Setidaknya 57 orang dilarikan ke rumah sakit di Tokyo akibat gangguan kesehatan terkait panas ekstrem pada Rabu, menyusul 169 kasus serupa yang tercatat sehari sebelumnya. Di wilayah lain, tercatat sedikitnya tiga kematian akibat heatstroke sepanjang pekan ini.
“Saya rendam syal ini di air, lalu saya lilitkan di leher. Rasanya menyegarkan. Dan saya juga pakai payung ini, yang bisa menahan cahaya dan panas,” ujar Junko Kobayashi (73), salah seorang warga Tokyo yang mengenakan pakaian anti panas kepada AFP.
Sementara itu, lansia lainnya berupaya mengurangi aktivitas luar ruang demi mencegah risiko heatstroke. Naoki Ito (80), misalnya, mengaku rutin minum air meski hanya dalam tegukan kecil. “Tidak perlu meneguk besar, cukup sedikit-sedikit. Yang penting konsisten,” katanya.
Pemerintah Jepang secara rutin mengimbau warganya, khususnya kelompok lansia, untuk berlindung di ruangan berpendingin udara selama musim panas. Data menunjukkan lebih dari 80 persen kematian akibat heatstroke dalam lima tahun terakhir melibatkan warga lanjut usia.
Fenomena ini terjadi di tengah lonjakan kunjungan wisatawan asing ke Jepang. Pada Mei lalu, jumlah pengunjung mancanegara meningkat 21 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Panasnya luar biasa,” ujar Jack Budd (31), wisatawan asal Australia. “Anginnya pun hangat, jadi sulit menghindari panas kecuali masuk ke dalam ruangan.”
Dengan suhu yang terus melonjak, perhatian publik Jepang kini kembali tertuju pada pentingnya adaptasi terhadap cuaca ekstrem yang makin sering terjadi akibat krisis iklim global.
© 2025 AFP
























