Fusilatnews – Paris — Dunia berada di ambang krisis yang tak bisa lagi ditepis. Lebih dari 60 ilmuwan terkemuka, dalam laporan terbaru yang dirilis Kamis ini, menyalakan sirene peringatan keras: semua indikator perubahan iklim kini berada di wilayah tak dikenal. Pemanasan global, emisi karbon, hingga kenaikan permukaan laut mengalami percepatan yang mencengangkan—melampaui proyeksi ilmiah sebelumnya dan menciptakan ancaman yang makin nyata bagi umat manusia.
Laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Earth System Science Data ini menyampaikan fakta mengejutkan: rata-rata emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi telah mencapai rekor 53,6 miliar ton per tahun dalam satu dekade terakhir—setara dengan 100 ribu ton per menit. Tahun 2024, emisi mencapai titik tertinggi dalam sejarah.
Lebih parah lagi, suhu rata-rata permukaan bumi pada 2023 secara resmi menembus ambang batas 1,5 derajat Celsius. Ambang ini bukan sekadar angka simbolis. Ini adalah garis merah yang oleh sains telah dipatok sebagai batas atas untuk mencegah bencana iklim yang tak terkendali. Dan menurut perhitungan terbaru, “anggaran karbon” dunia—jumlah emisi yang masih bisa dikeluarkan jika ingin tetap di bawah 1,5°C dengan peluang dua-pertiga—akan habis dalam waktu hanya beberapa tahun ke depan.
“Ini saat genting,” kata Joeri Rogelj, profesor kebijakan dan sains iklim dari Imperial College London. “Tiga hingga empat dekade ke depan akan menentukan apakah kita masih bisa mengendalikan pemanasan atau tidak.”
Ironisnya, investasi global dalam energi bersih memang telah melampaui dua kali lipat dibandingkan investasi pada minyak, gas, dan batu bara. Tapi kenyataan tetap pahit: lebih dari 80 persen konsumsi energi dunia masih bergantung pada fosil. Pertumbuhan energi terbarukan, meskipun meningkat, belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan energi baru.
Sementara itu, permukaan laut naik dengan laju yang kian mencemaskan. Jika pada abad ke-20 laju kenaikannya di bawah 2 mm per tahun, kini sejak 2019, angka itu melonjak menjadi 4,3 mm per tahun. Dalam 125 tahun terakhir, permukaan laut telah naik setinggi 23 cm—cukup untuk menenggelamkan pulau-pulau kecil dan melipatgandakan daya rusak badai di kawasan pesisir. Jika tren ini terus berlanjut, tambahan 20 cm hingga tahun 2050 bisa menimbulkan kerugian banjir senilai satu triliun dolar AS per tahun di 136 kota pesisir besar dunia.
Yang lebih mencemaskan adalah ketidakseimbangan energi Bumi: perbedaan antara energi matahari yang masuk dan yang keluar dari atmosfer. Ketidakseimbangan ini kini hampir dua kali lipat dari dua dekade lalu. Lautan, yang selama ini menyerap 91 persen panas akibat ulah manusia, mulai menunjukkan batas kemampuannya. Tidak ada yang tahu sampai kapan samudra bisa menjadi perisai pelindung.
“Jika Anda melihat pembaruan tahun ini, hampir semua indikator bergerak ke arah yang salah,” ujar Piers Forster, kepala Pusat Masa Depan Iklim Priestley di Universitas Leeds, yang juga merupakan penulis utama studi ini. “Saya orang yang cenderung optimis, tapi data ini sangat mengkhawatirkan.”
Dalam kondisi seperti ini, upaya bersama global seharusnya menjadi hal yang niscaya. Namun sayangnya, politik internasional justru bergerak mundur. Penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris dan pembongkaran kebijakan iklim domestik oleh Presiden Donald Trump menjadi preseden buruk yang bisa melumpuhkan semangat negara lain untuk memperkuat komitmen mereka.
Para ilmuwan menggarisbawahi bahwa dampak iklim yang lebih parah dari yang sudah kita rasakan saat ini sudah tak terhindarkan dalam satu hingga dua dekade mendatang. Tapi setelah itu, masa depan tetap berada dalam genggaman kita.
“Kita akan segera mencapai 1,5°C, tapi apa yang terjadi setelah itu tergantung pada pilihan yang akan diambil,” ujar Valerie Masson-Delmotte, mantan ketua bersama IPCC.
Pertemuan puncak iklim akhir tahun ini di Brasil menjadi momentum kritis. Tapi waktu tidak berpihak pada kita. Dunia harus bertindak sekarang—dan bertindak besar—sebelum semua indikator berubah dari merah menjadi hitam.




















