Jakarta – FusilatNews.--Rasa penasaran publik itu terjawab sudah. Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan, yang juga sahabat Prabowo Subianto, mengonfirmasi keretakan hubungan Presiden RI itu dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Dalam sebuah podcast di Madilog baru-baru ini, Syahganda mengakui hubungan Prabowo-Jokowi memang sedang mengalami dinamika yang merenggang pasca-transisi kekuasaan.
Renggangnya hubungan tersebut ia sinyalir terjadi akibat perbedaan kepentingan politik, penyusunan masukan kebijakan strategis—seperti program makan bergizi gratis dan swasembada—hingga dinamika posisi politik keluarga besar Jokowi ke depan.
Keretakan hubungan Prabowo-Jokowi setidaknya terindikasi dari dua peristiwa. Pertama, dilepaskannya Roy Suryo dan Tifauziah Tyassuma, tersangka fitnah dan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu Jokowi oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, di mana sebelumya keduanya ditahan oleh Polda Metro Jaya.
Kedua, safari politik Jokowi ke sejumlah provinsi yang dimulai dari Lampung, Jumat (26/6/2026) lalu demi membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Safari politik Jokowi ini diprediksi akan menggerus wibawa Prabowo, bahkan memunculkan isu “matahari kembar”.
Namun, kekhawatiran itu ditepis oleh Syahganda Nainggolan.
Meski ada indikasi dari kubu loyalis lama Jokowi untuk terus menjaga eksistensi politik demi proyeksi jangka panjang, hal tersebut diprediksi Syahganda tidak akan mampu menggoyang legitimasi Prabowo yang saat ini didukung penuh oleh parlemen dan mayoritas rakyat.
Syahganda menilai gebrakan Jokowi blusukan ke daerah-daerah tidak akan mengubah konstelasi politik nasional secara drastis.
Oleh karena itu, katanya, kekuatan politik riil saat ini mutlak ada di tangan Prabowo.
“Di mata Istana, gerakan Jokowi dan PSI itu kecil,” ungkap Syahganda, dikutip sebuah media.
Kecil? Mungkin saja. Sebab yang dirambah Jokowi baru Lampung. Jika nanti sudah merambah banyak provinsi, mungkin akan membesar dan menjelma bola salju bahkan badai dahsyat yang akan menyerang Prabowo.
Ihwal keretakan hubungan Prabowo-Jokowi ini sudah diprediksi sejak lama karena mulai terjadi perbedaan kepentingan: Prabowo akan maju lagi sebagai calon presiden di 2029, sedangkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, anak sulung Jokowi, akan maju sebagai capres. Gibran akan menantang Prabowo head-to-head.
Puncak keretakan Prabowo-Jokowi akan terjadi tahun 2027 ketika para elite politik sudah memasang kuda-kuda menghadapi Pemilu 2029. Tinggal setahun lagi. Namun keretakan itu kini sudah terkonfirmasi.



















