• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Generasi Z: Demokrasi yang Meninabobokan

Ali Syarief by Ali Syarief
October 9, 2025
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews – Generasi Z Indonesia tumbuh di zaman yang tampak bebas. Tak ada razia buku kiri, tak ada penangkapan aktivis di tengah malam, tak ada suara derap sepatu tentara di jalanan. Mereka lahir dan besar di era ketika demokrasi seolah sudah menjadi hal biasa — seperti udara yang dihirup tiap hari, ada begitu saja tanpa perlu diperjuangkan.

Namun di balik kenyamanan itu, ada ironi yang menggelitik: demokrasi yang mereka nikmati hari ini tengah menurun kualitasnya, sementara kepuasan mereka terhadapnya justru meningkat. Fenomena inilah yang disorot Burhanuddin Muhtadi, Eve Warburton, dan Matthew Gammon dalam penelitian bertajuk “Complacent Democrats: The Political Preferences of Gen Z Indonesians” yang terbit di Journal of East Asian Studies (2025).

Ketiganya menyebut Gen Z Indonesia sebagai “demokrat yang terlena” — kelompok yang mengaku mendukung demokrasi, tapi tak lagi waspada terhadap ancaman di baliknya.


Demokrasi Tanpa Rasa Cemas

Penelitian ini memanfaatkan 68 survei nasional dari 2003 hingga 2023 dengan lebih dari 149 ribu responden. Hasilnya cukup mencengangkan: mayoritas anak muda Indonesia menyatakan bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan terbaik. Tetapi dukungan ini bersifat dangkal—sekadar slogan, bukan keyakinan yang disertai kesadaran kritis.

Yang lebih mengejutkan, generasi muda ini juga merasa paling puas terhadap cara demokrasi dijalankan di Indonesia, meskipun selama sepuluh tahun terakhir negara ini mengalami kemunduran dalam kebebasan sipil, independensi lembaga, dan transparansi kekuasaan.

Demokrasi di mata mereka tampak aman dan baik-baik saja. Padahal, dalam banyak hal, Indonesia kini lebih mirip demokrasi yang dikontrol dari atas — di mana kebebasan berbicara dijaga agar tidak terlalu keras, dan partisipasi publik diarahkan agar tidak terlalu kritis.


Dukungan yang Keliru

Kepuasan Gen Z terhadap demokrasi menemukan manifestasinya yang paling jelas di Pemilu 2024. Exit poll menunjukkan sekitar 71 persen Gen Z memilih Prabowo Subianto — sosok dengan rekam jejak kuat di masa Orde Baru, rezim yang justru menjadi antitesis demokrasi.

Bagi banyak anak muda, Prabowo bukanlah mantan jenderal dengan bayangan masa lalu, melainkan figur karismatik yang tampil jenaka di TikTok. Politik bagi mereka bukan lagi arena gagasan dan perdebatan, tetapi konten hiburan yang dikonsumsi dalam bentuk potongan video dan meme.

Maka batas antara otoritarian dan demokratis menjadi kabur. Slogan-slogan demokrasi dikutip tanpa konteks, kritik sosial direduksi jadi tren digital. Inilah wajah baru demokrasi yang meninabobokan — ramai, tapi tanpa kedalaman.


Lalai dalam Kebebasan

Menurut penelitian tersebut, Gen Z masuk ke dunia politik pada masa pemerintahan Jokowi — periode yang relatif stabil dan sejahtera secara ekonomi, namun diwarnai pelemahan lembaga demokrasi. Mereka tumbuh dalam suasana “normal” di mana represi tidak lagi tampak kasar, tapi justru hadir dalam bentuk yang lembut: pembingkaian media, kriminalisasi selektif, dan kooptasi elite.

Karena itu, mereka tak lagi merasa perlu curiga terhadap kekuasaan. Demokrasi dianggap aman, padahal sedang perlahan direbut. Seperti katak dalam air mendidih, generasi ini mungkin baru sadar ketika sudah terlambat.


Menjaga Kewaspadaan

Kelemahan demokrasi hari ini bukan karena dibenci rakyatnya, tetapi karena diabaikan oleh mereka yang seharusnya menjaganya. Penelitian Muhtadi dkk. menjadi pengingat penting: demokrasi tidak runtuh dalam sekejap, melainkan pudar karena generasi mudanya berhenti peduli.

Mendidik kewaspadaan demokratis kini menjadi tugas besar: melalui pendidikan, media, dan ruang publik yang menumbuhkan keberanian berpikir kritis. Demokrasi tidak cukup hanya dirayakan di TPS atau media sosial, tapi juga dipahami dan dikawal.

Sebab tanpa kesadaran itu, generasi muda Indonesia akan terus menjadi “demokrat yang puas”—bebas tapi tak peduli, kritis tapi hanya di kolom komentar, hidup dalam demokrasi yang perlahan kehilangan rohnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KAHMI Foundation Santuni 45 Yatim SDIT Arahman Saharjo

Next Post

Kebanyakan Sorotan, Gibran pun Merasa Singa

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai
Economy

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026
Economy

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil
Feature

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Next Post
Kebanyakan Sorotan, Gibran pun Merasa Singa

Kebanyakan Sorotan, Gibran pun Merasa Singa

Indonesia Tegas: Visa Atlet Israel Dibatalkan, Solidaritas untuk Palestina Jadi Prioritas

Indonesia Tegas: Visa Atlet Israel Dibatalkan, Solidaritas untuk Palestina Jadi Prioritas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026
Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

Mungkinkah JK Juga Dilaporkan Jokowi? Tidak Mustahil

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

Reshuffle Kabinet Prabowo 27 April 2026: Daur Ulang Stok Lama atau Perawatan Penjilat?

April 28, 2026

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...