Fusilatnews – Ada pepatah lama yang sarkastik tapi jujur: “Too much attention makes a donkey think he’s a lion.” Terlalu banyak perhatian bisa bikin keledai merasa dirinya singa.
Dan entah kebetulan atau tidak, pepatah itu seperti diciptakan khusus untuk zaman ini — zaman ketika kamera, mikrofon, dan algoritma bisa mencetak “singa” dalam semalam.
Ambil contoh: Gibran Rakabuming Raka. Anak muda yang dulu cuma dikenal sebagai pengusaha martabak, kini menjelma jadi wakil presiden. Sebuah loncatan karier yang bahkan Superman pun mungkin akan minta resepnya. Semua berawal dari sorotan — perhatian media, dukungan politik, dan tentu saja, restu dari ayahanda yang masih menjabat.
Kini, di mana pun ia bicara, kamera berebut posisi. Apa pun komentarnya, headline langsung menunggu. Dan di situlah pepatah tadi bekerja: terlalu banyak tepuk tangan membuat seseorang lupa bahwa panggung bisa menipu.
Gibran mulai tampil dengan gaya singa — bicara pendek tapi menggelegar, ekspresi dingin tapi seolah penuh wibawa, dan tentu saja, mimik “gue gak takut siapa pun.”
Padahal, kalau dipikir jernih, wibawa sejati tidak datang dari sorotan, tapi dari substansi. Dari pengalaman panjang, dari kedewasaan politik, dari keputusan-keputusan besar yang mempengaruhi rakyat banyak. Sedangkan Gibran baru belajar mengeja kekuasaan — tapi sudah dikelilingi tepuk tangan yang memekakkan telinga.
Lucunya, masyarakat pun ikut larut. Begitu sering mendengar sorotan media tentang “kepintaran Gibran menjawab debat,” banyak yang lupa bahwa menjawab dengan lucu bukan berarti menjawab dengan cerdas. Tapi ya, di negeri yang lelah berpikir, gaya sering kali lebih penting daripada isi.
Begitulah cara dunia bekerja: ketika perhatian berlebihan menimpa seseorang yang belum siap menerimanya, lahirlah keledai yang yakin dirinya singa. Ia mengaum di depan kamera, tapi tak sadar suaranya hanya gema dari ruang kosong kekuasaan yang diwariskan.
Namun, kita juga tak perlu marah. Kadang, sejarah memang punya selera humor yang aneh. Ia suka melihat bagaimana seekor keledai bisa memimpin parade singa — setidaknya sampai tepuk tangan berhenti, dan panggung menjadi sunyi.
Barulah saat itu, keledai sadar: sorotan bukan cahaya matahari, tapi lampu sorot yang bisa padam kapan saja.





















