Fusilatnews – Kekuasaan, kata orang bijak, jarang berjalan sendiri. Ia selalu mencari kawan seperjalanan — bukan karena kesepian, melainkan karena takut kehilangan arah tanpa pengawal setia yang mengerti isyaratnya. Dari situlah lahir yang disebut genk dalam politik: sekumpulan orang yang lebih diikat oleh kesetiaan daripada oleh kebenaran.
Di republik ini, kita mulai mengenal istilah baru yang beredar lirih di warung kopi, di linimasa, di ruang redaksi: Genk Solo. Nama itu terdengar lucu, nyaris seperti lelucon, tapi di dalamnya tersembunyi ironi yang getir. Ia bukan sekadar kelompok dari satu kota di Jawa Tengah; ia adalah simbol tentang bagaimana kekuasaan tumbuh dalam bayang-bayang darah, kekerabatan, dan patronase.
Dalam politik semacam ini, meritokrasi berubah menjadi mitos. Yang dihargai bukan lagi kecakapan berpikir atau keberanian mengambil keputusan, melainkan seberapa jauh seseorang bisa menyesuaikan diri dengan keinginan sang pusat kekuasaan. Loyalitas menggantikan logika. Kedekatan menjadi mata uang yang paling berharga. Seorang yang lahir di tempat yang tepat, bergaul dengan orang yang tepat, bisa melesat jauh lebih cepat daripada mereka yang bekerja dengan otak dan hati.
Namun kekuasaan yang bertumpu pada genk punya kelemahan bawaan: ia rapuh. Ia hidup dari rasa takut kehilangan posisi, bukan dari keyakinan terhadap nilai. Di dalam lingkaran itu, kritik dianggap pengkhianatan, dan jarak dianggap ancaman. Kekuasaan menjadi cermin yang hanya memantulkan wajah sendiri.
Maka, demokrasi pun perlahan kehilangan suaranya. Partai menjadi formalitas. Pemilu menjadi ritus tanpa makna. Sementara di belakang layar, sebuah genk kecil menulis takdir bangsa dengan pena yang mereka rebut dari tangan rakyat.
Kita pernah berharap republik ini tumbuh karena ide, bukan karena ikatan darah. Tapi sejarah sering punya selera humor yang pahit: ketika negeri ini mengaku demokratis, justru di situlah nepotisme bersemi dengan tenang—dilindungi jargon persatuan dan dibungkus dengan kata “kebersamaan”.
Barangkali benar, seperti kata seorang filsuf: setiap kekuasaan yang terlalu lama bergaul dengan dirinya sendiri, akhirnya lupa bahwa ia hanya diberi mandat, bukan warisan.





















