Fusilatnews – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) seolah ingin tampil sebagai wajah baru politik Indonesia: muda, berani, progresif, dan bersih. Namun di balik citra segar yang mereka bangun, tersimpan kontradiksi besar yang justru mengguncang kredibilitas partai ini sejak awal langkahnya di gelanggang politik pasca-Pemilu 2024. Pertanyaan besar pun mengemuka: mengapa PSI tak berani terus terang mengungkapkan siapa sebenarnya sosok “Mr. J” yang menjadi Ketua Dewan Pembina mereka?
Publik tentu tahu, “Mr. J” bukanlah sosok asing. Nama itu dengan mudah menaut pada satu figur yang kini menjadi simbol kekuasaan itu sendiri—Jokowi. Walau PSI berupaya menutupi dan mengemasnya dengan misteri, rakyat Indonesia bukanlah penonton politik yang buta arah. “Man behind the gun” dalam politik modern selalu menjadi pusat perhatian. Figur menentukan arah, karakter, bahkan moral partai. Karena itu, langkah PSI menyembunyikan keterlibatan langsung Jokowi bukan hanya aneh, melainkan sebuah blunder strategis yang fatal.
Dalam iklim politik saat ini, ideologi sudah kehilangan daya jual. Publik tak lagi percaya pada jargon-jargon abstrak tentang keadilan sosial, kesejahteraan, atau solidaritas yang dikampanyekan dengan gaya anak muda. Yang menjual adalah figur—dan figur itu tak bisa disembunyikan. “Man make news,” kata pepatah lama dalam politik komunikasi. Dan ketika “man”-nya adalah Jokowi, maka semua narasi PSI, sebersih apa pun, akan terwarnai oleh bayangan kekuasaan yang melekat pada dirinya.
Masalahnya, bayangan itu kini bukan cahaya inspiratif, melainkan beban moral. Jokowi sedang menghadapi krisis integritas yang kian terbuka: tuduhan nepotisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan manipulasi politik yang mencoreng prinsip demokrasi. Publik sudah mencatat bagaimana anak-anaknya disebar ke berbagai jabatan politik seolah republik ini hanya milik satu keluarga. Dalam konteks itu, ketika PSI memilih menjadikan Jokowi (atau Mr. J) sebagai “Pembina Tersembunyi”, partai ini seolah sedang mengikatkan dirinya pada kapal yang sedang bocor.
Muncullah spekulasi di ruang publik: apakah PSI sengaja menutupi nama Jokowi karena sadar bahwa sang presiden sedang bermasalah besar? Apakah ini strategi untuk menjaga jarak secara simbolik agar partai tak ikut terseret saat badai kejatuhan kredibilitas Jokowi benar-benar datang? Jika benar demikian, ini bukan strategi, melainkan bentuk ketakutan politik yang justru menggerogoti karakter partai yang semestinya dikenal karena keberaniannya.
Analogi yang paling tepat mungkin seperti tubuh yang terserang kanker stadium akhir—penyakitnya sudah menyebar ke seluruh jaringan, bahkan perlu “cuci darah” moral dan etika. PSI, yang semula diharapkan menjadi antibodi bagi sistem politik yang kotor, kini justru tampak menjadi sel yang ikut terinfeksi.
Anak-anak muda yang dulu berteriak tentang transparency, integrity, dan accountability, kini memilih bungkam di hadapan figur yang mereka sembunyikan, padahal seluruh rakyat sudah tahu siapa dia. Ini bukan sekadar soal politik pencitraan, tetapi soal kejujuran intelektual dan keberanian moral—dua hal yang seharusnya menjadi DNA generasi muda.
Pada akhirnya, publik akan menilai: partai yang lahir dari semangat keterbukaan tak akan pernah bisa tumbuh jika fondasinya dibangun di atas rahasia dan kepura-puraan. PSI seharusnya sadar, menyembunyikan Jokowi bukan berarti menghapus bayangannya. Justru sebaliknya, bayangan itu kini menjadi lebih besar, lebih gelap, dan lebih membebani partai yang konon ingin menjadi pelita baru di tengah kegelapan politik Indonesia.




















