• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

HUJAN, HUTAN, DAN HUKUM YANG MELONGGAR

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
November 30, 2025
in Feature, Lingkungan Hidup
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, banjir bandang datang seperti sesuatu yang sudah lama menunggu giliran. Ia menuruni lereng-lereng Bukit Barisan dengan suara yang memecah tidur: gemuruh tanah, batang-batang pohon patah, bebatuan yang berguling mencari dataran rendah. Selebihnya, kita melihat apa yang selalu mengikuti bencana: rumah-rumah bersandar pada puingnya sendiri, keluarga mencari nama-nama yang hilang seperti mencari halaman terakhir dari sebuah kitab yang tak pernah rampung, dan suara tangis yang tak pandai membedakan antara kehilangan dan keterkejutan.

Di beberapa desa, arus deras menyapu jembatan gantung—struktur kecil yang selama puluhan tahun menghubungkan kampung dengan pasar, sekolah dengan dunia. Kini ia tergantung seperti ingatan buruk. Listrik padam, sinyal telepon hilang, dan bantuan datang tersendat oleh jalan yang runtuh dan lumpur setinggi lutut.

Korban jiwa tak lagi hanya angka dalam laporan. Ia adalah bapak yang memikul anaknya melewati arus, namun terseret saat kaki terpeleset batu licin. Ia adalah seorang ibu yang berhasil keluar dari rumah, tapi tak sempat kembali ketika suara dari kamar kecil memanggil. Ia adalah anak-anak yang kisah hidupnya berhenti begitu saja, seperti lampu minyak yang kehabisan sumbu.

Kerugian materi? Tentu: sawah tertutup lumpur, puluhan hektare palawija rusak, ternak hilang, rumah hanyut, tempat ibadah retak, dan sekolah-sekolah yang baru saja mengecat dindingnya kembali berubah menjadi ruang darurat. Tapi kerugian material selalu lebih mudah dihitung daripada kerugian yang lain—yang diam, yang tak tertulis di spanduk bantuan: hilangnya rasa aman.

Bencana ini datang setelah hujan yang, kata para ahli, melampaui kebiasaan. Curah hujan ekstrem, kita menyebutnya. Seolah-olah langit tiba-tiba memutuskan untuk menunjukkan bahwa ia juga punya batas kesabaran.

Namun langit bukan satu-satunya yang kehilangan kesabaran.

Langit yang Menjadi Peraga dari Kesalahan Kita

Ada waktu ketika hujan di Tapanuli adalah musim—ritme. Ia datang sebagai bagian dari hidup, disambut seperti tamu tahunan. Tetapi kini, ia datang seperti seseorang yang membawa kabar buruk. Intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir melampaui kapasitas sungai-sungai kecil yang selama berabad-abad mengatur hidup desa-desa di lembah.

Hujan ekstrem bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah tanda zaman. Ketika iklim berubah, ia tak datang dengan cara yang samar; ia menumpah. Dan ketika hutan tak lagi ada untuk melindungi, air yang turun hanyalah langkah awal menuju bencana.

Kita sering menganggap hujan ekstrem sebagai penyebab utama banjir. Tetapi hujan hanyalah pemicu; yang membuatnya menjadi bencana adalah apa yang terjadi jauh sebelum tetes pertama jatuh.

Luka yang Dibuka di Punggung Bukit Barisant

Tapanuli adalah tanah yang, sejak dulu, mencatat sejarah dengan pohon-pohon. Di lereng-lereng itu, hutan adalah penyangga, penahan, penyerap, dan peneduh. Namun dalam dua dekade terakhir, hutan-hutan itu berubah seperti halaman yang ditebang dari buku. Hilang. Gundul. Terbuka tanpa malu.

Di sana, perusahaan kayu meninggalkan jejaknya seperti bekas sayatan. Di sebelahnya, kebun kelapa sawit menjalar seperti sesuatu yang tumbuh tanpa niat berhenti. Pertambangan membelah bukit seperti membelah kulit buah yang padat. Semua itu dilakukan dengan nama yang menarik: investasi, pembangunan, kesempatan kerja. Kata-kata yang terlalu besar untuk melindungi kerusakan yang jauh lebih besar.

Ketika akar pohon dicabut, tanah kehilangan ingatan tentang bagaimana menahan air. Ketika lereng digaruk ekskavator, bukit kehilangan tubuhnya. Ketika hutan hilang, hujan tak lagi mengenali tempat untuk meresap. Ia berlari—liar—menuju desa, sawah, dan rumah.

Banjir bandang adalah pesan. Mungkin protes. Mungkin teguran. Mungkin hanya konsekuensi yang menolak ditunda lebih lama.

Kekuatan yang Mengubah Lansekap

Perubahan tutupan hutan di Tapsel dan Tapteng tak terjadi begitu saja. Ia mengikuti logika ekonomi yang menjanjikan keuntungan lebih cepat daripada menanam pohon kembali. Kelapa sawit menjanjikan devisa dan pertumbuhan. Tambang menjanjikan pemasukan daerah dan lapangan kerja.

Tetapi janji pembangunan sering bertransformasi menjadi izin yang meluas, pengawasan yang mengendur, dan ekspansi yang tak pernah dievaluasi ulang. Lembah yang dulu hijau kini menjadi mosaik kebun monokultur. Sungai yang dulu jernih kini menjadi coklat susu—campuran antara tanah longsor, limbah, dan ingatan tentang hutan yang hilang.

Di banyak titik, kebun sawit dibangun terlalu dekat dengan sungai. Di tempat lain, tebing ditebang untuk mempermudah akses jalan tambang. Semua itu seperti mematikan rem sebuah kendaraan di jalan menurun. Bencana tinggal menunggu momentum.

Ketika Hukum Mengendur dan Partisipasi Publik Dipreteli

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana semua ini mungkin?

Jawabannya, pelan tapi pasti, mengarah pada satu hal: kebijakan yang melonggarkan pagar. Kita pernah memiliki sistem perizinan yang mewajibkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sebagai syarat mutlak. Amdal bukan hanya dokumen; ia adalah pagar etis sekaligus pagar teknis: uji kelayakan atas dampak, mekanisme keberatan masyarakat, dan proses evaluasi yang tidak bisa dibeli dengan janji pertumbuhan ekonomi.

Namun Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) menggesernya. Amdal tidak lagi menjadi syarat bagi semua jenis kegiatan; ia berubah menjadi instrumen pengelolaan risiko yang, ironisnya, baru dinilai setelah izin diberikan. Bukan lagi penentu boleh tidaknya sebuah proyek dimulai, melainkan alat mitigasi ketika semuanya sudah terlanjur berjalan.

Dengan UUCK, pintu partisipasi masyarakat dipersempit. Ruang keberatan publik dipangkas. Komite-komite penyusun Amdal yang sebelumnya menghadirkan warga kini lebih teknokratis, lebih tertutup, lebih birokratis. Di banyak daerah, masyarakat baru tahu hutan mereka digusur ketika buldoser sudah datang dengan asap hitam di hidung knalpot.

UUCK adalah hukum yang percaya bahwa investasi adalah obat, dan bahwa pagar harus diratakan terlebih dahulu agar modal bisa masuk. Tetapi pagar yang diratakan itu adalah hutan, sungai, tanah ulayat, dan mekanisme kehati-hatian.

Banjir bandang di Tapsel dan Tapteng, dengan demikian, bukan hanya bencana alam. Ia adalah bencana kebijakan.

Apa yang Tersisa Setelah Air Surut

Ketika air surut, yang tertinggal bukan hanya lumpur. Ada pertanyaan yang menggantung seperti kabut di pagi hari: berapa lama lagi kita akan menunggu untuk memperbaiki arah?

Di desa-desa yang luluh lantak, orang-orang akan membangun kembali rumahnya. Mereka sudah terlatih hidup dengan kehilangan. Namun apakah kita, para pembuat keputusan, juga akan belajar?

Ataukah kita akan kembali pada pola yang sama: membiarkan izin meluas tanpa kontrol, menutup telinga ketika masyarakat protes, dan menganggap bencana sebagai takdir?

Bencana ini adalah cermin. Di dalamnya, kita melihat dua hal: keterbatasan sistem alam dan kelalaian sistem sosial. Di Tapsel dan Tapteng, keduanya bertemu, dan hasil pertemuan itu adalah kesedihan yang tak perlu.

Bangsa yang Kehilangan Hutan dan Kehati-hatian

Ada yang berubah dalam cara kita memandang alam. Atau mungkin, ada yang berubah dalam cara kita memandang hukum. Kita lupa bahwa alam memiliki memori, dan hukum seharusnya menjadi pelindung memori itu—bukan perusaknya.

Tapsel dan Tapteng mungkin akan kembali tenang setelah beberapa minggu. Sungai akan kembali pada alurnya. Warga akan kembali menanam. Jalan akan diperbaiki, dan pemerintah akan membangun posko, menyalurkan bantuan, dan mengadakan rapat koordinasi.

Tetapi hutan yang hilang tidak pulih secepat itu. Dan hukum yang longgar tidak akan menegakkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, banjir bandang bukan hanya air yang membawa lumpur. Ia adalah pesan yang membawa peringatan: bahwa dalam mengunyah hutan, mengabaikan Amdal, dan mengatur hukum seperti mengatur lampu lalu lintas untuk modal, kita sedang mengundang bencana berikutnya.

Dan seperti biasa, yang akan paling dulu tenggelam bukan hanya rumah kayu di pinggir sungai, tetapi kehati-hatian kita sebagai bangsa.===

Bekasi, 30 November 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dari Istana ke Rimba: Izin Turun, Banjir Naik – Jejak kebijakan hutan lintas-presiden, kritik global, dan sidang brutal dari alam Sumatera.

Next Post

Hukum Baru, Tradisi Bahasa Penjajah

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post

Hukum Baru, Tradisi Bahasa Penjajah

Pemerintah Pastikan Gelontorkan Beras cadangan di Perum Bulog Untuk Stabilisasi Harga

Beras: Senjata Sunyi Penentu Kekuasaan - BERAS SEBAGAI KOMODITAS POLITIK

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...