Iiyamashi-Nagano-Japan -Di sebuah kota kecil bernama Iiyama, yang terletak di Prefektur Nagano, Jepang, musim panas bukan sekadar perubahan suhu—ia menjadi ruang hidup bagi pertukaran budaya, pembelajaran bahasa, dan penemuan diri. Ali Syarief, tokoh cross culture asal Indonesia, kembali menginjakkan kaki di kota ini untuk yang ke-11 kalinya. Namun, baru kali ini ia menyaksikan Iiyama tanpa balutan salju.
“Biasanya saya melihat Iiyama hanya tertutup salju putih, membeku dan sunyi. Tapi kali ini, saya menyaksikan sisi lain dari kota ini—hamparan hijau yang alami, hangat, dan penuh kehidupan,” tutur Ali dalam sela kegiatan Summer Camp yang diselenggarakan oleh Hippo Family Club.
Kegiatan ini bukan sekadar perkemahan musim panas biasa. Di bawah naungan Hippo Family Club—organisasi internasional yang telah lama aktif mempromosikan pembelajaran multibahasa dan pertukaran budaya antarbangsa—program ini menghadirkan pengalaman imersif lintas negara. Anak-anak muda dari Jepang, Korea Selatan, Indonesia, Meksiko, hingga negara-negara Eropa berkumpul, tinggal bersama keluarga lokal (homestay), dan belajar berbagai bahasa secara alami sambil terlibat dalam aktivitas komunitas.
Iiyama: Dari Putih Membeku ke Hijau Menyegarkan
Ali menyebut kunjungannya kali ini sebagai pengalaman yang membuka perspektif baru. Jika selama ini Iiyama ia kenal sebagai surga ski dengan salju tebal dan suasana sunyi, maka musim panas justru memperlihatkan sisi lain: lanskap pegunungan yang hijau, udara segar, sawah terasering yang hidup, serta denyut aktivitas warga lokal yang menghangatkan.
Selain keindahan alam, Iiyama juga terkenal dengan infrastruktur pariwisata yang sangat mendukung. Kota ini terhubung dengan baik melalui jalur Shinkansen Hokuriku, memiliki fasilitas publik yang ramah wisatawan, serta ruang-ruang budaya seperti Mayumi Takahashi Doll Museum, jalur pendakian Shinetsu Trail, hingga festival bunga Nanohana dan Sakura yang menjadi daya tarik musim semi. Keunggulan lainnya adalah beras lokal Iiyama, yang kualitas dan kelezatannya menjadi simbol ketahanan pangan serta kebanggaan kuliner setempat.
“Pariwisata bukan hanya soal destinasi, tapi soal ekosistem. Pemerintah, masyarakat, dan komunitas harus terlibat bersama. Jepang menunjukkan bahwa pariwisata adalah urusan semua pihak,” tegas Ali.
Dialog Budaya dan Diplomasi Orang Biasa
Kunjungan Ali juga mencakup pertemuan resmi dengan Wali Kota Iiyama. Pertemuan ini bukan semata seremoni, melainkan simbol dari jalinan hubungan yang telah terbina selama lebih dari satu dekade antara Ali dan masyarakat Iiyama. Ia dikenal sebagai sahabat budaya kota ini—seorang “diplomat orang biasa” yang menghubungkan dua bangsa melalui nilai-nilai inklusif, saling pengertian, dan kerja sama antargenerasi.
“Saya sangat mengapresiasi bagaimana Iiyama dan Hippo Family Club membangun ruang bagi anak-anak muda dari berbagai negara untuk saling mengenal dan belajar satu sama lain. Ini adalah fondasi penting untuk menciptakan generasi global yang toleran dan berpikiran terbuka,” ungkapnya.
Ali melihat bahwa pertukaran budaya bukan sekadar interaksi seremonial, melainkan proses panjang untuk menumbuhkan pemahaman antarumat manusia. Dalam suasana yang cair dan terbuka seperti di Iiyama, anak-anak muda tidak hanya belajar bahasa asing, tapi juga belajar untuk melihat dunia dari kacamata orang lain.
Menginspirasi Generasi Muda Indonesia
Sebagai tokoh lintas budaya yang aktif dalam pendidikan global, Ali menyimpan harapan besar agar semakin banyak generasi muda Indonesia berani melangkah ke luar negeri, mengeksplorasi dunia, dan kembali dengan visi baru untuk bangsanya.
“Saya ingin lebih banyak generasi muda Indonesia berani keluar dari zona nyaman, mengenal dunia, dan kembali dengan semangat baru untuk membangun bangsanya,” pungkasnya.
Melalui perannya bersama Hippo Family Club, Ali telah menjelma menjadi jembatan hidup antarbudaya, membawa nilai-nilai Indonesia ke panggung global sekaligus membawa inspirasi dunia kembali ke Tanah Air. Dan di tengah hijaunya Iiyama, harapan itu tumbuh—seperti padi yang siap dituai dalam ladang peradaban yang lebih manusiawi.
Profil Singkat Iiyama-shi
Lokasi: Prefektur Nagano, wilayah Chubu, Jepang.
Julukan: “Kota Salju” karena curah salju tahunan yang sangat tinggi.
Akses: Dapat dicapai dengan Shinkansen Hokuriku (sekitar 2 jam dari Tokyo ke Stasiun Iiyama).
🌸 Destinasi Wisata Populer di Iiyama-shi
1. Nozawa Onsen
Desa pemandian air panas terkenal dengan suasana tradisional.
Dikenal juga sebagai resort ski kelas dunia.
Tersedia banyak soto-yu (pemandian umum gratis) dan ryokan tradisional.
2. Togari Onsen Ski Resort
Alternatif dari Nozawa, lebih tenang dan cocok untuk keluarga.
Tersedia area bermain salju untuk anak-anak dan pemula.
3. Shinetsu Trail (信越トレイル)
Jalur pendakian sepanjang 80+ km yang melintasi pegunungan antara Nagano dan Niigata.
Cocok untuk trekking, forest bathing, dan menikmati musim gugur.
4. Mayumi Takahashi Doll Museum
Museum boneka unik yang menampilkan boneka-boneka lucu karya Mayumi Takahashi.
Boneka ini menggambarkan kehidupan pedesaan Jepang dengan sangat realistis dan mengharukan.
5. Kuil Kosuge Shrine (Kosuge-jinja)
Kuil Shinto berusia ratusan tahun di tengah hutan.
Menjadi pusat spiritual warga lokal, terutama saat festival.
6. Taman Bunga Sakura Iiyama (Iiyama Nanohana Park)
Terkenal saat musim semi dengan kombinasi bunga sakura dan rapeseed (nanohana).
Sering dijuluki sebagai “pemandangan paling indah di Jepang” saat April.
🧘♂️ Wisata Budaya dan Tradisi
Zazen Experience: Beberapa kuil di Iiyama menawarkan pengalaman meditasi Zen.
Snowshoe Tour: Menjelajahi hutan bersalju dengan sepatu salju tradisional.
Festival Salju Iiyama (Iiyama Yuki Matsuri): Festival tahunan yang menampilkan pahatan salju raksasa dan pertunjukan budaya lokal.
🍱 Kuliner Khas Iiyama
Oyaki: Roti kukus isi sayur atau manisan, khas daerah pegunungan Nagano.
Soba Nagano: Mi soba buatan lokal dengan rasa khas dan disajikan dingin atau panas.
Kiritanpo: Makanan berbahan dasar nasi yang dibentuk seperti tongkat dan dipanggang, biasanya disajikan dengan sup.
🏡 Homestay dan Pengalaman Lokal
Iiyama mendorong green tourism dengan banyak rumah warga yang menyediakan penginapan bergaya minpaku (homestay). Wisatawan bisa:
Belajar bertani,
Membuat miso tradisional,
Atau ikut festival desa.
























