Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah siapa yang mengembuskan. Angin rumor itu begitu santer menyebar: Bahlil hendak didongkel!
Ya, berembus kabar ada upaya mendongkel Bahlil Lahadalia dari kursi panas Ketua Umum Partai Golkar lewat musyawarah nasional luar biasa (munaslub).
Musababnya ada dua. Pertama, ketidakpuasan kalangan internal Golkar atas kepemimpinan Bahlil. Kedua, Istana sudah tidak berkenan lagi dengan Bahlil karena dua hal: polemik tata niaga gas melon dan tambang di Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Satu lagi: Bahlil ternyata lebih setia ke Joko Widodo daripada ke Prabowo Subianto.
Meski rumor itu sudah dibantah, baik oleh Bahlil sendiri maupun Wakil Ketua Umum Partai Golkar Meutya Hafid yang juga Menteri Komunikasi dan Digital, serta Ketua DPP Partai Golkar Nusron Wahid yang juga Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, namun rumor sensitif itu tak kunjung mereda. Pasalnya, “kudeta” di tubuh Golkar adalah hal biasa.
Bahlil sendiri jadi Beringin-1 setelah melakukan “kudeta” terhadap Airlangga Hartarto, yang saat itu sudah tidak dikehendaki Istana lagi, melalui munaslub. Saat itu Airlangga menjabat Menteri Koordinator Perekonomian, posisi yang sama dengan saat ini.
Di sinilah berlaku “pakem” Ken Arok, di mana pemimpin yang lahir karena kudeta akan lengser karena kudeta pula.
Airlangga “dipaksa” mengundurkan diri pada 10 Agustus 2024 oleh Istana melalui permainan kasus hukum di Kejaksaan Agung.
Sebelum “dikudeta”, Airlangga juga membantah keras adanya isu munaslub di Golkar yang akan mendongkel dirinya. Bantahan serupa juga dilancarkan Bambang Soesatyo yang saat itu menjabat Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua MPR.
Namun akhirnya munaslub itu benar-benar terlaksana, dan Airlangga terlempar dari singgasananya.
Pesannya: kalau Istana sudah tidak menghendaki, apa pun bisa terjadi. Apalagi di Golkar, parpol yang memang betul-betul pragmatis.
Bahkan Beringin sempat dibelah oleh dualisme kepemimpinan antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono tahun 2014 hingga 2016, dan baru berakhir setelah Setya Novanto terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar dalam Munaslub di Bali tahun 2017. Tersandung kasus korupsi, Setya Novanto akhirnya digantikan Airlangga Hartarto.
Benarkah Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan tersingkir seperti Airlangga?
Kita tunggu saja tanggal mainnya. The invisible hands (tangan-tangan tak kelihatan) sedang bekerja. Klandestin. Di bawah tanah. Begitu muncul ke permukaan, tiba-tiba munaslub terlaksana.
Yang jelas, di dunia ini segala kemungkinan bisa terjadi. Apalagi di dunia politik. Tak ada kawan atau lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Hari ini kawan, besok lawan. Semua tergantung kepentingan.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















