Jakarta, Fusilatnews- 3 Juli 2025 — Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80 digemakan tak hanya sebagai perayaan nasional, namun juga sebagai momentum untuk menyerukan kemerdekaan bagi Palestina. Seruan ini disampaikan Wati Amhar, tokoh penggerak aksi “Aliansi Rakyat Bela Palestina”, dalam unjuk rasa bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah tokoh serta organisasi masyarakat di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Monas, Jakarta.
“RI sudah 80 tahun merdeka, tetapi saudara kita Palestina masih dijajah. Dunia wajib menjadi saksi atas genosida yang dilakukan Israel. Penjajahan ini dilakukan demi menyambut kedatangan Mesiah versi Zionis, dan ini tanda-tanda kiamat sudah dekat,” ujar Wati Amhar didampingi Jati Ningsih, pimpinan jamaah berkerudung biru yang turut dalam aksi.
Wati mengapresiasi langkah Presiden terpilih Prabowo Subianto yang telah mengagendakan dukungan konkret untuk kemerdekaan Palestina. “Syukur Presiden Prabowo kirim 4.400 ton bantuan makanan, dan bergabung dengan OKI mengirim total 10.000 ton. Beliau juga menolak rencana pengusiran warga Palestina keluar dari tanah airnya,” ungkapnya.
Wati juga mengusulkan agar Indonesia lebih aktif dalam perjuangan fisik membela Palestina. “Dulu peradaban dunia pernah besar di tanah Palestina, dari bangsa Kurdi dan Turki. Kini saatnya RI mempertimbangkan kirim pasukan TNI ke Palestina, tentu bersama Rusia dan China untuk menekan kekuatan senjata Israel,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, peserta juga menyerukan boikot terhadap produk-produk yang dinilai berkontribusi terhadap kekuatan ekonomi Israel, seperti Coca-Cola, McDonald’s, dan beberapa merek air mineral. Mereka juga mengimbau masyarakat membuat atribut kemanusiaan sebagai bentuk penolakan terhadap produk pro-Israel.
Aksi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh agama, antara lain Fadli Zon (Kemendiknas), Sudarmoto (perwakilan Kementerian Luar Negeri), anggota DPD Tamsil Linrung, ustaz Abdul Somad, Dasaad, mantan Ketua Umum MUI Din Syamsuddin, K.H. Cholil Nafis, Bachtiar Nasir, Fahri Hamzah, serta perwakilan dari Front Pemuda Maluku dan aktivis Marwan Batubara dan Mahdi.
Panggung aksi yang digelar pada pagi hari ini dipimpin oleh ustaz Zaitun Rasmin dan berlangsung damai dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.
























