Oleh: Entang Sastroatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
Program penyerapan gabah “any quality” oleh Perum BULOG menjadi perhatian penting dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional. Saat ini, BULOG menyerap gabah dengan berbagai kualitas, termasuk gabah bermutu rendah (any quality), sebagai bentuk implementasi arahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Ia menegaskan bahwa BULOG wajib membeli gabah petani tanpa terkecuali, dengan harga Rp6.500/kg, sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Namun, langkah ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah BULOG benar-benar siap secara infrastruktur dan manajemen untuk menangani volume besar gabah any quality yang penuh risiko? Ataukah justru ini menjadi bom waktu dalam sistem distribusi pangan nasional?
Tiga Langkah Awal BULOG
Setidaknya ada tiga strategi awal yang dilakukan BULOG dalam menghadapi realitas gabah any quality:
- Penyerapan Maksimal Saat Panen Raya
BULOG terus menggenjot pembelian gabah dan beras dari petani, terutama saat panen raya, untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). - Sewa Gudang
Karena kapasitas gudang BULOG di berbagai daerah telah penuh, langkah darurat pun diambil dengan menyewa gudang tambahan untuk menampung hasil serapan. - Pengawasan Kualitas
Di tengah meningkatnya volume, BULOG menerapkan pengawasan ketat di gudang agar mutu beras tetap terjaga, meski bahan bakunya berasal dari gabah berbagai kualitas.
Problem Riil di Lapangan
Meski strategi terlihat rapi di atas kertas, realitas di lapangan menunjukkan berbagai tantangan krusial:
- Keterbatasan Kapasitas Gudang
Gudang penuh tidak hanya berisiko terhadap penumpukan logistik, tetapi juga dapat menyebabkan penurunan kualitas beras karena buruknya sirkulasi dan manajemen penyimpanan. - Tingginya Risiko Kerusakan
Gabah any quality memiliki kadar air dan kotoran (hampa) tinggi, yang meningkatkan risiko pembusukan dan penurunan mutu selama penyimpanan. - Pengelolaan yang Tidak Efisien
Sistem logistik dan manajemen BULOG harus benar-benar adaptif dan berbasis teknologi agar proses penyimpanan dan distribusi tidak justru menjadi beban negara.
Strategi Jangka Menengah
Dalam jangka menengah, BULOG mencoba membangun fondasi yang lebih kuat melalui beberapa strategi tambahan:
- Optimalisasi Penyerapan
Target penyerapan hingga 30.000 ton gabah kering panen (GKP) per hari menjadi ambisi yang terus dikejar. - Sinergi dengan Petani dan Penggilingan
Kerja sama intensif dengan petani dan pelaku usaha penggilingan padi dilakukan untuk memastikan kelancaran pasokan dan peningkatan kesejahteraan petani. - Pembelian Sesuai HPP
BULOG tetap memegang prinsip pembelian sesuai HPP, meskipun kualitas gabah yang diterima sangat bervariasi.
Mengapa Program Ini Perlu Diteruskan?
Terlepas dari tantangan, program penyerapan gabah any quality memiliki sejumlah manfaat strategis:
- Meningkatkan Kesejahteraan Petani
Dengan menyerap gabah tanpa diskriminasi kualitas, petani tetap memperoleh nilai jual yang layak meski hasil panen tidak ideal. - Menjaga Stabilitas Harga
Intervensi BULOG di pasar mencegah anjloknya harga gabah pasca panen, yang kerap membuat petani merugi. - Mendorong Ketahanan Pangan
Dengan menambah cadangan beras nasional dari produksi dalam negeri, program ini memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan impor. - Menunjukkan Komitmen Pemerintah
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk swasembada pangan tanpa harus membuka keran impor.
Catatan Akhir: Harus Ada Koreksi Sistemik
Keberhasilan penyerapan gabah any quality tidak boleh hanya diukur dari kuantitas. Kualitas penyimpanan, manajemen distribusi, hingga integritas data serapan harus diperkuat. Jangan sampai niat baik menyerap gabah rakyat justru menjadi bumerang karena lemahnya eksekusi teknis di lapangan.
BULOG harus membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa menyerap, tetapi juga mampu mengelola dan mendistribusikan gabah dan beras dengan efektif. Jika tidak, program ini berisiko menumpuk masalah baru: gudang penuh, kualitas menurun, dan potensi kerugian negara yang tidak kecil.

Oleh: Entang Sastroatmadja-Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat























