Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Akhirnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) benar-benar berpaling dari Anies Baswedan dan bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM). Anies pun barangkali meringis, antara menahan sakit atau menertawakan kekonyolan PKS.
Diketahui, PKS ikut mendeklarasikan Ridwan Kamil-Suswono sebagai pasangan calon gubernur-wakil gubernur di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) 2024. Anies pun gagal maju sebagai cagub di wilayah yang pernah dipimpinnya itu.
Deklarasi Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat 2018-2023 dari Partai Golkar, dan Suswono, Menteri Pertanian 2009-2014 dari PKS, digelar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (19/8/2024) sore oleh 12 partai politik yang terdiri dari KIM plus PKS, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasdem, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Perindo, Partai Gelora dan Partai Garuda.
Adapun KIM, pendukung pasangan calon presiden-wakil presiden, Prabowo Subianto- Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Presiden 2024, terdiri atas Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Kini KIM pun berubah menjadi KIM Plus, dan karena mereka berkoalisi di Pilkada Jakarta, maka sebutannya kemudian menjadi Koalisi Jakarta Maju.
Sebelumnya, PKS sudah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai cagub yang dipasangkan dengan bekas Presiden PKS Sohibul Iman sebagai cawagub di Pilkada DKJ 2024. Namun, nama Sohibul ditolak Nasdem dan PKB yang sudah menyatakan mendukung Anies. PKS pun limbung.
Di Pilpres 2024, PKS, PKB dan Nasdem membentuk Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sebagai pasangan capres-cawapres.
Lalu, datanglah rayuan maut dari kubu KIM kepada PKS, PKB dan Nasdem. Konon, mereka menawarkan kursi kabinet di pemerintahan Prabowo-Gibran nanti asalkan mau bergabung mendukung Ridwan Kamil yang sudah lebih dulu dicalonkan Golkar.
Lantas, goyahlah iman politik PKS, PKB dan Nasdem. Apalagi PKS, karena Suswono adalah kadernya. Akhirnya terbukti iman politik PKS tipis juga seperti PKB dan Nasdem. Padahal PKS selama ini dikenal sebagai parpol militan, paling tidak tak sepragmatis PKB dan Nasdem. Faktanya, sama saja. Iman politik PKS pun tipis, sangat tipis, bahkan mungkin lebih tipis daripada kulit ari.
Anies Bunuh Diri
Anies Baswedan akhirnya gagal melaju di Pilkada DKJ 2024. Mengapa gagal? Karena tak ada parpol yang mengusung Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu.
Mengapa tak ada parpol yang mau mengusung Anies, padahal sejauh ini elektabilitasnya merupakan yang tertinggi di antara kandidat lainnya, termasuk Ridwan Kamil?
Sebenarnya ada parpol yang mau mengusung Anies, yakni PDI Perjuangan. Tapi partai yang dikomandani Megawati Soekarnoputri ini terbentur Pasal 40 Undang-Undang (UU) No 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang mensyaratkan jumlah kursi minimal 20 persen di DPRD untuk mengusung calon kepala daerah.
Dalam hal DKJ, jumlah kursi minimal yang dibutuhkan adalah 22 dari 106 kursi di DPRD. Sementara PDIP hanya berhasil mengoleksi 15 kursi di Pemilu 2024.
PKS sendiri sebagai pemenang Pemilu 2024 di Jakarta hanya berhasil menguasai 18 kursi DPRD. Jangankan PDIP, PKS saja tak bisa mengusung calon sendiri.
Harapan PDIP adalah berkoalisi dengan PKS atau PKB. Tapi keduanya sudah balik badan mendukung Ridwan Kamil-Suswono. Anies pun nyengir sambil gigit jari.
Ada dua faktor mengapa Anies gagal melaju di Pilkada DKJ 2024. Yakni, faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal? Pertama, Anies tak mau masuk PKS. Kalau mau masuk PKS, niscaya partai sejuta umat ini tak akan keukeuh mengusung Sohibul Iman yang membuat parpol lain enggan berkoalisi. Ketika kemudian Suswono dipinang KIM, kedua tangan PKS pun langsung terbuka lebar.
Kedua, Anies enggan maju dari jalur independen sebagaimana Dharma Pongrekun-Kun Wardana. Dalih Anies, dirinya sudah cukup lama bekerja sama dengan parpol, mulai dari Pilkada DKI Jakarta 2017 hingga Pilpres 2024.
Ketiga, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies memosisikan diri sebagai oposisi, antitesis atau bahkan rival Presiden Joko Widodo. Padahal gubernur adalah kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah.
Anies juga lebih banyak bermain politik dengan agendanya sendiri sehingga tak maksimal dalam mengurus banjir dan kemacetan lalu-lintas di Jakarta.
Itulah yang tercermin dari pidato Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah saat menghadiri deklarasi Ridwan Kamil-Suswono, sehingga KIM yang merupakan pendukung Jokowi dan Prabowo enggan mengusung Anies.
Faktor eksternal? Pertama, rayuan maut dari KIM kepada PKS, PKB dan Nasdem, yang sebelumnya mendukung Anies, untuk duduk di kursi kabinet Prabowo-Gibran.
Kedua, adanya dugaan intimidasi kepada elite parpol-parpol yang bermasalah hukum, sehingga mereka tersandera dan mau tidak mau harus memberikan dukungan kepada calon dari KIM yang didukung Presiden Jokowi dan Presiden terpilih Prabowo.
Hal ini disinyalir dialami Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sehingga mereka bergabung dengan KIM mendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.
Pun, mendukung cagub-cawagub yang diusung KIM di Pilkada DKJ 2024 yang akan digelar pada 27 November mendatang.
Mengapa PKS yang elite-elitenya sejauh ini relatif bersih dan tidak ada yang bermasalah hukum mau bergabung dengan KIM?
Barangkali mereka tidak merasa terintimidasi, tapi lebih tergiur dengan rayuan maut KIM untuk duduk di kabinet. Maklum, iman politik PKS ternyata tipis.
Terkait faktor internal, yakni Anies enggan masuk parpol (PKS) dan juga tak mau maju lewat jalur independen, serta semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta kerap berseberangan dengan pemerintah pusat, dapat diartikan gagalnya Anies melaju di Pilkada DKJ 2024 adalah akibat ulahnya sendiri. Ibarat bermain sepak bola, Anies melakukan gol bunuh diri. Setujukah Anda?
























