• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

INDONESIA: NEGERI PARA KOMPRADOR

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
February 3, 2025
in Feature, Politik
0
INDONESIA: NEGERI PARA KOMPRADOR
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Prihandoyo Kuswanto-Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Panca Sila

Komprador dikenal sebagai kelas sosial menengah yang berbeda dari masyarakat lainnya. Dalam perspektif Marxian-Maois, mereka disebut sebagai “kelas borjuis komprador”—sekelompok orang yang tidak memiliki kesetiaan terhadap negeri dan bangsanya. Komprador adalah mereka yang menjual kepentingan bangsa demi keuntungan pribadi, atau secara lebih radikal, dapat disebut sebagai pengkhianat.

Sejak UUD 1945 diganti dengan UUD 2002, negara ini mengabaikan perjanjian luhur serta tujuan bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Justru, banyak aparat pemerintahan yang berperan sebagai komprador. Pendukung demokrasi liberal tidak menyadari bahwa sistem ini pada akhirnya memperkuat oligarki, di mana kekayaan dan kekuasaan hanya berpihak pada segelintir orang, sementara rakyat kecil semakin tertindas. Buktinya, empat orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan setara dengan 100 juta rakyat Indonesia.

Ketimpangan Agraria: Negeri yang Dijual

Berdasarkan data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), sekitar 71% tanah di Indonesia telah dikuasai oleh korporasi kehutanan. Selain itu, 23% tanah dikuasai oleh korporasi perkebunan skala besar dan konglomerat. Sisanya, yang hanya sebagian kecil, dimiliki oleh masyarakat. Ketimpangan ini menjadi ancaman serius bagi kedaulatan bangsa. Jika tidak ada reformasi agraria yang nyata dan redistribusi tanah untuk rakyat, masa depan bangsa ini akan semakin suram.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) perlu direformasi secara mendasar. Banyak sengketa tanah di Indonesia terjadi akibat dominasi para komprador yang menduduki jabatan strategis di BPN. Bahkan, tidak hanya daratan, laut pun kini diberikan sertifikat kepada pihak tertentu demi kepentingan investor.

Oligarki dan Produk Hukum yang Menindas

Oligarki telah mengakar dalam tubuh pemerintahan Indonesia. Sekelompok kecil elite memiliki kuasa untuk mengendalikan negara dengan menciptakan produk hukum yang hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri, sementara hak-hak rakyat terpinggirkan. Contohnya adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang mendapat penolakan luas dari buruh, petani, perempuan, dan masyarakat adat, tetapi tetap disahkan oleh pemerintah dengan dalih kepentingan investasi.

Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2021 tentang Kemudahan Proyek Strategis Nasional (PSN) semakin memperlihatkan bagaimana hukum digunakan untuk merampas hak-hak rakyat. Data dari Catatan Akhir Tahun LBH Semarang 2020 menunjukkan bahwa sepanjang tahun tersebut terdapat 36 kasus pelanggaran HAM dengan 2.352 korban di Jawa Tengah. Sebanyak 24 kasus di antaranya berasal dari proyek-proyek strategis nasional yang mengakibatkan perampasan lahan secara paksa.

Konflik Agraria dan Perampasan Tanah

Perampasan tanah rakyat terjadi di berbagai wilayah, dari Wadas, Rempang Batam, Kalimantan, Sumatera, Halmahera, hingga Sumbawa. Konflik-konflik agraria yang melibatkan kekerasan oleh aparat keamanan semakin menguatkan peran para komprador yang menjadi kaki tangan oligarki. Beberapa kasus besar yang mencerminkan praktik ini antara lain:

  • Rempang Eco City,
  • Geothermal Poco Leok,
  • Bandara Kulon Progo,
  • Reklamasi Teluk Jakarta,
  • Eksplorasi nikel di Wawonii,
  • Perampasan hutan masyarakat adat Suku Awyu,
  • Penggusuran Tamansari,
  • Mafia tanah di Dago Elos.

Bukan hanya petani yang menjadi korban, tetapi juga nelayan yang kehilangan ruang hidup mereka akibat kebijakan pro-kapital yang semakin menggerus sumber daya alam demi kepentingan segelintir orang. Ironisnya, badan-badan yang mendapat legitimasi pemerintah seperti PSN, Badan Otorita Kawasan Pariwisata, dan Badan Otorita Ibu Kota Negara justru menjadi instrumen perampasan lahan rakyat dengan dalih pembangunan.

Dampak Demokrasi Liberal: Politik Transaksional

Hampir 25 tahun yang lalu, Indonesia mengubah UUD 1945 menjadi UUD 2002, yang disebut sebagai “amandemen” tetapi pada kenyataannya menggiring negara ini ke dalam sistem demokrasi liberal. Pancasila yang dahulu menjadi landasan bernegara kini diabaikan. Kaum intelektual kampus, guru besar, politikus partai, hingga ulama dan kiai turut terbius oleh sistem ini, yang pada akhirnya melahirkan politik transaksional. Demokrasi berubah menjadi ajang “siapa membayar, dia berkuasa”—politik uang merajalela.

Dengan sistem ini, banyak anggota DPR, gubernur, wali kota, dan bupati yang telah menjadi komprador, mudah dibeli dan tunduk pada kepentingan oligarki. Hal ini dapat dilihat dari lahirnya berbagai undang-undang yang justru merugikan rakyat. UU tersebut kemudian ditegakkan oleh aparat kepolisian dan militer dengan dalih hukum, yang pada praktiknya justru menindas rakyat kecil, seperti yang terjadi di Rempang dan Wadas.

Jalan Keluar: Kembali ke UUD 1945 dan Pancasila

Kerusakan yang terjadi di negeri ini sudah sangat parah. Tidak ada jalan lain selain kembali kepada UUD 1945 yang asli serta Pancasila sebagai ideologi negara. Hanya dengan demikian, kedaulatan rakyat dapat dikembalikan dan negeri ini terbebas dari cengkeraman oligarki serta para komprador yang menjual bangsa demi keuntungan pribadi.

Harapan besar tertumpu pada kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk menginisiasi gerakan nasional guna mengembalikan Indonesia kepada Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Tanpa upaya ini, Indonesia akan terus terjebak dalam sistem yang menindas rakyatnya sendiri dan memperkaya segelintir elite yang berkuasa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kebakaran Los Angeles Akhirnya Padam Setelah 3 Minggu, 29 Orang Tewas

Next Post

Mengapa Jepang Memperkuat Persahabatan dengan Indonesia

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda
Feature

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku
Feature

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026
Feature

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026
Next Post
Mengapa Jepang Memperkuat Persahabatan dengan Indonesia

Mengapa Jepang Memperkuat Persahabatan dengan Indonesia

Israel Membayar Kehancuran Gaza Dengan Kehancuran Ekonominya Sendiri

Israel Membayar Kehancuran Gaza Dengan Kehancuran Ekonominya Sendiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral
Feature

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

by Karyudi Sutajah Putra
June 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Entah siapa yang memberikan hak kepada Idrus Marham, sehingga bekas...

Read more
Rakyat Melawan!

Rakyat Melawan!

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026

Melampaui Tesis Satjipto Rahardjo

June 15, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Bayang-Bayang Luhut ke Kursi Menteri Keuangan

Rumor Reshuffle Makin Kencang, Kursi Menkeu dan Gubernur BI Dikabarkan Jadi Sasaran Perombakan Prabowo

June 15, 2026
Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

June 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...