• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

fusilat by fusilat
August 6, 2026
in Feature, Spiritual
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Paman BED

“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”

“Membumikan Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Tata Kelola Kehidupan.”


Ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: berapa banyak janji yang telah kita ingkari?

Kita sering mengingat janji kepada sesama manusia, tetapi lupa bahwa ada janji yang jauh lebih besar, lebih tua, dan lebih menentukan seluruh perjalanan hidup kita, yaitu janji kepada Allah SWT.

Bahkan sebelum manusia dilahirkan ke dunia, Allah telah mengambil kesaksian dari seluruh keturunan Adam sebagaimana firman-Nya:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”
(QS. Al-A’raf [7]: 172)

Inilah mitsaq, perjanjian agung antara manusia dengan Rabb-nya. Syahadat yang kita ucapkan ketika memeluk Islam sesungguhnya bukanlah janji yang baru, melainkan penegasan kembali atas ikrar yang telah diucapkan sejak alam ruh.

Karena itu, dua kalimat syahadat bukan sekadar identitas keagamaan. Ia adalah akad, pengakuan, sekaligus komitmen bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan sekaligus teladan yang wajib diikuti. Janji ini menuntut pelaksanaan secara kaffah, dipelihara dengan istiqamah, dan diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah mengetahui bahwa manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Oleh sebab itu, setiap hari Allah mendidik kita untuk terus memperbarui komitmen tersebut melalui salat. Bahkan sejak doa iftitah, seorang muslim kembali menegaskan arah hidupnya dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-An’am:

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan….”
(QS. Al-An’am [6]: 162–163)

Kalimat itu bukan sekadar pembuka salat. Ia merupakan deklarasi eksistensial bahwa seluruh dimensi kehidupan—ibadah, pekerjaan, kepemimpinan, keluarga, ilmu, harta, bahkan hidup dan mati—harus bermuara pada keridaan Allah.

Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya.

Banyak orang memiliki niat yang baik. Banyak pemimpin mengawali amanah dengan sumpah dan tekad yang mulia. Banyak orang berjanji akan berlaku jujur, amanah, dan adil. Namun niat hanyalah titik awal. Yang menentukan nilai seseorang bukanlah seberapa indah niatnya, melainkan seberapa lama ia mampu menjaga istiqamah ketika berhadapan dengan godaan.

Godaan terbesar tidak selalu datang dalam bentuk kemiskinan atau penderitaan. Justru lebih sering hadir melalui keberhasilan, kekuasaan, popularitas, pujian, dan kemewahan. Ketika dunia bergeser dari sarana menjadi tujuan, ketika jabatan berubah dari amanah menjadi alat mempertahankan kepentingan, di situlah manusia mulai menjauh dari janji yang pernah diikrarkannya.

Allah telah mengingatkan:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak-anak….”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Dan Allah kembali menegaskan:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-An’am [6]: 32)

Ayat-ayat tersebut tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Islam justru memerintahkan manusia membangun peradaban. Namun Al-Qur’an mengingatkan agar dunia tetap berada di tangan, bukan menguasai hati. Dunia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan tujuan yang dipertuhankan.

Di sinilah kita perlu jujur kepada diri sendiri.

Bukankah hampir setiap hari kita memperbarui janji kepada Allah melalui salat, tetapi pada saat yang sama masih sering mengutamakan kepentingan pribadi? Bukankah kita mengikrarkan bahwa hidup dan mati hanya untuk Allah, tetapi keputusan-keputusan kita masih dipengaruhi hawa nafsu, gengsi, ambisi, tekanan lingkungan, bahkan kepentingan sesaat?

Barangkali kita tidak pernah berniat mengingkari janji. Namun kelalaian sering datang tanpa disadari.

Kelalaian itu dapat muncul ketika memimpin sebuah negara, organisasi, perusahaan, koperasi, keluarga, bahkan ketika memimpin diri sendiri. Sebab pada hakikatnya, setiap bentuk kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu Al-Qur’an mengajarkan karakter utama orang beriman:

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami mendengar dan kami taat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 285)

Kalimat yang sederhana, tetapi sangat berat dalam pelaksanaannya. Mendengar tanpa memilih-milih. Taat tanpa menawar ketika perintah Allah berbenturan dengan kepentingan pribadi.

Iman melahirkan syahadat. Syahadat melahirkan Islam. Islam melahirkan amal saleh. Namun seluruh rangkaian itu hanya akan mencapai kesempurnaan apabila dijaga oleh ihsan, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat setiap niat, setiap ucapan, dan setiap perbuatan kita. Ketika ihsan hadir, integritas tidak lagi bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan manusia, melainkan lahir dari kesadaran bahwa tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan Allah.

Lalu bagaimana jika kita gagal?

Di sinilah tampak luasnya kasih sayang Allah. Dia tidak hanya memberikan aturan, tetapi juga membuka jalan untuk kembali. Jalan itu bernama istighfar.

Menariknya, Rasulullah SAW, manusia yang paling mulia dan telah dijamin ampunannya, justru menjadi teladan dalam memperbanyak istighfar.

Beliau bersabda:

“Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”
(HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan bahkan seratus kali sehari (HR. Muslim).

Mengapa Rasulullah SAW masih beristighfar?

Karena istighfar bukan sekadar permohonan ampun atas dosa. Istighfar adalah latihan kerendahan hati, proses muhasabah, sekaligus pengingat bahwa manusia tidak pernah selesai memperbaiki dirinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar kesadarannya akan keterbatasan dirinya.

Dalam perspektif tata kelola dan manajemen risiko, ancaman terbesar bukanlah kehilangan jabatan, kekayaan, atau kekuasaan. Risiko terbesar adalah ketika hati mulai merasa tidak lagi membutuhkan petunjuk Allah. Ketika amanah berubah menjadi kepentingan, ketika ibadah kehilangan ruhnya, ketika syahadat tinggal menjadi ucapan tanpa pengaruh terhadap keputusan-keputusan hidup.

Karena itu, istighfar dapat dipahami sebagai mitigasi risiko spiritual. Ia merupakan mekanisme koreksi diri yang terus-menerus agar niat tetap lurus, amanah tetap terjaga, hati tetap rendah, dan langkah selalu kembali ke jalan yang diridai Allah.

Penutup

Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia yang paling terkenal, paling kaya, paling berkuasa, atau bahkan tampak paling saleh di hadapan manusia. Kehidupan adalah perjalanan panjang untuk menepati janji yang pernah kita ikrarkan kepada Allah.

Syahadat adalah awal perjalanan itu. Salat adalah pengingatnya. Istiqamah adalah perjuangannya. Istighfar adalah jalan pulangnya.

Mungkin persoalan terbesar kita bukan karena pernah ingkar kepada Allah. Sebab tidak ada manusia yang luput dari khilaf dan kelalaian. Persoalan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti menyadari bahwa kita telah menyimpang, berhenti meluruskan niat, berhenti mengevaluasi diri, dan berhenti mengetuk pintu ampunan-Nya.

Padahal Allah Yang Maha Pengasih tidak pernah menutup pintu taubat selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Betapa kasih sayang-Nya selalu mendahului murka-Nya. Dia mengetahui kelemahan manusia, tetapi juga menyediakan jalan untuk bangkit setiap kali manusia jatuh.

Karena itulah Rasulullah SAW, manusia yang paling mulia, tetap membasahi lisannya dengan istighfar setiap hari. Beliau mengajarkan bahwa ukuran kedekatan kepada Allah bukanlah merasa paling benar, melainkan semakin besar kerendahan hati untuk terus memperbaiki diri.

Marilah menjadikan setiap salat sebagai momentum memperbarui janji kepada Allah. Jadikan doa iftitah bukan sekadar bacaan yang dihafal, melainkan deklarasi hidup yang diwujudkan dalam setiap keputusan, setiap amanah, dan setiap langkah kehidupan. Jadikan sami’na wa atha’na sebagai budaya dalam memimpin diri, keluarga, organisasi, perusahaan, hingga negara.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya janji yang pernah diucapkan, melainkan kesungguhan untuk terus menepatinya. Dan ketika langkah itu tergelincir, jangan pernah berhenti meluruskan niat, memperbaiki amal, serta membasahi lisan dengan istighfar.

Selama pintu taubat masih terbuka, harapan untuk kembali menjadi hamba yang menepati janji kepada Rabb-nya akan selalu terbuka. Itulah rahmat Allah yang paling besar: bukan karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena Dia selalu membuka jalan bagi kita untuk kembali.


Referensi

  • Al-Qur’an Surah Al-A’raf [7]: 172.
  • Al-Qur’an Surah Al-An’am [6]: 32 dan 162–163.
  • Al-Qur’an Surah Al-Hadid [57]: 20.
  • Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2]: 285.
  • Hadis Riwayat Al-Bukhari: Rasulullah SAW beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari.
  • Hadis Riwayat Muslim: Rasulullah SAW beristighfar seratus kali sehari.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo dan Tugas Sejarahnya: Memperbaiki Desain Negara, Bukan MBG

Next Post

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

fusilat

fusilat

Related Posts

Reshuffle Kabinet “4L”
Feature

Prabowo dan Tugas Sejarahnya: Memperbaiki Desain Negara, Bukan MBG

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚
Feature

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?
Feature

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

August 6, 2026
Next Post
Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan "Tek Off" untuk Cetak Generasi Mandiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik
News

Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik

by Karyudi Sutajah Putra
July 31, 2026
0

Jakarta – FusilatNews.- Peta politik menuju Pemilu Presiden 2029 mulai mengalami pergeseran signifikan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, muncul sebagai...

Read more

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

July 30, 2026
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

August 6, 2026

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

August 6, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Prabowo dan Tugas Sejarahnya: Memperbaiki Desain Negara, Bukan MBG

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

August 6, 2026
KNPI Sulsel Gandeng Bea Cukai Makassar, Perkuat Literasi Ekspor-Impor dan Pemberdayaan Pemuda

KNPI Sulsel Gandeng Bea Cukai Makassar, Perkuat Literasi Ekspor-Impor dan Pemberdayaan Pemuda

August 6, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

August 6, 2026

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

August 6, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...