• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Prabowo dan Tugas Sejarahnya: Memperbaiki Desain Negara, Bukan MBG

Ali Syarief by Ali Syarief
August 6, 2026
in Feature, Politik
0
Reshuffle Kabinet “4L”
Share on FacebookShare on Twitter

Presiden Prabowo Subianto memasuki masa pemerintahannya dengan berbagai program prioritas, salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut memiliki tujuan sosial yang penting: memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia, menekan stunting, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tidak ada yang salah dengan tujuan itu.

Namun, apabila dilihat dari perspektif pembangunan negara (state building), muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah persoalan terbesar Indonesia hari ini adalah kekurangan program, atau justru kelemahan sistem yang melahirkan dan menjalankan program-program tersebut?

Menurut hemat saya, tantangan terbesar Presiden Prabowo bukanlah menciptakan sebanyak mungkin program baru. Tugas sejarahnya adalah memperbaiki paradoks dalam desain hukum administrasi negara dan tata kelola pemerintahan Indonesia yang selama ini menjadi sumber berulangnya berbagai persoalan kenegaraan.

Selama bertahun-tahun, Indonesia mengalami paradoks yang menarik. Setiap Presiden datang membawa janji perubahan, tetapi ketika masa pemerintahannya berakhir, kritik yang muncul hampir selalu sama. Transparansi lemah, birokrasi lamban, koordinasi antarlembaga buruk, kebijakan sering berubah, partisipasi publik terbatas, dan akuntabilitas belum memadai.

Fenomena ini menunjukkan bahwa akar persoalan tidak semata-mata berada pada siapa yang menjadi Presiden. Yang lebih mendasar adalah desain sistem yang diwariskan kepada setiap Presiden.

Saya teringat pada metafora Prof. Mahfud MD yang pernah mengatakan bahwa “bahkan malaikat pun jika masuk ke sistem Indonesia akan menjadi iblis.” Terlepas dari sifat metaforisnya, pernyataan tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Sistem yang buruk memiliki kemampuan mengubah perilaku orang-orang baik. Sebaliknya, sistem yang baik mampu membatasi bahkan orang yang memiliki kecenderungan menyalahgunakan kekuasaan.

Negara hukum tidak dibangun atas asumsi bahwa semua pemimpin adalah negarawan. Negara hukum justru dibangun atas kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, sistem harus mampu mengendalikan manusia, bukan bergantung pada kebajikan manusia.

Di sinilah saya melihat bahwa pekerjaan terbesar Presiden Prabowo bukan sekadar menjalankan pemerintahan, melainkan melakukan reformasi terhadap desain hukum administrasi negara.

Selama ini hukum administrasi Indonesia masih memberikan ruang diskresi yang cukup luas kepada pemerintah, tetapi belum secara tegas mengharuskan keterbukaan sejak awal proses penyusunan kebijakan. Belum ada kewajiban hukum yang eksplisit untuk membuka naskah awal kebijakan, data pendukung, analisis yang digunakan, maupun alternatif kebijakan yang dipertimbangkan sebelum keputusan diambil.

Akibatnya, transparansi sering bergantung pada karakter Presiden atau menteri yang sedang menjabat. Jika pemimpinnya terbuka, pemerintah menjadi relatif terbuka. Jika pemimpinnya tertutup, sistem tidak cukup kuat memaksanya bersikap transparan.

Inilah paradoks negara hukum Indonesia. Kita berharap memperoleh pemerintahan yang akuntabel, tetapi instrumen hukumnya belum sepenuhnya mewajibkan akuntabilitas sejak proses perumusan kebijakan. Kita menuntut partisipasi publik, tetapi prosedurnya belum menjadi kewajiban hukum yang mengikat. Kita menginginkan transparansi, tetapi masih memperlakukannya sebagai pilihan politik, bukan sebagai kewajiban konstitusional dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan.

Karena itu, keberhasilan pemerintahan Prabowo tidak seharusnya hanya diukur dari berapa juta anak menerima makanan bergizi, berapa kilometer jalan dibangun, atau berapa persen pertumbuhan ekonomi dicapai. Ukuran yang lebih bersejarah adalah apakah pemerintahannya berhasil meninggalkan warisan kelembagaan yang membuat pemerintahan berikutnya menjadi lebih transparan, lebih partisipatif, dan lebih akuntabel.

Presiden datang dan pergi. Program pemerintah memiliki masa berlaku yang terbatas. Namun, reformasi sistem hukum dapat menjadi warisan lintas generasi.

Prabowo memiliki kesempatan yang jarang dimiliki seorang Presiden. Dengan dukungan politik yang relatif kuat, ia dapat memulai pembaruan besar terhadap hukum administrasi negara. Reformasi itu dapat diwujudkan melalui kewajiban konsultasi publik dalam setiap kebijakan strategis, kewajiban membuka data dan analisis yang menjadi dasar pengambilan keputusan, penguatan mekanisme pengawasan penggunaan diskresi, serta pembentukan standar akuntabilitas yang mengikat seluruh lembaga pemerintah.

Apabila reformasi tersebut berhasil dilakukan, manfaatnya akan jauh melampaui satu periode pemerintahan. Presiden berikutnya—siapa pun orangnya—akan bekerja di dalam sistem yang lebih baik. Kualitas pemerintahan tidak lagi bergantung pada kebajikan individu, melainkan pada kekuatan institusi.

Itulah sebabnya saya berpendapat bahwa tugas sejarah Presiden Prabowo bukan hanya menjalankan program-program pembangunan, melainkan membangun fondasi kelembagaan negara yang lebih kokoh. Sebab sebuah negara tidak menjadi besar karena banyaknya program yang dijalankan, tetapi karena kuatnya sistem yang menjamin setiap program dirumuskan secara transparan, dilaksanakan secara akuntabel, dan diawasi secara partisipatif.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Presiden bukan hanya apa yang ia bangun selama menjabat, tetapi sistem seperti apa yang ia wariskan ketika masa jabatannya berakhir. Jika Prabowo berhasil memperbaiki desain hukum administrasi negara dan tata kelola pemerintahan Indonesia, maka warisan itu akan jauh lebih bernilai daripada program apa pun. Program dapat berganti mengikuti zaman, tetapi sistem yang baik akan menjaga republik ini untuk puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

Next Post

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚
Feature

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?
Feature

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

August 6, 2026
Next Post

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan "Tek Off" untuk Cetak Generasi Mandiri

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik
News

Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik

by Karyudi Sutajah Putra
July 31, 2026
0

Jakarta – FusilatNews.- Peta politik menuju Pemilu Presiden 2029 mulai mengalami pergeseran signifikan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, muncul sebagai...

Read more

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

July 30, 2026
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

August 6, 2026

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

August 6, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Prabowo dan Tugas Sejarahnya: Memperbaiki Desain Negara, Bukan MBG

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦, 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚

August 6, 2026
𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

𝐌𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐏𝐫𝐞𝐬𝐢𝐝𝐞𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐌𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐭𝐞𝐦?

August 6, 2026
KNPI Sulsel Gandeng Bea Cukai Makassar, Perkuat Literasi Ekspor-Impor dan Pemberdayaan Pemuda

KNPI Sulsel Gandeng Bea Cukai Makassar, Perkuat Literasi Ekspor-Impor dan Pemberdayaan Pemuda

August 6, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

Tunanetra Tak Lagi Tertinggal di Era Digital, Gammara Inklusi dan Kita-Kita Tonji Luncurkan “Tek Off” untuk Cetak Generasi Mandiri

August 6, 2026

Ingkar Janji, Meluruskan Niat, dan Memperbanyak Istighfar

August 6, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...